Opini dan Artikel
Trending

Palestina dan Israel

Palestine and Israel

Israel, sebuah negara di Timur Tengah, berbatasan dengan Mesir, Yordania, Lebanon dan Suriah. Negara ini telah menjadi topik pembicaraan yang paling ramai di seantero dunia, sejak 1948 hingga sekarang ini. Pada dasarnya berdirinya negara baru Israel di atas tanah Palestina yang sudah didiami, diolah dan dikembangkan oleh orang Palestina Arab lebih dari 1400 tahun lamanya, tidaklah layak diambil begitu saja oleh  mereka yang menyebut dirinya berhak mengambilnya dengan dalih  sebagai tanah yang dijanjikan. Areal itu pada saat orang Israel dibawa oleh orang orang Inggris kedaerah jajahannya, sebenarnya adalah gambaran neo kolonialisme yang menjadi ciri dari sebagian besar bangsa-bangsa di Eropah. Ambillah contoh misalnya Indonesia dijajah oleh Belanda, India dijajah Inggris, Pilipina dijajah Spanyol, Timor-Timor dijajah oleh Portugis, dan hampir semua negara di Asia, Afrika dan Amerika Latin menjadi daerah jajahan mereka. Misalnya hak milik orang Indian di Amerika, di Australia, sangat mudah diambil dan diakui sebagai wilayahnya melalui peperangan yang singkat.

Jika seandainya pemerintah Inggris tidak merasa berhutang budi pada orang Inggris keturunan Yahudi, maka negara Israel tidak akan pernah ada. Orang Yahudi yang terdapat di berbagai belahan dunia telah menjadi bagian dari warganegara dari negara-negara tersebut. Mencari asal usul manusia, lalu dikembalikan dengan cara kekerasan wajar menimbulkan masalah besar dan kekerasan baru. Balfour declaration, untuk memberi balas budi kepada orang Yahudi atas jasanya membantu dalam perang dunia II, sebenanrnya sungguh tidak masuk akal. Buknkah mereka pada saat itu juga sebagai warga negara Inggris?. Baiklah, semua hal itu sudah terjadi, dan negara Israel sudah ada. Jika kita bahas soal masa lalu Israel, sama saja kita terlibat dalam pikiran kreator kolonialismenya. Kita harus mulai melupakan masa lalu dan membicarakan masa kini dan masa yang akan datang termasuk pembahasan kita tentang orang Palestina dan Israel dimasa kini dan bagaimana untuk masa yang akan datang.

Walaupun isu Israel Palestina terus akan bergulir dalam panggung politik internasional, mungkin sebaiknya kita tak mempunyai harapan bagi penyelesaian tuntas masalahnya dalam waktu dekat ini. Dunia sekarang jauh lebih rumit dan kompleks dibandingkan dengan masa 70 tahun yang lalu. Dunia Arab yang dahulu bersatu padu atas nama etnis Arab bagi orang Palestina, kini telah terpecah belah dalam berbagai kepentingan domestik dan geo politik baru pasca perang dingin. Karena itulah saya mempunyai pikiran sendiri bagaimana seharusnya masalah Palestina dan Israel diselesaikan dengan sebaik baiknya menurut kondisi kekinian seperti yang saya sampaikan diatas.

Naskah ini tidak menguraikan masa lalu hubungan Palestina dan Israel, lebih lebih jika dikaitkan dengan sejarah pengusiran orang Israel oleh Nebukadnezar dari Babilonia, kemudian diambil alih oleh Persia, lalu berpindah majikan ke penjajahan Romawi, kembali ke Persia lagi lalu pada  tahun 636, Umar Bin Hattab selaku khalifah menaklukkan Sam (Sirya), kemudian kepala pemerintahan Romawi di Yerusalem menyerahkan kota itu dalam kekuasaan Islam. Sejak itulah, orang Arab Palestina menjadi imam dan pemelihara Baitul Makdis yang dihancur leburkan orang dari kerajaan Romawi. Karena itu perjalanan sejarah ini juga patut dipertimbangkan dalam membahas hubungan Palestina dan Israel dewasa ini. Misalnya bagaimana raja Persia yang menaklukkan Babilonia, mengirim kembali orang Israel dari tawanan dan perbudakan yang dilakukan oleh bangsa Babilona dimasa lalu. Bagaimana Umar Bin Hattab memberikan hak yang sama terhadap semua pemeluk agama yang ada di kota Yerusalem, setelah kota tersebut jatuh ketangan orang orang Islam yang mengusir tentara Romawi dari seluruh daratan Israel dimasa lalu.

Israel yang kulihat.

Selama tujuah hari dibulan April 2019 yang baru lalu, saya berkesempatan datang ke beberapa kota Israel. Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, karena itu permit yang diberikan untuk memasuki wilayah itu hanya secarik kertas kecil, dengan tidak menempelkan tulisan satu katapun didalam lembaran pasport. Melalui pertanyaan yang bertele tele sambil memperhatikan wajah saya, petugas imigrasi diperbatasan masuk Israel dari Yordania,barulah secarik kertas diberikan pada setiap orang Indonesia yang masuk negara Israel tersebut.

Penulis saat berada di palestina

Israel menempatkan kantor imigrasinya, persis di perbatasan dengan negara Yordania, hanya beberapa meter dari jembatan pemisah antara negara Yordania dan Israel. Jembatan Raja Hasan yang membentang lebih dari tiga puluh meter diatas sungai Yordan yang airnya mulai keruh dan kotor. Pemerintah Yordania sendiri menempatkan kantor imgrasinya sekitar dua kilometer dari perbatasan dengan Israel. saya tidak tahu alasannya, apakah karena takut? Tapi jelas sekali perbedaan penampilan dan kedisiplinan diantara kedua negara itu sangat berbeda. Israel meletakkan petugas imigrasi dan tentaranya di border lansung, sementara Yordania bersembunyi di tempat yang lebih teduh dan sepi.

