Kumpulan Cerpen
Trending

IBUKU SAYANG

Hari ini usia ku baru dua tahun, dua bulan. Dibanding dengan anak orang lain, saya baru bisa berjalan ketika usia ku 19 bulan. Memang agak lambat, mungkin karena ibuku lebih senang menggendong ku, agar terus menerus mendekap tubuh mungil ku. Tinggal di rumah sederhana, tanpa taman bunga, tanpa halaman luas, ku nikmati masa kecil ku dengan penuh bahagia, selalu digendong ibuku dan ayahku, tak pernah luput mengawasi cara ibuku menggendong apakah sudah benar atau ada yang salah. Ayahku tukang mengawasi ibuku, karena beliau sendiri  takut menggendong  ku, karena tidak berpengalaman membawa anak kecil seperti aku. Waktu aku masih bayi ayahku selalu mondar-mandir mengawasi posisi tidur ibuku, jangan sampai menindih tubuhku, bisa jadi karena kelelahan dan rasa kantuk yang keterlaluan. Ayahku selalu mengawasi ibu dan aku, agar tetap selamat, sehat wal afiat. Beliau sangat menyayangi ku, melebihi sayangnya pada siapa pun termasuk pada dirinya.

Waktu usia ku enam bulan, tubuhku gemuk sekali. Aku diberi ASI dan asi ibuku berlebihan, jika ada bayi lain yang membutuhkan pasti ibuku akan memberikannya, ketimbang dibuang percuma. Saya heran sekali mengapa air susu ibuku banyak sekali,  sehingga aku tak berhenti menyusu, sampai aku engkoq berkali kali, lalu Ibuku terpaksa mengusap mulutku yang berlumuran air susu sehat dari ibuku. Pernah tubuhku kejang kejang, lalu ibuku khawatir, jangan sampai aku mendapat petaka yang patal. Ibuku tergopoh-gopoh tak tahu apa yang akan dikerjakannya. Mulut ibuku komat-kamit, mungkin membaca mantera, atau berdoa kepada Allah, ya Allah selamatkan anakku, selamatkanlah anakku. Ayahku datang  juga tergopoh gopoh, ada apa, ada apa, dilihat tubuhku kaku dan mulutku tak bisa dibuka, tapi napas ku normal. Segera ayahku membawa ku ke klinik yang ada di kantor tempat beliau sebagai karyawan. Salah seorang yang merawat ku tersenyum lalu mengatakan ini namanya step, sebentar lagi akan kembali sadar. Ayah dan ibuku senang mendengar kata yang bijaksana dari pak perawat yang di lehernya melingkar seperti kabel putih. Dan memang benar hanya beberapa menit kemudian saya kembali sadar. Orang berbaju putih itu bilang pada ibu dan ayahku, anak ini beratnya berlebihan dalam bahasa medisnya obesitas. Saya obesitas, karena air susu ibuku sangat makmur, ibuku hidup bahagia walau ekonominya sangat terbatas. Mungkin inilah penyebab air susu ibuku berlebihan dan sehat. Tuhan menyayangi ku dan ibuku, menyayangi  ayahku, karena beliau mencintai ku tulus dan ikhlas sedalam laut Selatan..

Suatu hari, ketika usia ku dua tahun dan satu bulan musibah menjemput ku. Badanku mengalami demam panas dan di tubuhku timbul bintik-bintik kemerahan. Aku merengek tak keruan sambil didera rasa sakit di tubuhku. Sebenarnya aku ingin bertanya pada siapa, mengapa anak sekecil ini harus diuji oleh Tuhan, tentang sabar dan penderitaan?. Bukankah aku sangat disayangi Tuhanku, aku diberikan tubuh yang sehat, diberikan Nya aku air susu ibuku yang berlebihan dan kesehatan yang bagus. Tetapi aku step dan hari ini penyakit yang sangat membebani hidupku datang lagi. Sekali lagi ibuku tak tahu apa yang harus diperbuat, tidak tahu nama penyakit, tidak tahu nama bakteri, kuman atau virus, karena ibuku bukan tamatan sekolah perawat atau bukan seorang dokter. Wajarlah jika beliau nerves dan kelabakan. Yang ada dalam pikiran ibuku adalah belian, tukang dukun penyakit yang ada di kampung. Ibuku melaporkan dengan cemas keadaan ku lalu belian Papuq Irah memberi air, air dingin biasa, entah diambil dari sumur, air sungai, atau air pam, saya tak tahu. Pada waktu itu belum ada air kemasan seperti hari ini. Ibuku memasukkan air kedalam mulutnya, lalu menghitung dengan jarinya satu, dua, tiga, empat, lima, enem, pituq, mulutnya menyemprotkan air mantera itu ke tubuhku yang sedang menderita sakit.

