Kumpulan Cerpen
Trending

Gegendang Bebeleq

Dengan suara agak emosi, ayahku berkata pada ibuku dan kepada siapa saja yang sedang duduk bersama dengannya di berugaq di depan rumah. Rumahku sendiri berdesakan dengan  rumah lain yang letaknya  tak jauh dari pinggir jalan di kota kecil  tempatku tinggal. “Balik badan mu dan jangan pernah melihatnya, semua kamu yang ada disini, jangan lihat rombongan itu, nanti akhirnya mereka akan malu,lalu berhenti mengganggu pengguna jalan”. Ayahku mengucapkan kata kata itu pada setiap saat jika rombongan gendang beleq lewat di di jalan raya, menari, menyanyi dan menutup jalan,lalu semua kendaraan besar dan kecil terpksa menghentikan perjalanannya. Macet !. Gendang beleq, gendang beleq. Benar benar besar, diameter dan jari-jarinya  40 cm dan panjangnya 200 cm, lebih panjang dari tukang gendangnya. Mungkin ini gendang terbesar di dunia.

Lagi ayahku melanjutkan uraiannya, “kegiatan berbaris di jalanan,memukul gendang, mengganggu kendaraan, bukanlah kebudayaan, melainkan gangguan saja, melainkan anti kebudayaan, melainkan anti toleransi bagi pengguna jalan” Tetapi mereka tidak salah kata ayahku kata ayahku melanjutkan” karena petugas kepolisian membiarkan mereka mengganggu lalu lintas tanpa mengurus ijin menggunakan jalan umum, jadi mereka tidak salah? lanjut ayahku. “polisi yang salah, membiarkan siapa saja menggunakan jalan secara semena mena, tak peduli orang lain rugi, jengkel, menggerutu, mengeluarkan sumpah serapah dan memaki ,polisi diam saja” kata ayahku menambahkan. ”Jangan-jangan polisinya yang takut akan diserang rombongan itu atas nama membela kebudayaan”, tambahnya.

Sebenarnya aku sendiri tidak paham apa arti dari ceramah dan pidato ayahku itu. Mungkin juga ibuku tak mengerti, tapi ibuku diam saja, tidak menimpali ceramah ayahku. Ibuku dan teman tetangganya ku tahu seringkali diam-diam mematung di pinggir jalan menyaksikan manusia berjoget di tengah jalan, sambil telinganya ditutup, khawatir gendang telinganya pecah karena bunyi gendang yang terlalu besar. Namanya saja gendang beleq, artinya gendang yang besar, ukurannya besar dan panjang, suaranya membahana  menyebabkan kota dan desa riuh rendah, apalagi  jumlahnya beberapa grup tidak tergantung berapa bayarannya untuk sekali tanggap, yang penting senang, biar miskin, biar tak ada uang yang dibawa pulang, yang penting banyak orang menonton, mereka mengira semua senang, padahal banyak yang mengeluh karena harus berbelok jalan, karena macet atau mengeluarkan kata kotor karena jengkel, jalan terus, joget terus, dan yang menanggap merasa bangga karena pestanya teramat ramai, walaupun undangan tak mampu disuguhkan santapan yang bergizi, yang penting semua sudah puas, gendang beleq, gendang beleq. Alangkah besarnya, alangkah ributnya dan alangkah menjengkelkannya, terutama bagi pengguna jalan, terutama bagi orang luar yang tidak paham gendang beleq itu apa, mengapa gendangnya sangat besar dan panjang dan mengapa harus menari di sepanjang jalan yang ramai yang sedang dilalui orang banyak?