Israel dewasa ini negara yang sangat kuat secara militer, khususnya dikawasan Timur Tengah dan lebih khusus lagi jika dikaitkan dengan negara tetangganya,seperti Suriah, Yordania, Mesir dan Libanon. Dalam perjalanan sejarahnya Israel sejak berdiri ditahun 1947, beberapa kali diserang oleh persekutuan negara negara Arab. Secara umum semua perlawanan dengan mudah dapat dipatahkan. Satu peristiwa perang yang sangat memalukan negara negara Arab adalah perang tahun l967, perang yang berlangsung hanya satu minggu berakhir dengan pendudukan semenanjung Sinai kepunyaan Mesir  dan dataran Tinggi Golan, milik Suriah.

Kekalahan Mesir oleh Iseael yang sangat memalukan itu, memaksa negara itu harus berbuat baik dan bersahabat dengan Israel agar wilayah Sinai yang direbut oleh Israel dapat dikembalikan kepada Mesir, melalui perjanjian Camp David, dengan bantuan presiden AS Jimmy Carter pada tahun l978, dimana presiden Mesir Anwar Sadat dan perdana menteri Israel Menachem Begin menanda tangani perjanjian. Anwar Sadat akhirnya tewas ditembak oleh salah seorang tentara Mesir, tentu saja mereka yang menentang perjanjian tersebut.

Kedua negara tersebut  terpaksa duduk bersama, demi wilayahnya yang dicaplok Israel dalam perang selama seminggu di tahun 1967 yang lalu. Model negosiasi ini sejak awal menunjukkan negara negara Arab berada diposisi yang lebih lemah dibandingkan dengan Israel. Tentu saja peranan negara sponsor seperti Inggris mensuplai informasi intlijen tidak dapat diabaikan.

Mesir yang dianggap sebagai acuan negara Arab di Timur Tengah, yang dipandang paling hebat dan berpengaruh diantara negara negara Arab yang lain terlihat begitu terpuruk dalam perang selama seminggu pada tahun  1967. Mesir juga terpaksa membina hubungan yang baik dengan Israel melalui hubungan diplomatik, ketika negara Arab lainnya terus menyuarakan permusuhan dengan Israel. Jika demikian, maka terdapat berbagai masalah yang terjadi dalam hubungannya dengan sesama negara Arab, lebih lebih jika dikaitkan dengan hubungannya dengan Israel berkaitan dengan oang Palestina Arab yang masih dirundung permasalahan.

Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Dua wilayah yang secara umum oleh dunia internasional dianggap sebagai daerah yang secara de pacto didiami oleh orang Palestina adalah bagian kecil dari keseluruhan tanah Palestina dimasa lalu, yang tersisa dari bagian wilayah Israel dewasa ini, yang luasnya mencapai 20.700 km persegi termasuk Tepi Barat dan Jalur Gaza. Selain itu ada juga wilayah yang diduduki sejak perang Yom Kippur pada tahun 1973, lebih dari lima puluh tahun yang silam.

Jalur Gaza, adalah wilayah sempit yang terletak diperbatasan Sinai di Barat dan perbatasan Israel di bagian Selatan serta berbatasan dengan bagian dari laut Meditrania diseblah Utara. Wilayah ini rata rata lebarnya antara 7-12 km dan panjangnya tidak lebih dari 45 km persegi. Jika kita ambil contoh di Lombok Timur adalah sepanjang pantai Labuan Haji sampai pantai Sugian di Sambalia dengan lebar antara 7 sampai 12 km saja. Bentuknya memanjang dengan perbatasan laut yang dikontrol secara ketat oleh tentara Israel. Walaupun wilayahnya sangat sempit, tetapi penduduknya padat, akibat banyaknya pengungsi yang berkumpul setelah terusir dari wilayah yang diduduki Israel. Hanya diwilayah sempit ini saja orang Palestina merasa seperti mempertahankan wilayah tanah airnya yang tersisa, walaupun mereka tetap dalam kesulitan yang luar biasa.

Yang dimaksud dengan Tepi Barat, adalah daerah Palestina yang berbatasan langsung dengan Yordania dengan sungai Yordan sebagai batas alam yang diakui oleh Yordania maupun oleh Palestina. Dalam wilayah Tepi Barat inilah terdapat kota kota penting yang dahulu dikuasai Palestina, seperti Yerusalem, Ramalah, Jerico dan Hebron. Tepi Barat adalah wilayah Palestina simbolik, dimana terdapat pemerintahan Palestina dibawah PLO. Saya menggunakan istilah Palestina Simbolik, karena pada dasarnya di wilayah Tepi Barat praktis sepenuhnya dikontrol oleh Israel. Memang ada beberapa wilayah otorita Palestina seperti Jerico atau Hebron, akan tetapi kontrol keamanannya dibawah tentara dan polisi Israel, demikian pula dengan kompleks menjidil Aqsha di Yerusalem. Mengunjungi makam nabi Ibrahim di Hebron, haruslah melalui body detektor tentara Israel.

Wilayah “Tepi Barat”, termasuk Yerusalem Timur, mempunyai luas tanah 5.640 km2 dan luas perairan 220 km2, yaitu bagian barat laut dari Laut Mati. Dihuni sekitar 2.622.544 penduduk (Juni 2012). Lebih dari 80 persen, sekitar 2.100.000 orang, adalah keturunan Arab Palestina, dan kira-kira 500.000 orang adalah keturunan Yahudi Israel yang tinggal di Tepi Barat.