Tiba-tiba ayahku, datang lalu bertanya pada ibu ku ”Apa yang kau lakukan”? Ibuku tidak menjawab sepatah kata pun, lalu air matanya mengalir membasahi kedua pipinya. Ibuku tidak menjelaskan pada ayahku, apa yang baru saja dilakukan, lalu aku diangkat perlahan dan didekap dalam gendongannya. Ibuku tidak tahu nama penyakit yang mendera tubuhku. Itulah kemampuannya, menginginkan aku sembuh, sesuai kemampuan dan pengetahuan yang dimilikinya. Yang ada dalam pikirannya, saya cepat sembuh, lalu diam-diam pergi ke rumah belian Papuq Irah. Ibuku juga tahu, kalau ayahku selalu menyandarkan segala sesuatu berdasarkan ilmu pengetahuan, walau seringkali ilmu pengetahuan juga gagal dalam menyelesaikan banyak masalah.

Seorang lelaki berkulit putih, mungkin usianya 40 tahun, datang, lalu mengetok pintu. Ayah ku membuka pintu, mempersilahkan tamu berkulit putih, berwajah tenang, ibuku masih berdiri dalam ruang tamu yang sempit dan ayahku menunjuk ke arah ku yang berada dalam gendongan ibuku. Laki-laki putih itu memperhatikan tubuhku yang penuh bintik kemerahan, dan ini namanya ”campak” kata pria putih itu. Lagi pria putih menghibur ibu dan ayahku, tak apa, ini bagus, kalau sudah keluar bintik-bintik, tanda akan sembuh. Aku melihat wajah ibu dan ayahku tenang, dan gendongan ibuku semakin erat, lalu aku diciumnya dengan penuh sayang. Saya tidak tahu, siapa orang yang telah dua kali menolong ku. Dan orang itu baik sekali, mau datang ke rumah orang tuaku melihat dan mengobati diriku yang masih kecil, padahal aku sendiri anak seorang ayah dan ibu, dari rakyat biasa, bukan anak seorang pejabat, atau anak orang kaya raya, atau anak dari keluarga terpandang. Aku hanyalah anak rakyat jelata, anak amaq kangkung, siapakah orang yang begitu baik padaku, pada ibu dan ayahku?.” Ini obat agar diminum tiga kali sehari”, lalu orang itu meninggalkan rumahku sambil tersenyum dan menyentuh tubuhku.

Satu hari ketika aku duduk di kelas 3 esde, ayahku mengucapkan sesuatu yang belum kupahami maknanya. ”Nanti kamu akan menjadi dokter, karena itu kamu harus rajin belajar”. Aku tak menimpali ucapan ayahku, karena aku belum tahu artinya. Sejak saat itu, ayahku rajin mengajar ku, semua pelajaran di sekolah. Banyak buku dibelinya lalu diajarkan padaku. Banyak pengetahuan di sekolahku ditambah oleh ayahku. Ibuku senang melihat hasrat ku belajar. Ibuku selalu memanggil namaku dengan nama Yun, kalimat yang menggambarkan cintanya yang mendalam dengan aku, anak semata wayang nya. Kelak ketika ibuku melahirkan adikku, aku tetap di panggil Yun, Yun, Yun. Hidup ku sebagai kanak -kanak ku nikmati dengan kegembiraan diselimuti kasih sayang ibu dan ayahku. Rasanya aku ingin memutar jarum jam kehidupan ini, aku ingin lagi menjadi anak-anak sekarang, memegang gawai, menelpon temanku di SD, lalu  berjam-jam menonton game di layar handphone yang mahal. Masa kecil ku tak ada televisi, apalagi internet. Aku dan ibuku mendengar radio transistor. ”Saur sepuh” dan “Mak Lampir” yang disiarkan secara bersambung, ku nikmati dengan ibuku, sementara ayahku pergi bekerja di kantoran.