Umurku lima tahun lebih sedikit, aku dan temanku sedang mandi di rumah tetangga di samping rumah orang tuaku. Aku tidak sekolah taman kanak kanak seperti anak lain, di desaku. Ayahku memberikan pendapatnya, “tidak perlu kamu masuk sekolah taman kanak-kanak, buang-buang waktu saja. Taman kanak-kanak sekarang hanyalah sandiwara” kata ayahku. “Semuanya dibuat buat, dikarang. Hiduplah kamu dengan anak-anak di kampung sejak kamu kecil”, kata ayahku lagi “Itulah taman kanak-kanak yang sebenarnya, bernyanyi dan berlari di gang kampung, di halaman rumah, memanjat tembok, memanjat pohon mangga yang ada di halaman rumah, itulah taman kanak kanak yang tidak dibuat buat, saya sendiri dulu dan ibumu, tidak pernah masuk sekolah taman kanak kanak, tapi ini lihat” katanya, sambil menunjukkan emblem merek kantor tempatnya bekerja “Saya bisa jadi seperti ini, bukan karena sudah masuk TK. Presiden Soeharto juga tidak pernah masuk TK”, tambahnya, saya tetap tidak paham, umurku masih lima tahun, usia taman kanak-kanak, lalu main dengkelek, main karet, saling berkejaran dengan anak seusiaku di kampung tempatku tinggal.

Umurku baru lima tahun, semua ceramah ayahku, mungkin ditujukan pada ibuku atau siapapun yang ikut mendengarnya, termasuk aku yang masih kecil ini. Aku sendiri tak mengerti kebudayaan  atau kesenian itu apa, mengganggu lalu lintas, polisi, semuanya aku belum paham. Tempat ayahku bekerjapun aku tak tahu namanya. Ayahku setiap keluar dari rumah,selalu bilang mau pergi rapat. Besok juga pergi rapat. Pernah tamu ayahku dari kampung, menanyakan di kantor mana ayahku bekerja.Kujawab ayahku bekerja di kantor rapat. Si tamu tersebut juga tidak mengerti,sama sama tidak mengerti, maklum orang kampung. Tapi aku senang tidak sekolah di TK,ada beberapa temanku juga tidak masuk TK, alasannya orang tuanya tidak mampu beli  pakaian seragam,beli tas,beli sepatu, bayar sekolah, sedangkan aku?, bukan karena ayahku tak mampu membayar semua itu, tetapi karena tidak percaya pada sekolah sandiwara. TK ayahku adalah apa yang sejatinya menjadi kehidupan anaknya dengan anak lain disekitarnya. Aku punya banyak teman dan setiap hari bermain dengan mereka, inilah taman kanak kanak ayahku, aku dan temanku, bernyanyi: kadal nongaq leq kesambiq, benang kataq setakilan ado denda, te ajah onyaq ndeqna matiq, laun salaq kejarian, ado denda” kunyanyikan  bersama dan ku dapatkan  secara spontan dalam permainan dengan teman temanku, bukan di dalam gedung taman kanak-kanak. Dan bila hujan turun semua pakaian yang melekat di tubuhku ku campakkan, lalu berlarian bersama kawan sekolahku, melewati gang kampung, halaman rumah bahkan sampai  ke tanah lapangan desa yang jauhnya lima ratus meter dari rumahku. Kami bermain dan bernyanyi, “gedeng pandan kayu lego,jeraq ujan sugul jelo”.

Sore ini, di hari Sabtu, aku sedang mandi dengan temanku, Emi, Dangol dan Udin. Aku mandi bersama di halaman belakang rumah Emi yng letaknya diutara rumahku, hanya dibatasi gang  kampung yang sempit. Menurut ayahku, aku sedang bersekolah di taman kanak-kanak alam, yang asli, bukan sandiwara, tak perlu bayar sekolah, tak perlu berpakaian seragam, tak perlu bersepatu lalu membawa ransel tempat makanan, atau membawa mainan dan buku buku jika tersedia. Aku hidup dengan sesama temanku, sebaya, bertetangga dan selalu saling memanggil satu dengan yang lain.