Memang beberapa wilayah Palestina di Tepi Barat dijaga oleh semacam hansip atau satpam Palestina, tetapi hal tersebut tidak terlalu efektif karena seluruh keamanan diwilayah Tepi Barat dapat dikontrol Israel secara tidak langsung. Hansip atau satpam hanya dilengkapi dengan pentungan kayu saja. Kehidupan ekonomi petugas Palestina sangat tergantung dari bantuan negara Islam dan lembaga kemanusian internasional. Mengharapkan pajak dari warga Palestina tampaknya sangat sulit, karena ekonominya tidak berkembang dengan normal. Di Hebron banyak anak-anak menjadi pengermis, setelah orang tua mereka terpaksa meninggalkan rumah dan toko tempat mereka mencari penghidupan. Pemukiman baru warga Israel yang dibuka di daerah Tepi Barat mempersempit tanah pertanian warga Palestina. Demikian pula areal yang sangat subur di lembah Yordan yang dahulu dikuasai oleh orang Palestina, kini lebih banyak dikuasai oleh petani Israel. Keberhasilan dan wajah pertanian Paestina dan orang Israel tampak perbedaan dengan jelas terutama teknologi pertanian. Pasar hasil pertanian juga dikuasai oleh pengusaha Israel. Kibuts, semacam koperasi pertanian Israel, meninggalkan jauh di belakang pertanian warga Palestina. Memang masih ada kehidupan ekonomi berupa perdagangan dan pertanian, tetapi mereka meragukan keberlanjutannya, jika melihat parktik Israel di Tepi Barat.

Kesenjangan ekonomi warga Israel dan penduduk Palestina di Tepi Barat, akan semakin lebar jurangnya, mengingat Israel terus membuka pemukiman baru dengan kualitas bangunannya yang jauh lebih baik dibandingkan bangunan lama warga Palestina. Mereka memperoleh pelayanan sosial yang lebih baik. Demikian pula setiap pemukiman baru yang dibuat Israel disusul dengan sistim pengamanan yang sangat ketat, guna melindungi warga Israel di Tepi Barat untuk menghindari dari bentrokan yang tak diinginkan. Dengan keadaan seperti itu, sesungguhnya warga Israel di Tepi Barat hidup lebih aman jika dibanding warga atau penduduk lama disana. Warga Palestina di Tepi Barat sungguh tertekan, penuh ketidak pastian dan mengalami berbagai diskriminasi terutama dibidang sosial. Sementara pemerintah Israel terus menambah pemukiman baru bagi warga negaranya, memperbanyak populasi dan kontrol terhadap Tepi Barat. Jika Benjamin Netannyahu memenangkan pemilu tahun ini (2019), Tepi Barat akan dicaplok secara keseluruhan, menjajanjikan aneksasi Tepi Barat jika menang pemilu, padahal hakekekatnya Tepi Barat  sudah dicaplok secara politik dan ekonomi.

Pembangunan tembok tinggi sepanjang 700 km,yang membatasi Tepi Barat dan Isreal (l947), adalah untuk melindungi rakyat Israel dari kemungkinan serangan dari pihak Palestina. Jika demikian, mengapa pemerintah Israel terus menambah penduduknya diwilayah Tepi Barat dan memperbanyak aparat keamanannya di Tepi Barat termasuk Yerusalem Timur? Ini adalah strategi jangka panjang Israel, untuk menjamin keamanan negaranya dengan terlebih dahulu memperbanyak pemukiman warga Israel sebagai penyeimbang, bahkan seandainya di masa depan negara Palestina yang diimpikan itu dapat terwujud sudah tentu peta wilayah dan penduduknya sudah tidak seperti dahulu lagi. Dalam pandangan orang Yahudi ortodok, semua wilayah Israel sekarang dan negara tetangganya, Yordania apalagi Tepi Barat adalah Tanah Kanaan yang dijanjikan untuk Bani Israel anak cucu nabi Ibrahim. Pandangan religius orang Israel ini menjadi spirit bagi mereka untuk mempertahankan wilayahnya sebagai sesuatu yang harus diperjuangkannya secara sungguh-sungguh. Sedangkan perjuangan rakyat Palestina tidak sedalam pandangan orang Yahudi Israel. Orang Palestina, tentu saja sudah tinggal lebih dari 1400 tahun, pantaskah tanahnya direbut orang lain?

Pandangan dunia dan negara negara Islam

Sebagian besar negara negara di dunia telah mengakui eksistensi negara Israel dan mengakui hak hak rakyat Palestina termasuk Tepi Barat dan Jalur Gaza. Sebagian besar negara negara Islam tidak mengakui hak Israel atas Tanah Palestina dan hanya mengakui hak rakyat Palestina diwilayah itu. Negara negara Islam Arab sesungguhnya terbagi dalam dua kelompok, pertama yang secara eksplisit mengakui kedaulatan Israel seperti Mesir, Turki dan Yordania. Kelompok kedua adalah negara yang sama sekali tidak mengakui Israel, seperti Iran dan beberapa negara Arab lainnya. Selama lebih dari 70 tahun, banyak negara-negara Islam yang sejak semula tidak mengakui Israel, dewasa ini mulai berpandangan pragmatis, ekonomis dan bersikap lebih moderat, seperti Arab Saudi dan sekutunya.