“Kamu nanti harus masuk ke Fakultas Kedokteran”, ayahku sering sekali mengulang kata itu. Tapi aku tak peduli, yang ku ikuti adalah pelajaran tambahan yang diberikan ayahku dan terasa sekali, pengetahuanku memang bertambah, dibandingkan teman sekelasku. Aku juga menjadi juara kelas, tak lain karena ayahku terlalu rajin mengajar ku.” Kamu nanti harus menjadi dokter”. Saya juga tidak tahu mengapa ayahku sangat mendorong ku kelak  akan jadi seorang dokter. Aku tak tahu nama dokter itu apa, yang ku tahu hanyalah membaca lebih banyak, dan ayahku membelikan aku buku yang tak ada di sekolahku. Pernah ibuku nyeletuk, untuk masuk di sekolah dokter biayanya besar, uangnya dari mana?. Ayahku hanya bilang, akan kita cari dan menabung. Pokoknya Yun harus jadi dokter, tukas nya. Dan ibuku tersenyum, mengira ayahku hanya guyon untuk menghibur ku sebagai anaknya, atau semacam intermezo untuk menghibur dirinya.

Waktu berputar dengan cepat. Dunia dengan lima benua nya berputar sangat cepat. Dua puluh empat jam sekali putar dan 365 hari sekali putar mengelilingi matahari yang jauhnya miliaran kilometer. Bumi berputar sambil menggendong bulan sebagai planet nya. Semua berputar, batu, pohon, gunung, laut dan semua benda yang ada di dalamnya, bergerak mengikuti perputaran bumi. Dan manusia? Manusia berputar dua kali lebih cepat dari perputaran bumi dan planet lainnya. Manusia ada, dari bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa, tua, lalu tiada. Ada yang usianya pendek, ada juga yang usianya panjang. Yang usianya pendek, meninggalkan rasa sedih pada orang tua dan keluarganya. Tetapi ada juga orang yang merasa terganggu jika orang lain berumur panjang. Orang tuanya umurnya delapan puluh tahun, anaknya merasa kerepotan mengurus nya, lalu mendoakan agar ayah dan ibunya lekas dijemput el-maut. Lebih baik ibu dan ayahnya beristirahat di alam barzah. Dan aku?. Walau pernah terlintas dalam bayangan ku, aku ingin menggunting jaman, agar kembali kemasa kecil sekarang, agar aku dapat bermain game, ngenet, menatap wajah temanku bicara di layar handphone, itu hanyalah guyonan, karena tak mungkin membalik perjalanan matahari, bumi dan bulan. Tak mungkin membalik umurku dan ibu bapak ku.

Ibuku tidak muda lagi; Ketika air matanya meleleh di pipinya yang ranum, kini sudah mulai tua. Di kulit wajahnya tampak garis ketuaan, tapi aneh, di usianya yang semakin tua, suaranya semakin nyaring, tanpa bergetar seperti orang tua yang lain. Dan ayahku?. Dia tetap seperti dahulu, suara dan tingkah lakunya, seperti saat aku masih kecil saja. Mungkin beliau tak sadar bahwa usianya sudah renta merenta. Dan aku?. Aku bukan Yun, ketika  ibuku menggendong ku erat dalam pelukannya lagi. Aku tidak lagi Yun yang dahulu. Aku sekarang sudah menjadi bapak, punya anak dan isteri. Manusia adalah planet kecil di jagat raya ini. Microkosmos, berputar dari kecil menjadi besar, beristeri dan beranak pinak, setelah itu pergi satu persatu. Anehnya ada yang usianya panjang ada juga yang pendek umurnya, ibu dan ayahku usianya cukup panjang, aku merasa bahagia masih memiliki orang tua yang masih hidup sampai sekarang. Banyak orang yang menyesali kepergian orang tuanya, karena tak berkesempatan berbakti dan membahagiakannya, ketika anaknya telah meraih keberhasilan manusiawi dan duniawi