Tiba tiba, dug dag duk, duk dadaduk, gendang beleq, gendang beleq teriak Emi, lalu kami berhamburan bangun dari belakang rumah, meninggalkan ember besar yang berisi air. Dari arah Selatan, hanya beberapa puluh meter dari tempatku berdiri, jalan raya desaku telah dipenuhi oleh barisan orang membawa peralatan tetabuhan, berupa gendang, rincik dan alat lain yang tak kutahu namanya. Pakaian adat  dengan benang emas yang dikenakan menambah keindahan jalan desa yang biasanya ramai dilalui kendaraan dari arah kota. Beberapa perempuan muda berpakaian adat, di kepalanya terdapat aksesoris dari kembang emas yang diikatkan melingkari kepala, dan dua orang perempuan muda  mengapit perempuan yang rambutnya bergelung lilitan emas palsu. Di belakangnya seorang pemuda yang  tidak mengenakan baju, di kepalanya dilitkan ikat kepala dari bahan batik yang dirajut, yang menurut ceritra dibeli di pasar Badung di Denpasar Bali, lalu sebilah keris dililitkan pada lipatan kain batik yang dipakainya. Dua pemuda juga mengapit pemuda ini, beriringan dengan perempuan muda bergelung emas palsu yang berjalan lamban di depannya. Di belakang barisan, sejumlah lelaki dan wanita muda dan setengah baya, berbaris rapai memenuhi penampang jalan raya desaku. Tak ada jalan orang lain, tak ada kendaraan jenis apapun yang dapat lewat di jalan ini, semuanya berhenti, macet total. Jalan macet, gendang beleq menjadi raja jalanan hari ini, di sore hari ini.

Di baris paling depan, tiga orang yang usianya  sekitar tiga puluhan tahun berpakaian seragam adat, kain batik, ikat kepala batik, baju kuning keemasan, sambil menggendong  tiga gendang yang panjangnya masing masing dua meter, hampir memenuhi lebar jalan di desaku. Tiga orang ini,sambil memutar kepalanya ke kiri dan kanan, membuka kedua kakinya, lalu berjalan perlahan dalam gerak dan langkah yang  serempak, seperti robot yang sudah mahir dalam posisinya masing-masing. Dan ibu-ibu rumah tangga, mungkin juga ibuku ada dalam kerumunan di sepanjang jalan yang dilalui rombongan “Sai merariq”, sai merariq, sambil menyorotkan matanya kearah sepasang pemuda dan pemudi  yang berpakaian keemasan, yang melingkar gelung emas palsu di kepalanya. “sai meariq,sai merariq”, Gendang beleq, berjalan perlahan, paling cepat 43 menit/km. Begitu lama kendaraan macet tak dapat melanjutkan perjalanan dan pekerjaannya dan gendang beleq terus ditabuh, memekakkan telinga sepanjang jalan raya desaku. Aku silau, tergugah dan tak sadar, lalu aku dan temanku masuk kedalam barisan kelompok anak dan orang dewasa yang berjalan pelan dibaris paling belakang. Aku tidak tahu hendak kemana rombongan ini pergi, lalu aku ikut berjoget bersama anak anak dan orang dewasa yang berbaris tidak karuan memenuhi alur jalan dibelakang gendang beleq yang memekakkan telinga.Aku terus berjalan, berjoget, mengikuti irama gendang,dan aku tidak tahu hendak kemana, aku terus ikut jalan mengikuti rombongan. Mereka tidak tahu tentang  diriku, dan mereka tidak peduli mengapa anak sekecil diriku ikut dalam rombongan ini. Aku terus berjoget sambil ikut berjalan pelan pelan.

Aku tidak tahu jam berapa sekarang,tapi tiba tiba sore mulai  mendekati magrib, bayangan mulai samar samar dan tiba tiba suara gendang mulai diam.Berhenti,acara mengantarkan pengantin sudah sampai ke tujuan. Aku dan kawanku, tinggal berdua, yang lain telah bubar. Rombongan gendang telah pulang dijemput truk besar dan aku tidak tahu?, aku harus ke mana? gelisah dan takut ,karena aku tidak tahu dimana aku berada di senja ini,setelah lebih dari dua jam aku ikut berjalan tanpa sadar, mengikuti riuh rendah gendang beleq. Aku bingung, dengan Emi aku berjalan perlahan menyusuri jalan semula, dan kini  benar benar gelap menerpa sekelilingku dan suara azan magrib bersahutan dari berbagai kampung yang ada di sekitar jalan yang kulalui. Aku mulai merasa takut dan Emi diam saja, mungkin memendam rasa takut seperti aku.