Situasi ini tentu saja sangat menguntungkan negara Israel dan negara-negara yang mengubah haluan politiknya terhadap Israel, lebih banyak memperoleh rasa aman dari sejumlah konflik di kawasan Timur Tengah, seperti Yordania, Mesir dan Arab Saudi. Hal ini dapat dipahami karena posisi Israel, walau wilayahnya sempit, tetapi keunggulan militernya tidak tertandingi oleh semua negara Arab di Timur Tengah. Pandangan ini tidak bersifat spekulasi karena negara-negara Arab telah mengalaminya, dalam beberapa kali berperang melawan Israel. Dalam bahasa Sasaknya disebut sudah”jerih”

Dalam hubungan ini, Indonesia sejak dahulu hingga kini tetap digaris paling depan memperjuangkan hak-hak rakyat Palestina. Indonesia yang berpenduduk Muslim paling besar, seakan mencerminkan sikap Islam terhadap negara Israel. Padahal menurut pandangan saya, masalah negara Israel tidak punya hubungan langsung dengan agama, melainkan hubungan politik semata. Di Israel, sejumlah orang Arab memilih menjadi warga Israel, dimana hak-hak mereka dijamin termasuk hak mendirikan partai Arab Israel. Memang pandangan Indonesia memperjuangkan warga Palestina sudah sesuai dengan konstitusi kita yang menentang penjajahan dalam segala bentuknya di muka bumi ini. Politik luar negeri kita adalah bebas dan aktif, Jika tidak untuk kepentingan domestic saya kira pemerintah Indonesia juga akan mengikuti langkah dari negara negara Arab yang telah menjalin hubungan dengan negara Israel. Yang saya maksud dengan kepentingan domestik adalah mengamankan diri dari opini umat Islam Indonesia yang memahami Israel sebagai penjajah baru di tanah Palestina.

Dataran Tinggi Golan.

Hingga sekarang Dataran Tinggi Golan yang dahulu adalah bagian wilayah dari Suriah, tetap dikuasai oleh Israel. Jika Tepi Barat dihuni oleh penduduk Palestina sejak ribuah tahun yang lalu, di Golan hampir tidak ada penduduknya ketika dikuasai oleh Israel dalam perang 1967. kecuali suku Druse yang menjadi penduduk asli wilayah tersebut. Orang Druse, tidak peduli apakah wilayahnya diperintah oleh Israel maupun Suriah, yang penting mereka aman dan adat istiadatnya  tidak terganggu. Penguasaan Dataran Tinggi Golan, juga sama perlakuannya dengan Tepi Barat, yakni menempatkan lebih banyak petani Israel  untuk mengekploitasinya dengan pertanian yang sangat maju. Areal beberapa puluh kilometer disebelah danau Galilea, yang dahulu menjadi perbatasan Dataran Tinggi Golan dengan Israel, sekarang menjadi daerah pertanian yang sangat maju.

Disepanjang tepi Timur jalan penghubung Tiberias dan Dataran Tinggi Golan, ditanami pisang, jeruk, mangga, padi, jagung dan sayur mayur yang sangat berkualitas. Penguasaan Dataran Tinggi Golan oleh Israel sangat menguntungkan baik dari segi ekonomi maupun militer. Dataran ini sangat makmur untuk pertanian, ada beberapa sungai yang bermuara di Danau Galilea. Israel pasti akan mempertahankan wilayah ini, terlepas dari ada atau tidak ada pengakuan Donald Trump terhadap wilayah ini walau ditentang oleh seluruh negara Arab dan sebagian negara lain di dunia ini, karena aneksasi tersebut bersifat sepihak.

Jika sekiranya skenario Israel mengembalikan semenanjung Sinai  ketangan Mesir sebagai akibat perang Arab Israel tahun l967, dengan bayaran yang mahal berupa hubungan baik dan pengakuan Mesir terhadap Israel, diterapkan untuk Dataran Tinggi Golan, apakah Israel dan Suriah akan dapat menerimanya? Mungkin agak berbeda, karena Dataran Tinggi Golan sangat strategis untuk pertahanan dan sangat subur untuk  daerah pertanian. Sebenarnya masalah Dataran Tinggi Golan dan Tepi Barat memiliki persamaan dalam rangka memperkuat posisi negara Israel dalam jangka panjang, dengan mengelola waktu, dalam jaman yang berubah semakin pragmatis, seperti terlihat pada sikap negara negara Arab dewasa ini. Israel telah memasukkan Dataran Tinggi Golan sebagai bagian integral dari wilayah negara itu. Israel lebih percaya diri lagi setelah presiden Amerika Serikat memberi dukungan penuh atas klaim tersebut. Posisi negara Arab khususnya menjadi lebih sulit dan rumit.

Prospek penyelesaian komplik Palestina dan Israel.

Memang semua pihak menghendaki penyelesaian menyeluruh masalah hubungan antara Palestina dan Israel. Walaupun Israel secara resmi memindahkan ibukotanya ke Yerusalem dan sejumlah negara mengikuti jejak Amerika Serikat memindahkan kedutaannya dari Tel Aviv ke Yerusalem, gaung protes dari negara tetangga Arab tidak sekencang dimasa lalu lagi. Mungkin mereka menganggap protes tersebut sia-sia saja, karena Amerika Serikat berada dibelakang Israel. Sementara disisi lain, kebanyakan negara Arab yang utama memiliki hubungan simbiosis mutualistik dengan Amerika Serikat, dengan isu kekuatan militer Iran yang bertetangga dengan Arab Saudi dan negara Teluk lainnya yang kaya minyak dan gas bumi itu.

Negara-negara Arab sangat sulit memprotes Israel mengenai cara aparat keamanan menangani protes yang dilakukan warga Palestina terhadap pelanggaran hak asasi dan pemukiman baru Israel di Tepi Barat, karena sesungguhnya negara-negara Arab juga memiliki catatan buruk tentang hak asasi manusia. Selain itu juga banyak negara Arab sibuk memerangi sesama Arabnya yang berkaitan dengan sektarianisme seperti di Yaman maupun di Suriah. Keadaan ini juga tentu situasi yang dirancang secara masif oleh pihak ketiga, untuk menjaga kepentingan pertahanan dan perdagangan khususnya perdagangan senjata. Pada akhirnya wilayah Timur Tengah menjadi gudang senjata terbesar di tengah harapan perdamain yang didambakan seakan menjadi utopia belaka.