“Nanti kamu akan menjadi dokter” Ketika aku duduk di bangku SD, ayahku berjuang mengajar ku berbagai pelajaran di sekolah. Beliau tidak rela anaknya hanya sebagai murid biasa. Aku harus menjadi juara. Dan Ibuku menjahit sendiri baju seragam sekolahku, karena menurut pendapatnya, baju seragam yang dibeli di toko lebih jelek dari baju buatan tangannya. Ibuku ingin pakaianku rapi setiap pergi ke sekolah. Walaupun tempat sekolahku jaraknya sangat dekat dari rumah, tapi ibuku selalu mengantar ku ke sekolah, maklum aku masih kecil, dan khawatir kendaraan lewat  yang dapat membuatku cedera. Terasa dalam batinku ibuku sangat menyayangi ku, juga ayah ku. Aku yakin, ayah dan ibuku bekerja keras membayar biaya sekolahku. Aku tidak akan melupakan nya, dalam sepanjang hidupku, aku bergumam ketika aku baru selesai menjalankan sholat magrib malam ini, sebelum aku datang ke tempat praktek dokter ku. Mungkin Tuhan mengetok hatiku, berbakti lah kepada kedua orang tuamu.

Tiba-tiba ayahku datang, entah apa tujuannya, mungkin hanya untuk melihat aku sebagai dokter dan cara merawat pasien ku. Beliau berdiri santai di ruang tamu pasien, lalu melihat ruang praktek ku, lalu melihat caraku merawat pasienku. Ayahku bukan seorang dokter, bukan seorang perawat, pasti tidak paham tentang  ilmu kedokteran, karena itu beliau tidak berkomentar tentang medis atau cara ku melayani pasien. Kulihat ayahku mendekati seorang pasien yang sedang menunggu giliran ”Meton, embe oleq side”, laki laki 45 tahun mengangkat bahunya menatap ayahku ”Tiang eleq Medas, pak tuan”. Ayahku seorang haji, karena itulah pasien itu menjawab pak tuan pada ayahku. Ayahku melanjutkan pertanyaannya seperti seorang wartawan yang sedang mengumpulkan informasi ”Apa gaweqde ito leq Medas”. Laki laki pasien itu menjawab datar, seperti kurang serius dengan pertanyaan ayahku, mungkin dalam benaknya, ayahku mengurus yang bukan urusannya. Lagi pula memang nya pasien itu akan dibantu apa?. Modal?. Bayaran dokter?. Rasanya tidak ada manfaat menjawab pertanyaan ayah ku. Tapi calon pasien terpaksa menjawab, karena ayahku lebih tua, karena tidak sopan mengabaikan pertanyaan orang tua. Calon pasien itu menceritrakan pekerjaannya hanya jadi peladen tukang. ”Kalau ada orang membangun rumah, itu pun kalau ada tukang yang mengajak saya jadi peladen”. ”Lamun meno apa gaweqde mun ndeq araq pegawean jari peladen”?. ”Momot”, jawab si  calon pasien dari kampung Medas, di pinggiran hutan Guntur Macan itu. ”Mbe lekande mauq ongkos beroat leq doketer“?. ”Tiang nyinggaq leq batur gubuk”. Ayahku tertegun sejenak mendengar jawaban calon pasien ku, lalu ayahku mendekati ku sambil berbisik ”Jangan kamu minta bayaran pada orang ini, dia orang miskin”, aku mengangguk mendengar ucapan ayahku.