Di rumah, ibuku dan ibu Emi, saling berpandangan, saling bertanya, dimana kedua anaknya. Ibuku baru sadar, ketika magrib, aku tak pulang dan ibu Emi berkeliling ke rumah tetangga menanyakan anaknya Emi. Kedua ibu, ibuku dan ibu Emi rupanya ikut larut menonton gendang beleq, ketika aku  sendiri menyusup ke dalam barisan  seni jalanan itu, “Mana anak itu,mana anakku”, tak ada yang tahu, tak ada yang menjawab. Ibuku sangat gelisah dan resah. Beberapa hari yang lalu tersiar kabar tentang penculikan anak untuk dijual, untuk dijadikan budak sebagai pengemis, sebagai obyek kejahatan pedopilia, untuk ,menjadi tumbal pembuatan jembatan. Banyak ceritra mengerikan menggumpal dalam benak ibuku. Pikiran ibuku   kacau balau dan  bagamana jika ayahku tahu, semua kejadian  yang kualami berkaitan dengan sikapnya yang melarang ibuku dan aku memandang barisan seni jalanan yang memekakkan telinga itu, justru menimpa diriku dan ibuku. Ibuku takut sekali, dan suasana semakin gelap. mana anakku, mana anakku, kedua ibu tegang, sedih dan takut.

———————-

Berjalan tak tentu arah, sambil bergumam dan menangis sedih, khawatir dan takut, semakin gelap dan suasana semakin sepi, seorang leleaki tetanga, Tuaq, “saya lihat Emi dan Zul tadi ikut sampai Pejarakan”. Oh, ibuku lega mendengar kabar  Kedan yang melihatku di desa Pejarakan. Pejarakan itu jauh sekali, lebih dari dua kilometer dari rumahku. “Alhamdulillah, pak Kedan dapatkah side mencarikan kdua anak itu”. Kedan, tanpa basa basi, memutar sepeda motor honda 70, mencari jejakku. Lalu, “Ne kanak ino, taek!” akupun lega sekali, Aku lega, aku takut, lalu hilang rasa takut, karena pak Kedan tetangga ibuku datang menjemputku dari hilang. Walau pak Kedan ikut memarahiku, akan tetapi aku tetap menyayanginya  sebagai  tetanggaku yang baik, seperti keluarga besar yang hidup bersama, di sudut desa, di pingiran kota ini.

Sekarang telah datang tahun dua puluh,dua puluh,usiaku dua puluh tahun,dua puluh bulan,jumlah mobil dijalanan bertambah dua puluh kali,sedangkan sepeda motor telah bertambah dua ratus kali. Gegendang bebeleq, bertambah dua kali, dan ada tambahan saudara gegendang bebeleq, kecimol. Para pemilik mobil yang sering macet di jalan menyebutnya kecimol, yang  disingkat dari kelalah cikar montor liwat. Terserah. Aku sendiri tidak marah,tidak kesal, walaupun jalan ku sering macet karena aksinya di jalan. Mobil milikku sebuah mobil feroza lanjut usia yang ku kredit dua tahun lalu. Mobil dan sepeda motor, mungkin juga dikredit oleh pemakainya. Kredit, kredit, kredit, dan ramai mobil dan sepeda motor lalu lalang di jalanan. Mereka kelompok tukang ambil kredit seperti juga aku, sedangkan toko mobil bekas, toko kredit, terus bertambah jumlahnya, bertambah untungnya. Dan tukang gendang? tukang kecimol? Dia tidak perlu mobil, tidak perlu sepeda motor. Mereka akan di jemput truk pengangkut, lalu berjalan menari dan bernyanyi. Mereka orang miskin, tapi tak punya hutang kredit, tak punya ruang untuk korupsi, tak ada cara untuk nyambi proyek. Mereka miskin, tetapi tetap menghibur dirinya dan menghibur ibu dan anak-anak yang ada di sekitarnya.