Pada saat seperti ini sesungguhnya tak tampak dengan jelas ujung penyelesaian masalah Palestina dan Israel. Jika terdengar suara seakan membela Palestina hanyalah retorika sebagai konsumsi politik dalam negeri belaka. Sebenarnya nasib bangsa Palestina ada ditangan rakyat Palestina sendiri. Jangan mengharap terlalu besar pada negara lain termasuk negara-negara Arab yang menjadi tetangga Palestina. Untuk itu, walau terasa berat, tetapi mulailah para pemimpin Palestina bersatu, antara Hamas dan PLO dan faksi lain di dalam maupun di wilayah Palestina yang masih didiami dewasa ini.

  1. Palestina dapat berdialog langsung dengan pemerintah Israel dalam kesetaraan membahas konsep dua negara yang bertetangga, Israel dan Palestina. Jika Palestina sudah memproklamasikan negara Palestina oleh Yser Arafat beberapa puluh tahun lalu, maka bangunlah Palestina dengan sebaik-baiknya, jujur, tulus dan ikhlas.
  2. Jika Palestina memutuskan mengakui Israel sebagai satu-satunya pemerintahan di wilayah tersebut, dengan Tepi Barat dan Jalur Gaza sebagai daerah otonomi khusus dan Israel menyetujuinya, hendaklah ditetapkan dalam UUD Israel.
  3. Jika Israel sepakat dua negara Israel-Palestina, hendaklah kedua negara tersebut menjalin hubungan yang istimewa, tidak ikut melibatkan diri pada konflik kawasan dan kepentingan diantara kekuatan politik internasional. Kedua negara akan saling isi mengisi untuk kemajuan pembangunan kedua bangsa tersebut.
  4. Pemimpin Palestina, agar mendorong orang Palestina yang sebelumnya berada dalam wilayah negara Israel agar segera menjadi warga negara Israel untuk memperbesar anggauta partai orang Arab Israel di Kneset, agar mereka dapat memperjuangkan nasib orang Palestina secara konstitusional. Kelompok ini dimasa depan dapat menjadi kekuatan pendukung partai yang menghormati hak-hak Palestina di Israel, seperti Partai Buruh Israel. Para pemodal Arab juga dapat berpartisipasi dengan dananya untuk membantu partai oposisi Israel.
  5. Lembaga lembaga internasional seperti UN tidak terlalu berpengaruh untuk penyelesaian masalah Palestina-Israel, karena adanya larangan bagi lembaga itu mencampuri urusan dalam negeri anggautanya, kecuali lembaga di dalamnya  seperti lembaga UNESCO, FAO, WHO dan lain-lainnya. Demikian pula selama lembaga veto bagi lima negara besar dalam organisasi itu, sebaiknya jangan terlalu mengharap apapun dari UN itu.

Akhirnya saya mengutip Al-Quran Surat Al Isra, ayat 4-8 sebagai berikut” Dan Kami tetapkan terhadap Bani Israel dalam Kitab itu ”kamu pasti membuat kerusakan di bumi ini dua kali dan kamu pasti akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar(4). Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan yang pertama dari kedua (kejahatan) itu. Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang perkasa lalu mereka merajalela di kampong-kampung. Dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana(5). Kemudian kami berikan giliran untuk bagimu untuk mengalahkan mereka. Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak dan Kami jadikan kamu menjadi kelompok yang lebih besar(6). Jika kamu berbuat baik berarti kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka akibat perbuatan jahat itu untukmu. Apabila datang saat hukuman yang kedua, Kami bangkitkan musuhmu untuk menyuramkan wajahmu lalu mereka masuk kedalam masjid (mesjidil Aqsa) sebagaimana ketika mereka memasukinya pertama kali dan mereka membinasakan apa saja yang mereka kuasai(7). Mudah-mudahan Tuhanmu melimpahkan rahmat kepadamu, tetapi jika kamu kembali melakukan kejahatan, niscaya kami kembali mengazabmu dan kami jadikan neraka jahanam bagi orang orang kafir(8).

Al-Quran diturunkan kepada nabi Muhammad untuk orang yang beriman. Ceritra Bani Israel di masa lalu adalah peringatan bagi kita khususnya orang Islam, agar jangan meniru kejahatan yang pernah dilakukan oleh Bani Israel. Mereka telah kembali ke tanah Kanaan, jika mereka baik Tuhan akan memberikan rahmat kepadanya, sepeti umat lain yang ada dibumi yang lain. Tetapi jika kita juga ummat Islam tidak berbuat baik, maka neraka jahanam tempat penjaranya. Kisah Bani Israel untuk dijadikan pelajaran bagi ummat Islam, agar jangan kiranya meniru kesalahan Bani Israel dimasa lalu. Oleh karena itu kisah Bani Israel, jangan ditafsirkan sebagai orang Israel sekarang, lebih banyak sebagai ibarat atau hal hal yang bisa jadi sedang menimpa ummat Islam dewasa ini. Saya cendrung mengatakan bahwa pertikaian antara Palestina dan Israel sekarang bukan masalah agama melainkan merupakan masalah politik. Penyelesaian yang sepadan, haruslah melalui jalur politik, bukan perang atau perang kata-kata yang mubazir dan sia-sia.

Mataram, l Syawal 1440 H.


Palestine and Israel (english version)

Israel, a country in the Middle East, borders of  Egypt, Jordan, Lebanon and Syria. This country has been the topic of the most crowded talks in the entired world, since 1948 until now. Basically the establishment of a new Israeli state on Palestinian land that has been inhabited, processed and developed by Arab Palestinians for more than 1400 years, is not worth taking for granted by those who call themselves entitled to take it as the promised land. The area when the Israelites were brought by British people to their colonies was actually a picture of neo-colonialism which is characteristic of most European nations. Take for example, for Indonesia was colonized by the Netherlands, India was colonized by Britain, the Philippines was colonized by Spain, East Timor was colonized by the Portuguese, and almost all countries in Asia, Africa and Latin America became their colonies. For example the property rights of Indians in America, in Australia, are very easily taken and recognized as their territory through short wars.