Kuceritrakan pada ayahku, kemarin sore seorang tuan guru juga kurawat dan beliau menceritrakan hubungan persahabatannya dengan ayahku. Ketika beliau mau membayar, kutolak dengan cara halus, tidak usah tuan guru membayar, karena saya baru belajar membuka praktek. Ketika hal itu kuceritrakan pada ayahku, beliau dengan bersemangat menambahkan ”Apalagi tuan guru, harus kamu bebaskan dari pembayaran. Tuan guru adalah pekerja sosial, mereka tidak dapat gaji dari pemerintah, dengan uang dari  mana mereka membayar? Tugasmu adalah menolong mereka. Titik”. Ayahku  pergi. Dan aku  melayani pasienku. Ucapan ayahku bukan pertama kali kudengar, bahkan sebelum aku melanjutkan studiku di Fakultas Kedokteran. Pernah kudengar ibuku memberikan pendapat, agar jangan orang miskin digratiskan, tapi cukup dikurangi saja bayarannya, soalnya anak ini juga perlu biaya hidupnya dan biaya membeli obat-obatan yang diperlukan. Tapi ayahku tetap berkeras bahkan beliau menguatkan argumentasinya, kalau cari keuntungan jangan jadi dokter, buat saja toko untuk berdagang. Jadi dokter itu, karena punya rasa kemanusiaan, rasa kasihan pada orang yang sedang mengalami kesakitan dan kesulitan, Tuhan akan membayarnya kelak dihari kiamat.

Walaupun aku seorang dokter, ucapan ayahku selalu merasuk dalam jiwaku. Aku akan tetap dalam kesederhanaan ku, membina hubungan ku dengan ibuku, dengan ayahku, dengan istri ku, dengan anak anak ku, dengan semua orang  yang mengenal ku atau yang tidak ku kenal. Aku ingin meniru ayahku sebagai sukarelawan, yang selalu memperhatikan masyarakat yang penuh kekurangan. Tapi hal itu tidak mudah, jaman telah berubah, berubah dengan cepat, ilmu kedokteran juga berkembang dengan pesat, prilaku manusia juga berubah dengan cepat, tapi aku tetap berusaha bekerja untuk dapat membantu orang lain, walau dokter dokter yang lain mencibir ku dengan berbagai argumentasi. Aku selalu teringat kata ayah dan ibuku, aku menyayanginya.

Suatu sore, ibu dan ayahku meminta ku untuk mengantarkannya ke tempat praktek seorang dokter. ”Dokter siapa” tanyaku. ”Dokter spesialis” kata ibuku. Di ruang praktek yang luasnya hampir sama dengan tempat praktek yang kumiliki, seorang lelaki putih, rambutnya berombak dan  mulai memutih, tersenyum menyambut kedatangan ayah dan ibuku, sepertinya mereka sudah berteman lama. Ibu dan ayahku diperiksa dengan teliti, lalu diberi beberapa petunjuk agar tetap menjaga kesehatannya. Pak dokter itu berbincang kesana kemari lalu menanyakan anak yang dirawatnya empat puluh tahun yang lalu. Saya belum tahu ujung pertanyaannya, karena saya lupa masa lalu. Lalu ayahku menunjuk kearahku ”Ini anak yang dahulu dirawat oleh pak dokter”. Beliau tersenyum, oo. Dan aku menjulurkan tanganku menyalami dokter yang merawat ku, empat puluh tahun yang lalu. Kebaikan dan ketulusan dokter yang kulitnya putih yang selalu tersenyum, yang sekarang sudah menjadi guru besar, dan telah memajukan berbagai bidang kesehatan di darah ini, terus melakukan praktek, bukan untuk mencarai uang, tapi ingin menjalankan misi kemanusiaannya. Ketika ibuku bertanya “Berapa saya harus membayar pak dokter”, berikan petugas diluar Rp.50,000,saja.

Ayahku menjelaskan padaku, ”walaupun ibumu dalam berkomunikasi terkadang suaranya keras, seperti orang marah, tapi sebebenarnya tidak aasedang memarahimu, Volume suaranya harus diperkuat, karena waktu kamu kecil dahulu, kelenjar gondok di lehernya pernah dioperasi  oleh dokter. Kamu harus berbakti dan sayang pada  ibumu. ”Kulihat sendiri ketika ibumu mengandung, melahirkan dan membesarkan dirimu penuh rasa sayang dan cinta” dan sampai sekarang aku tetap merasakannya.

Selong, 18 November 2019

Menampilkan lebih banyak

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
%d blogger menyukai ini: