Kumpulan Cerpen
Trending

Bukit PE

Setiap hari Minggu dan hari libur lainnya, ratusan bahkan ribuan orang dari berbagai wilayah, ramai mengunjungi sebuah perbukitan indah yang letaknya tak jauh dari kaki Gunung Rinjani. Bukit itu  letaknya sangat strategis, para pecandu alam dapat menikmati pemandangan yang indah, menyaksikan hamparan rumah adat yang tersusun bagai tumpukan benda-benda suci jaman purba. Di utara, hamparan tanah datar dan  tampak  tumpukan  kayu dari hutan yang telah di rambas tangan manusia, dan di Timur, tampak membungkuk puncak Gunung Punikan bagai sang kiayi yang sedang bersujud, menyembah Tuhan. Sementara di bagian Barat Laut tampak  bayangan merah menyala bagai jelaga api yang memuntahkan rasa amarahnya dari para dedemit yang ada di lereng Gunung mengawasi tingkah manusia yang ada di sekelilingnya.

Tempat ini dan sekelilingnya adalah tempat yang paling suci bagi semua mahluk yang ada  di nusa mungil ini. Tempat mensucikan jiwa manusia, melebihi kerinduan orang yang hendak berangkat ke tanah suci, tempat ini suci, bahkan melebihi tempat suci mana pun di dunia. Mereka yang datang ke wilayah ini, harus suci jiwa dan raga nya, tidak boleh berkata kasar, berbuat onar, berkelahi, bertengkar, memaki, mengejek, apalagi berzina dengan teman dan isteri temannya, bagai jemaah haji yang pergi ke tanah suci mekah, juga tidak boleh fusuqa, tidak boleh jidala, tidak boleh rafasya, itulah sejatinya tanah suci manusia pulau ini, yang dihadiahkan Tuhan ada semua mahluk yang hidup dan berkembang di nusa mungil ini.

Dari Pucuk puncak pusuk disebelah Timur, sejumlah garis sejajar lurus mengarah ke Barat, kearah tanah suci Gunung Rinjani yang Agung, dan diantara dua garis datar itu, terlihat garis datar yang lebih kecil, semua garis datar alam sesungguhnya adalah deretan  bubungan rumah dan berugaq yang melukiskan garis garis pada buku tulis dan setiap buku yang menjadi catatan sejarah masa mahluk manusia sejak jaman manusia pertama yang mendiami lembah subur yang dijanjikan Tuhan padanya. 

Diantara kedua kampung tua dan kampung yang lebih muda, Bumbung dan Lawang, seorang perempuan tua, duduk bersimpuh di dekat gundukan tanah kuburan anaknya yang baru saja meninggal 3 hari lalu sambil memegang sebuah kendi tanah liat yang berisi air, sejumlah sajian dari ketan dan lauk-pauknya, sambil menyanyikan lagu panggilan pada arwah anak yang dicintainya. ”Datangka epe mengan, ne bau isiq inaq juang epe jari sangun epe blayar”, dengan suara terbata,  perempuan itu tidak mempedulikan orang yang lalu lalang di elesan dekat tanah kuburan itu, dan aku yang menyaksikan nya ikut larut dalam kesedihan, dan  karena aku belum paham, kurogoh kantung celanaku untuk memberikan beberapa rupiah pada ibu yang sedang  bersedih itu, tangannya menolak dan kepalanya digelengkan  tanda penolakannya, “saya  tak butuh uang, saya bukan pengemis yang menangis pura pura agar orang lain kasihan pada saya, saya bukan penipu” kira kira itulah jawaban wanita tua, yang tidak mengenakan baju, kecuali kemben, wanita yang yang rambutnya acak acakan, wanita yang sedang menyanyi menghibur kerabatnya yang baru meninggal dunia, diatas gundukan tanah merah yang masih basah, yang disirami setiap pagi oleh sanak saudaranya. Mereka mencintai keluarganya, mencintai leluhurnya, mencintai tuhannya, mencintai alam sekitarnya, yang tak akan pernah dirusak, dihancurkan, apalagi dijual pada orang luar, alam adalah mereka sendiri. Menjual tanah, sama dengan menjual diri sendiri, menjual tanah leluhur, menjual Tuhan dan menjual semua arwah yang ada di sekelilingnya, mereka miskin tapi menolak  untuk  diberi, karena mereka punya harga diri.

Warna merah jingga yang mengitari lereng sakral itu adalah sorot mata para  dedemit, jin siluman, yang terus menerus  mengawasi perilaku manusia,khusus  bagi manusia yang mendiami kampung-kampung yang terletak dibawah Bukit PE, sangat jelas warna mata dan  rasa, mereka melihat dan mempedulikan lingkungannya, termasuk semua manusia dan mahluk tak kasat mata, tempat ini suci, harus dijaga, jangan dikotori, jangan diganggu, apalagi dibuang atau ditukar dengan kertas pada setiap yang punya kertas berwarna merah, bergambar manusia., uang. kepeng, doe banda, emas dan kemewahan.