If the British government did not feel indebted to English Jews of Jewish descent, then the state of Israel would never exist. Jews in various parts of the world have become part of the citizens of these countries. Looking for human origins, then returned by means of natural violence creates major problems and new violence. The Balfour declaration, to reward Jews for their services to help in World War II, actually makes no sense. Are they at that time also British citizens? All right, all that has happened, and the state of Israel already exists. If we discuss the matter of Israel’s the past, we are equally involved in the thoughts of its colonialist creators. We must begin to forget the past and talk about the present and the future, including our discussion of Palestinians and Israel in the present and in the future.

Although the issue of Israel Palestine will continue to roll on the international political stage, maybe we should not have hope for a complete resolution of the problem in the near future. The world is far more complex and complex than it was 70 years ago. The Arab world that used to be united on behalf of ethnic Arabs for Palestinians, has now been divided into new domestic and geo-political interests after the cold war. That’s why I have my own mind how should the problems of Palestine and Israel be resolved as well as possible according to the present conditions as I said above.

This text does not elaborate on the past relations between Palestine and Israel, more if associated with the history of the expulsion of Israel by Nebuchadnezzar from Babylon, then taken over by the Persians, then moved employers to Roman occupation, returned to Persia again then in 636, Umar Bin Hattab as the caliph conquered Sam (Sirya), then the head of Roman government in Jerusalem surrendered the city to Islamic rule. Since then, Palestinian Arabs have become priests and keepers of the Baitul Makdis which was destroyed by people from the Roman Empire. Therefore this historical journey should also be considered in discussing the relationship between Palestine and Israel today. For example, how the Persian king who conquered Babylon, sent back the Israelites from captivity and slavery committed by the Babilona people in the past. How did Umar Bin Hattab give equal rights to all believers in the city of Jerusalem, after the city fell to the Muslims who drove the Roman army from all the land of Israel in the past.

Israel I saw.

During the last few days in April 2019, I had the opportunity to come to several Israeli cities. Indonesia does not have diplomatic relations with Israel, because the permit given to enter the area is only a small piece of paper, by not posting one word in the passport sheet. Through telephony questions while watching my face, immigration officers on the border entered Israel from Jordan, then a piece of paper was given to every Indonesian who entered the Israeli state.

Israel places its immigration office, right on the border with Jordan, just a few meters from the bridge between Jordan and Israel. The King Hasan Bridge which stretches more than thirty meters above the Jordan River whose water starts to get cloudy and dirty. The Jordanian government has placed its immigration office about two kilometers from the border with Israel. I don’t know the reason, is it out of fear? But clearly the difference in appearance and discipline between the two countries is very different. Israel put immigration officers and soldiers directly on the border, while Jordan hid in a more calm and quiet place.

            Israel today is a country that is very strong militarily, especially in the Middle East region and more specifically if it is associated with its neighboring countries, such as Syria, Jordan, Egypt and Lebanon. In the course of Israel’s history since its establishment in 1947, several times it was attacked by the alliance of Arab countries. In general, all resistance can easily be broken. One very embarrassing event of an Arab state was the 1967 war, a war lasting only one week ended with the occupation of Egypt’s Sinai peninsula and Syria’s Golan Heights.

            The humiliating defeat of Egypt by Israel forced the country to do good and friendship with Israel so that the Sinai territory captured by Israel could be returned to Egypt, through the Camp David agreement, with the assistance of US president Jimmy Carter in l978, where Egyptian president Anwar Sadat and Israeli prime minister Menachem Begin signed the agreement. Anwar Sadat was finally shot dead by an Egyptian soldier, of course those who opposed the agreement.

            The two countries were forced to sit together, for the sake of their territory annexed by Israel in a week-long war in 1967. This negotiation model from the start shows that Arab countries are in a weaker position compared to Israel. Of course the role of sponsoring countries such as the United Kingdom supplying international information cannot be ignored.

            Egypt, which is considered a reference to the Arab countries in the Middle East, which was seen as the most powerful and influential among other Arab countries, looked so bad in a week of war in 1967. Egypt was also forced to establish good relations with Israel through diplomatic relations, when Arab countries others continue to voice hostility with Israel. If so, then there are various problems that occur in relations with fellow Arab countries, more so if associated with their relationship with Israel in relation to the Arab Palestinian people who are still in trouble.

West Bank and Gaza Strip.

            The two regions that are generally regarded by the international community as areas that are inhabited by Palestinians are a small part of all Palestinian land in the past, which remains from the present part of Israel, covering an area of ​​20,700 square kilometers including the West Bank and Gaza Strip . In addition there were also areas occupied since the Yom Kippur war in 1973, more than fifty years ago.

            The Gaza Strip, is a narrow area located on the border of Sinai in the West and the Israeli border in the south and borders with the part of the Meditrania sea in the North. This area has an average width of 7-12 km and its length is not more than 45 square kilometers. If we take the example in East Lombok, it is along the Labuan Haji coast to Sugian beach in Sambalia with a width of only 7 to 12 km. The shape is elongated with the sea border which is tightly controlled by the Israeli army. Although the area is very narrow, but the population is dense, due to the large number of refugees who gather after being expelled from Israeli occupied territories. Only in this narrow area can Palestinians feel like defending their remaining homeland, even though they remain in extraordinary difficulties.

            What is meant by the West Bank, is a Palestinian area that is directly adjacent to Jordan with the Jordan River as a natural boundary recognized by Jordan and by the Palestinians. In this area of ​​the West Bank there are important city cities that were formerly controlled by Palestinians, such as Jerusalem, Ramalah, Jerico and Hebron. The West Bank is a symbolic Palestinian territory, where there are Palestinian governments under the PLO. I use the symbolic Palestinian term, because basically in the West Bank region it is practically completely controlled by Israel. Indeed, there are several Palestinian areas of authority such as Jerico or Hebron, but security controls are under Israeli soldiers and police, as well as the Aqsa prison in Jerusalem. Visiting the tomb of the prophet Ibrahim in Hebron, must be through the Israeli army body detector.

            The “West Bank” region, including East Jerusalem, has a land area of ​​5,640 km2 and an area of ​​220 km2 of water, namely the northwestern part of the Dead Sea. Populated around 2,622,544 residents (June 2012). More than 80 percent, about 2,100,000 people, are of Palestinian Arab descent, and about 500,000 are descended from Israeli Jews living in the West Bank.

            Indeed, some Palestinian territories in the West Bank are guarded by a kind of defense guard or Palestinian security guard, but this is not very effective because all security in the West Bank region can be controlled indirectly by Israel. Hansip or security guards are only equipped with wooden clubs. The economic life of Palestinian officers is very dependent on the help of Islamic countries and international humanitarian institutions. Expecting tax from Palestinians seems very difficult, because the economy is not developing normally. In Hebron many children became pengermis, after their parents were forced to leave their homes and shops where they were making a living. New Israeli settlements opened in the West Bank area narrow the Palestinian farmland. Likewise very fertile areas in the Jordan valley which were once ruled by Palestinians, are now dominated by Israeli farmers. The success and face of the Paestina farm and the Israelites appear to be clearly different, especially agricultural technology. The agricultural products market is also controlled by Israeli businessmen. Kibuts, a kind of Israeli agricultural cooperative, leave far behind Palestinian farms. Indeed, there is still economic life in the form of trade and agriculture, but they doubt its sustainability, if you see the practice of Israel in the West Bank.

            The economic gap between Israeli citizens and Palestinian residents in the West Bank will be even wider, given that Israel continues to open new settlements with a much better quality of buildings than the old Palestinian buildings. They get better social services. Likewise every new settlement made by Israel is followed by a very strict security system, to protect Israelis in the West Bank to avoid unwanted clashes. With such conditions, actually Israelis in the West Bank live safer compared to residents or old residents there. Palestinians in the West Bank are very depressed, full of uncertainty and experience various discrimination, especially in the social sector. While the Israeli government continues to add new settlements to its citizens, increasing population and control of the West Bank. If Benjamin Netannyahu wins this year’s election (2019), the West Bank will be annexed as a whole, promising annexation of the West Bank if it wins the election, even though the West Bank’s rights have been annexed politically and economically.

            The construction of a 700 km high wall, which limits the West Bank and Israel (l947), is to protect the people of Israel from possible attacks from the Palestinian side. If so, why does the Israeli government continue to increase its population in the West Bank region and increase its security forces in the West Bank including East Jerusalem? This is Israel’s long-term strategy, to ensure the security of its country by first increasing Israeli settlements as a counterweight, even if in the future the dream of a Palestinian state can be realized it is certainly a map of the territory and its population is not like before. In the view of orthodox Jews, all of Israel now and its neighboring country, Jordan especially the West Bank, is the land of Canaan that was promised to the Children of Israel, grandchildren of Abraham. This religious view of the Israelites became a spirit for them to defend their territory as something they must fight for seriously. While the struggle of the Palestinian people is not as deep as the views of Israeli Jews. Palestinians, of course, have lived more than 1400 years, is it appropriate for the land to be captured by someone else?

Views of the world and Islamic countries

            Most countries in the world have recognized the existence of the state of Israel and recognized the rights of the Palestinian people including the West Bank and Gaza Strip. Most Islamic countries do not recognize Israel’s right to Palestinian land and only recognize the rights of the Palestinian people in the region. Arab Islamic countries are actually divided into two groups, the first which explicitly recognizes Israeli sovereignty such as Egypt, Turkey and Jordan. The second group is a country that does not recognize Israel at all, such as Iran and several other Arab countries. For more than 70 years, many Islamic countries which from the beginning did not recognize Israel, are now starting to have a pragmatic, economic and more moderate attitude, such as Saudi Arabia and its allies.

            This situation certainly greatly benefits the state of Israel and the countries that change their political direction towards Israel, more secure a sense of a number of conflicts in the Middle East region, such as Jordan, Egypt and Saudi Arabia. This can be understood because of Israel’s position, even though its territory is narrow, but its military superiority is unmatched by all Arab countries in the Middle East. This view is not speculative because Arab countries have experienced it, several times fighting against Israel. In the Sasak language it is called “jerih”

            In this connection, Indonesia has always been in the forefront of the struggle for the rights of the Palestinian people. Indonesia, which has the largest Muslim population, seems to reflect the attitude of Islam towards the state of Israel. Yet in my view, the problem of the state of Israel does not have a direct relationship with religion, but merely political relations. In Israel, a number of Arabs chose to become citizens of Israel, where their rights were guaranteed including the right to establish an Israeli Arab party. Indeed Indonesia’s view of fighting for Palestinians is in accordance with our constitution which opposes colonialism in all its forms on this earth. Our foreign policy is free and active, if not for domestic interests, I think the Indonesian government will also follow in the footsteps of Arab countries that have established relations with the state of Israel. What I mean by domestic interest is securing myself from the opinions of Indonesian Muslims who understand Israel as a new invader in Palestinian land.

Golan Heights.

            Until now the Golan Heights, which were once part of Syria, remained controlled by Israel. If the West Bank is inhabited by Palestinians since thousands of years ago, on the Golan there were almost no inhabitants when it was ruled by Israel in the 1967 war. Except for the Druse tribe who became a native of the region. The Druse people, do not care if the territory is ruled by Israel or Syria, the important thing is that they are safe and their customs are not disturbed. The mastery of the Golan Heights, as well as its treatment with the West Bank, is placing more Israeli farmers to exploit it with highly developed agriculture. The area some tens of kilometers next to the Sea of Galilee, which used to be the border of the Golan Heights with Israel, is now a highly developed agricultural area.

Along the eastern edge of the Tiberias connecting road and the Golan Heights, it is planted with high-quality bananas, oranges, mangoes, rice, corn and vegetables. Mastery of the Golan Heights by Israel is very beneficial both in terms of economy and military. This plain is very prosperous for agriculture, there are a number of rivers that lead to the Sea of ​​Galilee. Israel will certainly defend this region, regardless of whether or not Donald Trump has acknowledged this region despite being opposed by all Arab countries and parts of the world, because the annexation is unilateral.

            If the Israeli scenario returns the Sinai peninsula to Egypt as a result of the 1967 Arab Israel war, with expensive fees in the form of good relations and Egyptian recognition of Israel, applied to the Golan Heights, would Israel and Syria be able to accept it? It may be somewhat different, because the Golan Heights are very strategic for defense and very fertile for agricultural areas. Actually the problem of the Golan Heights and the West Bank has similarities in order to strengthen the position of the state of Israel in the long run, by managing time, in an era that is increasingly increasingly pragmatic, as seen in the attitude of Arab countries today. Israel has included the Golan Heights as an integral part of the country’s territory. Israel is more confident after the president of the United States gave full support to the claim. The position of the Arab country in particular is becoming more difficult and complicated.

Prospects for Palestinian and Israeli complicated settlement.

            Indeed, all parties want a complete solution to the problem of relations between Palestine and Israel. Although Israel officially moved its capital to Jerusalem and a number of countries followed in the footsteps of the United States moving its embassy from Tel Aviv to Jerusalem, echoes of protests from neighboring Arab countries were not as fast as in the past. Maybe they consider the protest to be futile, because the United States is behind Israel. While on the other hand, most of the main Arab countries have mutualistic symbiotic relations with the United States, with the issue of Iran’s military strength which is neighboring Saudi Arabia and the other Gulf countries which are rich in oil and gas.

            Arab countries find it very difficult to protest Israel about the way security forces handle Palestinian protests against human rights violations and new Israeli settlements in the West Bank, because Arab countries also have a bad record of human rights. In addition, many Arab countries are busy fighting their fellow Arabs related to sectarianism such as in Yemen and in Syria. This situation is also certainly a situation that was designed massively by third parties, to safeguard the interests of defense and trade, especially the arms trade. In the end the Middle East region became the largest arsenal in the hope that the coveted peace seemed to be a mere utopia.

            At times like this it really does not clearly appear the end of the settlement of the Palestinian and Israeli problems. If you hear a voice as if defending Palestine, it’s just rhetoric as mere domestic political consumption. Actually the fate of the Palestinian people is in the hands of the Palestinian people themselves. Don’t expect too much in other countries including Arab countries that are neighbors of Palestine. For this reason, even though it feels heavy, the Palestinian leaders begin to unite, between Hamas and the PLO and other factions within and in the Palestinian territories that are still inhabited today.

  1. Palestine can have direct dialogue with the Israeli government in equality to discuss the concept of two neighboring countries, Israel and Palestine. If Palestine has proclaimed a Palestinian state by Yser Arafat several decades ago, then build Palestine as well as possible, honest, sincere and sincere.
  2. If the Palestinians decide to recognize Israel as the only government in the region, with the West Bank and Gaza Strip as special autonomous regions and Israel agreeing to it, it should be stipulated in the Israeli Constitution.
  3. If Israel agrees with the two Israeli-Palestinian countries, should the two countries establish special relations, not participate in involvement in regional conflicts and interests among international political forces. The two countries will complement each other to progress the development of the two nations.
  4. Palestinian leaders, in order to encourage Palestinians who were previously within the territory of Israel to immediately become Israeli citizens to enlarge the membership of the Israeli Arab party in Kneset, so that they can fight for the fate of Palestinians in a constitutional manner. This group in the future can be a supporting force for parties that respect Palestinian rights in Israel, such as the Israeli Labor Party. Arab investors can also participate with their funds to help Israeli opposition parties.
  5. International institutions such as the National Examination are not very influential in resolving the Palestinian-Israeli problem, because there is a prohibition on the institution to interfere in its domestic affairs, except for institutions such as UNESCO, FAO, WHO and others. Similarly, as long as the veto institutions for the five major countries in the organization, you should not expect anything from the National Examination.

            Finally I quote Al-Qur’an Surat al-Isra, verses 4-8 as follows: “And We have appointed the Children of Israel in the Book” you will certainly make damage on this earth twice and you will surely boast with great pride (4). Then when the punishment comes (the first crime of the second (evil). We bring to you our mighty servants who are rampant in the villages. And that is the definite decree that is done (5). Then we give a turn to you to defeat them. We help you with wealth and children and we make you a larger group. (6) If you do good, you do good for yourself. And if you do evil, then the result of evil is for you. come in the second sentence, We raise your enemies to blast your face then they enter the mosque (mesjidil Aqsa) as they entered it for the first time and they destroy whatever they control (7). May your Lord bestow mercy on you, but if you back to committing a crime, surely we will again punish you and we will make hell hell for unbelievers

(8).Al Quran was revealed to the prophet Muhammad for believers. Ceritra Bani Israel in the past is a warning to us, especially Muslims, so as not to imitate the evil committed by the Children of Israel. They have returned to the land of Canaan, if they are good the Lord will give him mercy, like other people who are on the other earth. But if we also do not do good deeds of Islam, then hell is where the prison is. The story of the Children of Israel to be used as a lesson for the Islamic ummah, so that it would not be possible to imitate the mistakes of the Children of Israel in the past. Therefore, the story of the Children of Israel, do not be interpreted as Israelis now, more as like or things that could be happening to the Muslims today. I tend to say that the current dispute between Palestine and Israel is not a matter of religion but is a political problem. Comparable solutions, must be through political means, not war or wasted and useless words of war.

Mataram, l Shawwal 1440 H.

Menampilkan lebih banyak

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close