Hari Sabtu ini, aku menyetir mobil kreditan yang kumiliki dalam kecepatan tinggi. Aku dipanggil untuk mengikuti pemakaman kerabatku, nenekku, di Lombok Utara. Aku harus mempercepat laju kendaraan, karena waktunya hanya satu jam lagi, jam 16,00sore. Tibatiba di depanku, di jalan yang kulalui, segerombolan manusia, besar, kecil, tua muda, berjoget di hadapanku. Ini pesta rakyat, pesta gendang beleq, ada tiga kelompok gendang beleq, dari arah berlawanan. Jalan ini benar-benar telah menjadi lautan manusia. Tit,tit,tit. Klakson mobil ku hampir tak terdengar karena suara gendang beleq, dan semua menari mengelilingi mobilku. Kubuka jendela, dan ku teriakkan harapan memelas, ada orang meninggal, ada pemakaman, tolong beri aku jalan. Mereka mulai mengetok pintu mobilku. Aku merasa ciut dalam genggaman massa yang tak terkendali. Dari mulutnya tercium bau tuak yang menusuk. Jelas mereka minum tuak, karena mereka ingin memuaskan dirinya. Aku teringat nenekku, keluargaku yang sedang berkumpul di tanah kuburan. Aku terperangkap dalam kemacetan. Dan jam 5.15 sore barulah jalan lebih longgar, semua kendaraan beringsut pergi dan aku pun balik ke rumah, tak behasil menghadiri pemakaman nenek  yang ku cintai.

Dua puluh tahun yang lalu, ayahku melarang ibuku menonton gendang beleq, melarang siapa saja agar jangan menonton gendang beleq. Ini cara ayahku, agar jangan berpartisipasi pada kemacetan atau agar mengurangi jalan yang macet, agar gendang beleq dapat berjalan,agar mobil,cikar dan motor juga dapat berjalan pelan-pelan. Ku tahu ayahku sorang penyayang semua bentuk seni dari kebudayaan, beliau selalu mengajarkan padaku, tentang toleransi dan saling menghargai. Toleransi inilah kebudayaan, saling memahami, inilah kebudayaan cetus ayahku. Dan gendang beleq?, itu kesenian jawab ayahku. Aku mulai merenungi kata ayahku dua puluh tahun yang lalu, mengapa aku tidak disekolahkan di TK. Mengapa ibuku dilarang keluar rumah, lalu berdiri di pinggir jalan menonton aksi gendang beleq?. Mungkin ayahku punya pandangan sendiri tentang semua masalah keduniaan, mungkin ayahku menghargai gendang beleq,sebagai protes dari ketidak adilan, jangan diganggu jalannya, jangan diganggu jalan kendaraan, jangan marah pada siapapun yang tidak pernah merugikan orang lain, dan jangan marah walaupun aku gagal menghadiri pemakaman nenekku,Karena apa yang kulihat di jalan desa midang tadi sore itu adalah taman kanak kanak yang kekanakan. Tetapi itu dilakukan karena terpaksa, mereka tidak mampu membeli karcis bioskop, tak mampu membeli bir, wodka dan sampanye, cukup meminum tuak saja. Mereka tak mampu membeli mobil dan sepeda motor, mereka cukup jalan kaki. Bukankah jalan, laut, gunung, sawah, ladang, dan semua tanah ini milik leluhur mereka? Ya, tapi mereka tidak memilikinya sekarang, kecuali suara  gendang beleq dan kecimol.

 

Selong, 5 Agustus 2020

 

Menampilkan lebih banyak

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Lihat Juga

Close
Close
Close