        Ketika aku duduk di sebuah batu,dibawah undakan menuju Bukit Pe, seorang petani,empat puluhan tahun bertanya padaku, “Epe gen taeq bapak”?. Maksudnya mendaki Bukit Pe. Hari ini hari Sabtu, aku sendiri sedang memandang barisan manusia yang mendaki bukit Pe, para muda mudi, para layang dari berbagai kota.Para pemandu wisata, para pedagang asongan, para pelajar dan mahasiswa. Rupanya mereka akan menghabiskan akhir pekan nya di atas Bukit Pe. Bukit Pe sudah tersohor, sudah menjadi destinasi pariwisata, menjadi pundi pundi pemuda desa. Pokoknya Bukit Pe, adalah rizki, adalah keindahan, adalah kebebasan, adalah kenikmatan bagi siapapun yang merencanakan nya, tak ada larangan, tak ada hambatan, kesucian telah pupus, kedurjanaan sudah biasa.

“Ya. Aku akan naik”, “tapi koat  epe taek”?, laki laki petani itu bertanya padaku. Sudah selayaknya kemampuan ku mendaki diragukan, karena kenyataannya hanya anak muda,orang kota, mahasiswa, pelajar dan olahragawan para layang, yang mendaki Bukit Pe. Bukit ini tidak terlalu tinggi, mungkin hanya 450 meter saja tingginya. Tidak tinggi, saya pasti mampu mendaki nya. Aku harus mendaki, menikmati indahnya panorama  sore ini, lalu perlahan setiap tangga ku lalui, sampai di pertengahan jalan, beristirahat sejenak, minum air, bernapas,aku santai saja sendirian, tak hendak berkemah, tak hendak tidur di puncak, tak hendak terbang sebagai olahragawan para layang. Aku hanya ingin melihat  Bukit Pe menurut ceritra orang kota yang baru pulang dari Bukit Pe, indah, mempesona dan memanggil mu untuk kembali berkali -kali. Ketagihan kata teman tetanggaku, sambil menunjukkan photo photo  yang telah diambilnya dari atas Bukit Pe, beberapa waktu lalu.

Diluar dugaan, seorang teman yang telah lama ku kenal, dengan nafas terengah-engah turun dari atas bukit, lalu berhenti dan keheranan melihat ku sendirian sedang beristirahat diantara sepertiga perjalanan yang tersisa sampai ke puncak. Hari, nama temanku, lalu bertanya bagaimana aku sendirian duduk beristirahat di punggung bukit legendaris itu. “Pak,siapa temannya, kok disini?, mau naik ke puncak?” .Pertanyaannya panjang dan keheranan melihat ku, orang kota sendirian di punggung bukit, sementara dia sendiri sudah bermalam di bukit Pe dan hari ini bersama dua temannya sedang dalam perjalanan turun dari bukit.

“Sampai disini saja pak,tak perlu diteruskan” kata Heri padaku. “Emangnya kenape” tanyaku. “Tidak baik, banyak kotoran, plastik,dan banyak kondom. Banyak kondom berserakan dan bau amis sperma lelaki menusuk hidung”. Kedengaran sangat menjijikkan,tapi aku belum sampai puncak. “Akan kulihat ceritra anda” jawabku. “Tidak perlu, percaya saja pada saya” jawab Hari.Pandanganku menerawang kearah lembah di selatan bukit.Kulihat tumpukan rumah penduduk berserakan tak teratur,kulihat Gunung Rinjani berwarna merah muda, menyoroti semua tebing bukit dan lembah di sekitarnya. Semuanya tidak beraturan, susunan rumah yang dahulu melukiskan garis garis pada buku catatan, telah rusak berat, terpisah satu dengan lainnya. Lembaran buku dan catatan yang dahulu sangat rapi, kini telah berserakan setelah penduduknya merobek setiap halamannya. Merekalah yang merusak semua yang telah ditetapkan oleh nenek moyang dari orang suci masa lalu, merekalah yang merusak hutan dan mata air, merekalah yang menjual semua sawah, ladang, padang savanna dan tempat penggembala. Kini tak ada tempat penggembalaan, tak ada lagi sapi yang mendiami lembah dan savanna. Mereka tak mau memelihara sapi, terlalu banyak pencuri, terlalu banyak penipu, sudah banyak calo tanah, sudah banyak calo turis, sudah banyak perempuan yang bisa dinegosiasikan.

Perlahan, aku turuni setiap tangga yang tidak beraturan, sementara Hari masih saja mengumbar cela dan caci tentang bukit Pe mungkin bukit itu tetap baik dan menjanjikan, bagi mereka yang bersembunyi dibalik keindahan, sekaligus bersembunyi dari gunjingan, di bukit inilah ada kebebasan.

Bukit Pe, bukit ini, milikmu, milik semua yang ada di lembah ini. Pegas, baja pipih yang tajam adalah nilai-nilai yang kuat menjaga lembah ini. Pegasingan, bukan berarti di tinggalkan, diasingkan, apalagi dirusak dan dihancurkan, karena lembah ini adalah ulun sebuah tempat suci yang dituju dalam hidup ini, yang disembah. Menangislah Gunung Rinjani dan semua mahluk yang hidup di tempat ini!.

 

Selong, 14-09-2020

Menampilkan lebih banyak

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Lihat Juga

Close
Close
Close