Kumpulan Cerpen
Trending

Diantara Dua Ummi

Pondok Pesantren itu telah berdiri lebih tiga puluh tahun. Walau letaknya agak di pedalaman, di pinggiran jalan desa yang sempit, banyak orang tua murid menyerahkan anaknya untuk bersekolah di tempat itu. Maklum pengasuhnya adalah seorang kiai kondang untuk ukuran wilayah sekitarnya. Pondok pesantren itu terus tumbuh, sejalan dengan dukungan pak kiayi dengan partai berkuasa sejak beberapa dekade terakhir.

Pejabat lokal sampai tingkat pusat, bahkan tingkat menteri sering datang ke pondok itu, tentu saja berkaitan dengan politik, dengan bungkusan silaturahmi atau sowan. Maklum pak kiayi dipandang punya pengaruh dalam politik lokal. Para pejabat dari Jakarta, ada juga yang membutuhkan jampi dan doa pak kiayi, agar jabatannya tetap bertengger, jangan sampai presiden merecallnya ketika datang saatnya penyusunan kabinet tahun depan. Ada juga pejabat yang meminta jampi-jampi agar isteri tuanya mau berbaikan dengan isteri muda yang telah dinikahinya beberapa tahun lamanya. Pokoknya untuk beberapa tahun terakhir ini, pak kiayi menjadi pusat kunjungan para pejabat Jakarta, maklum pada setiap pemilu pak kiayi selalu menjadi pendukung partai berkuasa.

Mendukung partai berkuasa besar manfaatnya, banyak dapat kunjungan, banyak dapat bantuan, dan pondok pesantren kecil yang dahulu hanya diniah kecil dan tiga lokal ruang sederhana sekolah setingkat ibtidaiyah, sekarang telah berkembang menjadi pusat pendidikan yang maju sampai tingkat universitas. Maklum menteri yang mengurus pendidikan, juga teman satu partai. Pendek kata kiayi yang mendukung partai berkuasa bakal maju pendidikannya. Namanya semakin terkenal. Pelayanannya selalu vip karena selalu dijemput oleh para ajudan. Tak disangka, jalan desa yang dahulu seukuran lima meter, kini berubah menjadi jalan besar selebar lima belas meter, maklum banyak pejabat sering datang ke pondok ini, jalan dan fasilitasnya harus diperbesar. Berbagai fasilitas pondok juga ikut diperbesar, karena pejabat sering datang, jangan sampai mengecewakan pejabat dan lebih lagi jangan sampai mengecewakan pak kiayi.

Sebenarnya pak kiayi ini, biasa-biasa saja, sama dengan ratusan kiayi lain di daerah ini, sekolahnya hanya pernah mondok di rumah salah seorang kiayi yang tak jauh dari rumahnya. Beberapa tahun belakangan, memang banyak kiayi disini yang sekolahnya lebih tinggi bahkan sampai di Mesir, Sudan, Yaman, Maroko dan juga tamatan Amerika Serikat. Soalnya di Amerika juga banyak buku tentang Islam dan ahli Islam. Untuk menjadi ahli tuntutlah ilmu sampai negeri Cina, kata kiayi menirukan kata gurunya. Tapi tidak semua yang sekolahnya tinggi lalu menjadi terkenal dan berpengaruh. Tergantung publikasi, lihatlah seperti Ustaz Somad, ustaz Yusuf Mansur dia punya layar di televisi. Yang tidak punya layar bakal tidak dikenal, walau ilmunya selangit. Pak kiayi walau tak punya layar, tapi punya pengaruh dikalangan kelas atas, soalnya sesama partai, partai yang sedang berkuasa. Pak kiayi jika memberi tausiah di hadapan muridnya, biasanya orang tua di kampung, paling soal pahala orang yang berbuat baik.

Berbakti pada suami bagi isteri, berbakti pada orang tua. Lebih dalam lagi, isi pengajiannya paling sifat dua puluh yang diambil dari buku tipis masailah. Ibu-ibu peserta pengajian boleh tidak mengerti, yang penting hadir, pahalanya mengikuti pengajian itu yang penting. Materi pengajian ini sudah ku dengar sejakku masih kanak-kanak, tapi harus aku dengar lagi karena iman di dadaku harus kupelihara, seperti taman depan rumahku yang harus kurawat agar tetap indah dan nyaman, sampai aku menyelesaikan pendidikan di tingkat aliyah, aku selalu ikut bersama ibu hadir pada pengajian pak kiayi di sore hari, biasanya dilakukan dibawah teratak yang atapnya dari daun kelapa kering. Letaknya tak jauh dari pusat kegiatan Pondok Pesantren. Dalam pengajian, 99 persen dihadiri kaum hawa yang cukup tua, hanya aku dan beberapa peserta yang masih muda. Walaupun demikian aku selalu ikut ibuku, karena aku harus memelihara iman dan Islamku. Aku selalu duduk dibaris paling depan, agar dapat mendengar tausiah dari kiayi dengan baik. Hasrat belajarku lebih tinggi ketimbang gadis lain seusiaku. Ilmu yang ku peroleh di kelas tidak seberapa, bahkan ilmu dari pak kiayi belum pernah ku dengar dari guru-guru aliyah, aku bertekad menjadi ustazah seperti nenekku yang sudah almarhum, beberapa tahun lalu. Ibuku juga selalu memberikan nasihat padaku, ”ingat nenekmu dulu, beliau selalau diundang ceramah untuk memberi pengajian, kamulah yang mewariskan derajat keulamaan keluarga kita”. Ucapan itu seringkali diulang lebih lebih ketika tanganku digapai sambil setengah menyeret dan mengajakku ketempat pengajian pak Kiayi yang sangat aku hormati itu.

Pengumuman hasil ujian akhir di Aliyah, aku lulus dengan nilai yang lebih baik dari kebanyakan teman seangkatan. Sebanyak 123 orang siswa dinyatakan lulus. Banyak dari temanku sudah punya rencana akan melanjutkan ke perguruan tinggi di Jawa dan sebagian kecil akan meneruskan pada unversitas yang pak Kiayi Miliki. Ibuku sudah memesanku, agar melanjutkan disini saja, di desa tempatku tinggal. Ada Universitasnya, terserah aku mau memilih jurusan apa saja, ibu tidak terlalu memaksaku, soal jurusan ibuku tidak paham, maklum beliau hanya tamatan ibtidaiyah saja. Sambil menunggu saat mulai kuliah, aku terus ikut ibu mengikuti pengajian pak Kiayi, aku selalu duduk di depan, agar jelas kudengar tausiah pak Kiayi.

Kemarin kami dikumpulkan oleh kepala sekolah, pak guru Maliki menyiapkan acara perpisahan kelas akhir dengan guru dan adik kelas yang akan naik ke kelas yang lebih tinggi. Aku diikutkan dalam panitia perpisahan bersama beberapa teman. Aku senang dengan kegiatan ini, sebagai kenangan, sebab sebentar lagi aku akan menjadi mahasiswi, selamat tinggal aliyah. Aku akan menjadi mahasiswi, ada kebanggan dalam benakku dan ibuku.

Sekitar jam 10 pagi, di hari Jumat, hari libur dari kegiatan pendidikan di Pondok Pesantren, seorang laki-laki pengurus yayasan, datang ke rumah. Aku heran, mengapa Haji Amin, pengurus yayasan datang mencari ibuku. Ini tidak biasa dan ini hari Jumat, hari libur, hari raya ummat Islam, hari yang paling mulia diantara hari hari lainnya. Pak Amin berpakaian rapi, baju putih, topi haji, surban, kain palekat cap lontar, pinggangnya dililit seutas sabuk warna hitam. Mengendap endap lalu “Assalamualaikum”. Ada ibu hajjah”?. Hajjah Aminah” ibuku keluar ”Tumben pak Ustaz, apa kabar”?. Ibuku sangat menghormati H. Amin, karena beliau adalah orang paling dekat dengan pak kiayi, kadang juga mengajar di pengajian umum, bila pak kiayi berhalangan. Boleh diberi gelar kiayi dua atau kiayi muda. Pantas ibu dan aku menghormatinya.

  1. Amin memulai pembicaraan, setengah berbisik ”Kan kamu tahu, Pondok Pesantren ini sangat pesat perkembangannya, murid dan mahasiswanya sudah ribuan orang. Pak kiayi sekarang sudah 65 tahun, yang kami pikirkan, siapa yang akan menjaga dan melanjutkan amal jariah di Pondok Pesantren? Kan kamu juga tahu walaupun beliau sudah menikah lebih 35 tahun lamanya, sampai sekarang belum dinasibkan memiliki seorang anak” Suara setengah berbisik pak kiayi muda hampir tak terdengar di telingaku yang berusaha menyimak pembicaraan itu melalui lubang kunci di kamar sebelah. Hajjah Aminah, ibuku mendengar dengan seksama uraian pak haji,tapi belum tahu tujuan apa, karena ini hari Jumat, hari penting ummat Islam.

“Begini Hajjah, aku diutus oleh pak kiayi padamu, anak kita Maesuro yang baru tamat di Aliyah, bermaksud akan dinikahi oleh pak kiayi, Supaya ada keturunan, ada putra yang akan mewariskan amal jariah jemaah kita yang begitu besar dan terus berkembang. Di ruang tamu yang sempit itu hanya ada Hajjah Aminah bersama H. Amin. Hening. Beberapa menit tak ada suara jawaban, mungkin terkejut, mungkin gembira, mungkin bingung, mungkin tak percaya, mungkin tak yakin, mungkin bagaimana dengan Maisuro?. Hajjah Aminah pasrah, lalu ”hubungilah H. Anwar, pamannya”. Utusan sang kiayi lega. H. Anwar masih bermisan dengan kiayi dan juga bermisan dengan H. Amin. Ayah Maisuro sudah meninggal dunia ketika Maisuro anaknya semata wayang baru berusia 5 tahun. Sejak itu Maesuro dibesarkan sendirian oleh ibunya seorang hajjah di desa ini.

Aku tidak bertanya pada ibu apa yang dibicarakan dengan Haji Amin. Sayup ku dengar apa yang dibicarakan kedua orang tua itu. Terhenyak disudut divan di kamar tidur, aku bingung. Suatu hal yang luar biasa akan terjadi pada diriku. Aku tidak mampu untuk menolak. Ibu, paman dan semua keluarga pasti memarahiku jika berani menolak. Nikah dengan seorang kiayi yang umurnya 65 tahun, sedang umurku baru 18 tahun. Lalu aku akan dipanggil sebagai ummi, ummi bajang. Lalu semua orang melihatku sebagai seorang bini kiayi, lalu aku sudah menjadi tua dalam usia 18 tahun. Pikiranku menerawang jauh, tentang cita-citaku, tentang ibuku yang ingin agar aku menjadi ustazah. Kini pak Kiayi akan menikahiku, bagaimana rupa hubunganku dengan Ummi, isteri pak Kiayi, yang tiap hari aku dan ibuku melayaninya sebagai santri yang harus berbakti pada gurunya? Lalu aku disebut anak bawang yang merebut suami yang dicintainya?

Di hari Ahad pagi, Haji Amin dan H. Anwar datang kerumahku, dipanggilnya ibu dengan suara berbisik. Ibuku disuruh menyiapkan pakaian seadanya, karena akan segera ke kota bersamaku. Rumah itu dipinggiran kota, sunyi dari lalu lalang kendaraan, ada sebuah berugaq, di halaman rumah itu tumbuh beberapa pohon mangga. Suasananya sepi, hanya tiga orang pria telah menunggu, lalu aku datang bersama H. Amin, H. Anwar dan ibuku. Sekarang ada 6 orang telah berkumpul di rumah sepi, dipinggiran kota kecil itu. Ketiga orang itu tidak ku kenal. Pasti orang berkuasa dan berpengaruh. Berkuasa memutuskan apa saja yang ingin diputuskan. Dan aku? Aku hanyalah anak bawang yang selalu duduk di baris depan disetiap pengajian bersama ratusan perempuan, hanyalah pendengar yang tak perlu dimintai pendapat apapun juga.

Laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan. Perempuan jangan banyak cingcong, perempuan boleh dipukul oleh lelakinya. Tausiah seperti itu selalu diulang-ulang oleh sebagain besar kiayi di daerah ini, seakan ancaman serius bagi kaum perempuan. Dan aku? Mengapa aku dibawa ke tempat ini? Tempat ini asing bagiku, aku tidak tahu rumah milik siapa. Dan untuk apa aku dibawa kesini dengan harus membawa beberapa lembar pakaian? Lima laki laki perencana dan eksekutor dan satu perempuan, ibuku dan aku tidak banyak berbicara, seperti pertemuan ini bersifat rahasia. Ada yang tidak beres. Berbisik dalam jiwaku. “Ada yang tidak beres”.

Mobil kijang biru tua masuk kehalaman rumah, Pintu halaman ditutup. Seorang haji turun, Lalu tanpak pak Kiayi turun dari mobil. Lalu berkumpul disebuah ruangan, Lalu aku dipanggil. Lalu seorang eksekutor Haji Anwar, pamanku memegang tangan pak Kiayi. Lalu…, aku nikahkan pak Kiayi sambil menyebut namanya dengan Maisuro. Lalu selesai. Namanya pernikahan begitu sederhana dan singkat. Aku masih belum percaya, bahwa aku baru saja dinikahi oleh seorang kiayi dalam usia 65 tahun, sedang aku baru 18 tahun. Tidak ada petugas P3NTR, penghulu atau petugas dari KUA. Tidak perlu kata seorang yang hadir. Ini agama, bukan perkantoran.

Aku bertanya dalam hatiku, apakah akan ada pesta? Terop yang dipasang di tanah lapang dan korsi berjejer dengan tamu yang berdatangan menyalamiku yang bersanding dengan seorang tua renta yang sudah mulai pakai tongkat? “Tak perlu ada pesta macam-macam” kata Haji Amin, kiayi muda yang masih ada hubungan keluarga dengan almarhum ayahku. ”Pokoknya kamu dampingi beliau mulai malam ini, ditempat ini, urusan lain lain seperti makan minum nanti kami yang urus” Aku masih tidak menyadari, satu kalimat singkat dari Haji Anwar, wali dari keluarga almarhum ayahku, aku telah berubah dari seorang remaja, yang akan menjadi mahasiswi, yang menjadi panitia perpisahan sekolah, yang akan menjadi ustazah, dalam sekejap lembaran hidupku seperti sudah berakhir disini, sebagai isteri dan pelayan pak kiayi yang sangat aku hormati. Memang aku pernah mendengar beberapa kiayi di daerah ini yang selalu mengincar gadis-gadis peserta pengajian untuk dijadikan isteri mudanya, lalu tak lama kemudian diceraikannya, lalu berserakan janda muda bekas gula-gula pak kiayi, Tetap saja ia dihormati dengan gelar palsunya. Itu pak kiayi yang lain, sedangkan kiayi ini? Mengapa anak muda remaja yang selalu duduk dibaris paling depan dalam setiap pengajiannya, disasar dan kini dijadikan istrinya? ”Tujuannya mulia” sergah H. Amin.

Isteri tua pak Kiayi sama sekali tidak tahu, jika suaminya, yang sudah membina rumah tangga selama lebih dari 35 tahun dan membangun pondok pesantren secara bersama-sama, malam ini tidur bersama perempuan lain, isteri mudanya. Beliau pamit pada umi, pergi pengajian di kabupaten lain, mungkin akan menginap. Umi selalu percaya padanya, karena ia seorang kiayi, ulama terpandang di daerahnya. Malam ini kiayi itu mereguk birahinya dengan gadis 18 tahun, gadis cantik yang selalu dilirik ketika ia duduk dibaris paling depan disetiap pengajian yang dipimpinnya. Pak kiayi tidak merasa berdosa berbohong dengan umi, karena kemaslahatannya lebih besar dari kemudaratannya. Maksudnya apa? Jika ummi tahu bahwa pak kiayi nikah dengan gadis belia, lalu terjadi benterok antara dirinya dengan istri tua disatu pihak dan antara istri muda dan isteri tua dilain pihak, kan itu namanya perang. Kan lebih baik berbohong. Pokoknya banyak tausiah pak kiayi berkaitan dengan kepentingan pribadi, seperti dominasi laki-laki terhadap perempuan, walaupun di lain kesempatan ada tausiah tentang Islam datang untuk mengangkat derajat wanita. Maesuro dan ummi Umarah isteri tua pak kiayi sama saja nasibnya. Jika demikian mengapa mereka tidak bersatu saja?.

Keesokannya lagi, ada pengajian di kabupaten lain, mungkin akan disambung dengan undangan lainnya, mungkin harus menginap. Demikianlah cara untuk menjaga persatuan diantara dua wanita yang berbeda jauh umurnya. Yang muda harus diam tidak boleh ada yang tahu. Yang tua, tetap dijaga oleh para guru, pengurus yayasan atau tetangga, jangan sampai tahu bahwa sang kiayi sudah menikah lagi. Jika kiayi tidak pergi untuk tausiah di kabupaten lain, kiayi juga dapat mengunjungi umi muda disiang hari, namun tetap alasannya ada undangan, ada pengajian, Berbohong seperti ini dibolehkan kata kiayi dan kiayi kiayi lainnya mengamininya. Karena mereka juga melakukan hal yang sama. Tapi sampai berapa lama mereka kuat menahan rahasia kebohongan? Apakah dapat dijamain bohong mereka tidak akan terbongkar? Sepandai pandai tupai melompat, suatu kali pasti akan jatuh juga, kata pepatah. Walaupun rahasia dijaga ketat, walau tujuannya baik, akhirnya terbongkar juga.

Tidak jelas, dari mana Ummi Umarah mendapat berita itu, Para pengurus pondok mulai pusing, siapa yang berulah membongkar rahasia itu. Kalangan santri tidak tahu soal soal seperti ini. Ini tingkat tinggi, hanya para pengurus dan beberapa kiayi di sekitarnya saja. Kalangan tingkat tinggi terus berusaha melokalisasi terbongkarnya rahasia itu agar jangan meluas seperti bola liar kesana kesini. Sebentar lagi ada pemilu, ada pilkada, jaga pak kiayi jangan sampai masalah sepele akan merugikan pihak yang lebih besar. Jika sibuk bentrok gara-gara isteri tua dan isteri muda, kapan pak kiayi akan tausiah di mimbar kampanye? ”Jaga dan rapi” ujar H. Amin. ”Siap” yang lain menyahut.

******************

Sejak dua minggu terakhir, pak kiayi atau salah seorang pembantunya tak menghubungiku lagi Biasanya selalu ada kabar, selalu ada rencana pak kiayi mengunjungiku, walau dengan cara sembunyi-sembunyi. Aku mulai khawatir, apa yang terjadi dengan pak kiayi yang sudah sepuh. Bagaimana jika umi senior dengan kekuatan fisiknya melakukan tindakan kekerasan? Berbagai perasaan berkecamuk dibenakku, karena umi senior, Ummi Umarah terkenal fisiknya sangat kuat, bekerja keras dan ulet walau usianya telah menginjak enam puluh tahunan. Beliau dikenal sangat kuat bekerja, kuat bicara, karena beliau juga seorang ustazah. “Ah!… Masa seorang ustazah akan berlaku kasar pada suaminya yang seorang kiayi yang dihormati orang banyak” gumamku.

Umi Umarah, sudah tahu, apa yang terjadi terhadap pak kiayi. Hanya itu yang aku tahu dari salah seorang kerabat ibuku. Sejak itu tidak ada kontak lagi, mungkin beliau takut, beliau memikirkan kemaslahatan ummat yang lebih besar, beliau malu jika kasus berbohong yang dibolehkan itu, terbongkar, lalu ummi senior tak mampu menahan emosinya, tersesak nafasnya, meningkat emosinya lalu gelap mata. Aku takut sekali. Aku tidak bisa berlari kemanapun, kecuali memendam diri di rumah ibuku, Ibuku bilang jangan menampakkan diri, ini urusan tingkat tinggi. Para pengurus yayasan dan para kiayi akan membantu memadamkan kemarahan umi Umarah.

Rapat teras dilakukan. Semua petinggi yayasan dan beberapa kiayi berkumpul di rumah kerabat Ummi Umarah. Semua petinggi memelas kepada Ummi agar menerima kenyataan. Berbagai petuah agama dilontarkan dalam rapat teras ini, namun Ummi tak dapat dibendung emosinya. Pak kiyai masuk kedalam ruangan sebelah membaca doa-doa lalu membawa segelas air, agar diminum oleh Ummi. Mungkin air harapan untuk menenangkan hati Ummi yang membara, karena marah dan terkejut. Gelas dibanting sambil mengumpati air, “air tak berguna” semua doa dan mantra terpental oleh emosi yang memuncak. Rapat teras gagal, tak ada perdamaian, yang ada adalah permusuhan.

Ummi Umarah, tak dapat memaafkan tindakan pak kiayi, karena telah melakukan kebohongan padanya selama empat tahun. Selama 4 tahun pernikahannya dengan Maisuro juga tak menghasilkan seorang putra. Yang diharapkan akan meneruskan memimpin Pondok Pesantren. Harapan untuk itu terus ada, karea istri mudanya memang punya harapan, sedangkan ummi senior tidak ada harapan, karena telah 25 tahun memasuki menopause, tak mungkin akan punya anak lagi. Sedang dengan Maisuro?, masih ada harapan, tapi juga masih ada kenikmatan ragawi yang diperoleh kedua belah pihak. Perang dingin terus berlangsung di antara kedua ummi, dan sangat menyulitkan pak kiayi keluar rumah, kecuali Ummi Umarah ikut mendampingi. Selama empat tahun, masa sunyi dalam perang dingin yang menyulitkan, aku manfaatkan untuk menuntut ilmu. Aku sekarang sudah Es Satu, sebagai guru dan aku bertekad ke jenjang Es Dua.

Aku berjanji pada diriku, bahwa akulah yang akan berbakti kepada Pondok Pesantren ini yang telah memberikan pendidikan bagi diriku dan orang banyak. Walaupun aku tak punya anak keturunan dari pernikahan dengan pak kiayi, aku merasa tidak berdosa terhadap Ummi Umarah, karena tujuan pak kiayi untuk masa depan sekolah dan lembaga pendidikannya. Tetapi mengapa mereka harus berbohong pada Ummi? Aku merasa lebih tenang sekarang, aku lebih fokus membaca buku dan mengikuti berbagai kegiatan disekitar kampus pendidikan. Aku tetap menjaga jarak dengan semua pihak, aku berusaha menghindar dari perhatian Ummi Umarah.

Sudah sepuluh tahun aku menyandang gelar ummi bajang, aku belum punya anak, Ummi Umarah juga tidak punya anak. Pak kiyai sekarang telah berusia 75 tahun. Aku sangat tertegun, menerima telepon dari Ummi Umarah, ini kontak pertama setelah bersembunyi selama sepuluh tahun. Aku kawatir mengangkat telepon, gemetar tanganku, apa yang akan terjadi pada diriku? Apa yang akan aku lakukan jika Ummi Umarah mengancam akan mencariku dan mengoyak tubuhku dengan segala sumpah serapah? Aku angkat telepon itu perlahan, aku terdiam, aku takut, lalu “Maisuro, Assalamulaikum, siap-siap kamu akan ikut naik haji pada tahun ini”. Terkesiap aku mendengar suara Ummi yang lembut dan berwibawa. ”Enggih umi” jawabku perlahan sambil menunduk mencium tangannya dalam bayangan patamorgana yang menggetarkan jiwaku. Tahun ini, aku, Ummi Umarah dan pak kiayi, naik hajji. Mungkin selama 10 tahun. pak kiayi tetap memberi mantra pada air minum ummi, yang dilakukannya secara tersembunyi, Allah memberikan hidayah kepada Ummi Umarah, kepada pak kiayi dan kepadaku.

Menampilkan lebih banyak

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Lihat Juga

Close
Close
Close