Opini dan Artikel
Trending

CINA, MENYIMAK RIZAL RAMLI

Dalam acara ILC di TV one, tanggal 21 April 2020 yang baru lalu, berkaitan dengan penanggulangan corona di Indonesia, ekonom Rizal Ramli banyak mengeritik cara pemerintah dalam mengambil leputusan yang berkaian dengan masalah tersebut.

Ketika pembahasannya berkaitan dengan kebingungan pemerinah dan keterLambatan mengambil keputusan, pada umumnya saya setuju, demikian pula ketika beliau mengambil contoh  tentang adanya gagasan bagaimana pemerintah akan mempermudah mendatangkan turis dengan menurunkan harga tiket, ketika mana semua berbicara tentang social distancing, saya juga terperangah dengan kebijaksanaan yang tidak masuk akal tersebut.

Tapi ketika Rizal Ramli dengan berapi api memarahi pemeintah Indonesia yang memiliki hubungan ekonomi yang erat dengan Cina, mungkin baik untuk diluruskan, Hubungan dagang dan budaya antara Indonesia dan Cina telah terjalin ribuan tahun yang lalu. Orang-orang Cina di sebagian Kalimantan, bisa jadi telah ribuan tahun hidup sebagai penduduk asli disana, sebagai petani, pengayuh becak, kuli dan aparat pemerintah lokal. Memang kedatangan orang Cina ke Batavia pada sekitar tahun 1700 adalah inisiatif dari kapitalis  Belanda, untuk memperoleh tenaga terlatih dan berketrampilan, ketika Batavia mulai dibangun. Belanda juga pada akhirnya memperlakukan orang Cina dengan tidak adil dan teror ketika mereka sudah mulai menguasai sektor ekonomi yang sebelumnya dimonopoli Belanda. Belanda juga menanamkan anti Cina dengan berbagai muslihat sebagai cara memecah belah bangsa yang dijajah pada saat itu, akan tetapi alasan utamanya adalah persaingan ekonomi dan perdagangan. Orang Cina di Batavia, karena kerja kerasnya dengan cepat dapat menyaingi orang Belanda yang sebelumnya memonopoli perdagangan. Bukankah orang Belanda yang pertama membawa mereka sebagai pekerja, ketika Batavia mulai dikembangkan?.

Kerusuhan Batavia pada tahun. 1740 (chinezemoord) berupa pembantaian ribuan orang Cina oleh perusahaan dagang VOC sebenarnya didalangi oleh pedagang Belanda, yang menyebabkan orang Cina melarikan diri ke berbagai daerah di Hindia Belanda dahulu. Itu artinya orang Cina di Indonesia, sejak lama mengalami masalah dan selalu dipermasalahkan. Berdasarkan pengalaman sejarah orang Cina di Indonesia yang banyak mendapat serangan dalam berbagai kerusuhan selama ini, wajarlah kiranya jika kebanyakan mereka mengalami trauma dan penuh kewaspadaan, kecuali mereka yang telah berintegrasi secara total dalam sistim masyarakat kita.

 

Cina dan Partai Komunis Cina.

Hubungan Indonesia dengan   negara komunis, harus diakui pernah terjalin dengan baik, terutama dalam gelora anti kolonialisme sejak Konprensi Asia Afrika, dimana Cina juga mengambil peranan penting. Sebelumnya, Uni Sovyet telah membantu Indonesia dalam perangnya melawan kolonialisme Belanda dalam perebutan Irian Barat(sekarang Papua). Bantuan teknologi dan militer tersebut adalah karena kesamaan pandangan tentang kolonialisme yang disponsori oleh negara negara Barat dan telah merugikan banyak  negara  di dunia termasuk Cina dan Indonesia. Hubungan baik tersebutlah yang mendorong tumbuhnya PKI di Indonesia dan presiden Soekarno melahirkan pemikiran yang disebut Nasakom (Nasional, Agama, Komunis) realita politik yang ada di Indonesia saat itu.

Pada tahun 1965, ketika G.30.S,PKI,PKI memiliki hubungan yang baik dengan Partai Komnis Cina. Pandangan umum yang berkembang pada saat itu adalah adanya keterlibatan Partai Komunis Cina dengan PKI di Indonesia. Memang hubungan antara partai PKI dengan partai komunis di seluruh dunia (comintern) adalah karena adanya kesamaan ideologi.  Tetapi pada saat bersamaan juga, Partai Komunis Cina dan Partai Komunis dibawah  Unie Sovyet sedang bersaing untuk merebut pengaruh didunia, dimana Indonesia menjadi sangat penting, karena luas wilayah dan jumlah penduduknya dan besarnya jumlah anggauta PKI saat itu. PKI pada tahun 1965, ketika Indonesia dibawah presiden Soekarno,PKI menjadi partai nomor tiga  terbesar anggautanya di Indonesia. Sebenarnya sejak PKI dibubarkan,tidak ada lagi PKI di Indonesa, secara formil partai itu terlarang, bahkan anggauta PKI sudah banyak yang meninggal dunia baik secara alamiah atau dibunuh oleh kekuatan massa pada sekiatar 1965/1966.

Sejumlah politisi di Indonesia seringkali memutar kaset  ceritra masa lalu  itu untuk tujuan tertentu mereka, lalu menyeret sebagian masyarakat pada pro dan kontra pada  pemahaman komunisme secara umum, padahal pemerintah melalui Tap MPRS NoXXV. tahun 1966 telah  melarang paham komunisme  di bumi Indonesia, kecuali untuk tujuan akademik dan research ilmiah, walaupun Tap. MPRS tersebut tetap dapat diperdebatkan,tapi tetap masih berlaku.

25 tahun kemudian, setelah PKI di tumpas di Indonesia, simbol dominasi komunis dunia akhirnya runtuh. Uni Sovyet bubar, setelah  Mikhail Gorbachev mengundurkan diri sebagai presiden Uni Sovyet. Glasnot dan perestroika dengan cepat membubarkan Sovyet setelah menguasai blok Timur sejak 1922 (70 thn). Komunis telah berakhir dan berantakan setelah 70 tahun menjadi simbol ideologi perlawanan terhadap kapitalisme dibawah pimpinan Amerika Serikat dan Eropah Barat. Negara Eropah Timur termasuk Berlin Timur yang sebelumnya menjadi bagian dari Blok Komunis dunia, secepatnya memilih jalannya sendiri. Seakan akan  didalam negara komunis itu sendiri sudah lama terdapat kebosanan mereka terhadap ideologi dan sistim ekonominya. Dengan bubarnya Uni Soyet, kita bisa menyaksikan keadaan yang  sebenarnya dari negara negara eks komunis, termasuk juga Cina. Imprasruktur dan kemiskinan menjadi pemandangan yang kasat mata, padahal sebelumnya semua itu tersembunyi dibalik apa yang disebut tirai besi dan tirai bambu.

Sejak runtuhnya Unie Sovyet, pada dasarnya sudah tidak ada negara komunis lagi di dunia ,dalam arti yang mempraktekkan ajaran Karl Mark khususnya dibidang ekonomi. Partai komunis yang ada di Cina dan Vietnam, isinya sudah tidak sesuai lagi  dengan ajaran asli dari  Marxisme, bahkan juga  Korea Utara, Kuba maupun Venezuela. Partai Komunis Cina harus dilihat sebagai alat yang digunakan untuk mempersatukan bangsa Cina yang latar belakang kulturalnya hampir serupa dengan Indonesi yang terdiri dari berbagai suku dan bahasa. Mao Che Tung telah menggunakan partai itu untuk mempersatukan semua wilayah dan etnis di Cina, hampir sama dengan Lenin di Rusia. Selama mereka belum yakin, bahwa negara itu belum mampu mempetahankan bangsanya  dengan cara lain, kendali Partai Komunis akan tetap digunakan, sementara ekonomi pasar masuk dengan leluasa kedalam negara tersebut. Ketika saya mengunjungi Cina (2015) dan Vietnam(2018) masyarakat dari kedua negara tersebut sangat puas dengan sistim   satu partai. Bagi mereka adalah yang penting pekerjaan dan tingkat kesejahteraan. Investor juga lebih aman berinvestasi di negara yang gejolak politiknya hampir nol persen. Cina  bertindak tegas pada anasir anasir pro demokrasi, yang dipandang mengganggu investasi dan stabilitas nasional  yang sangat dibutuhkan. Kurang dari  empat dasawarsa setelah runtuhnya sistim ekonomi komunis, dunia tercengang menyaksikan perkembangan ekonomi di negara Cina maupun  Vietnam. Pada saat bersamaan sistim satu partai, apakah namanya partai komunis, partai pekerja atau partai buruh, hanyalah instrumen kontrol ketatanegaraan belaka.

Oleh karena itu ketakutan kita pada idologi komunisme itu,kurang beralasan, karena partai komunis yang tersisa, hanyalah alat bagi bangsa itu untuk mempersatukan  warganya, hal mana sangat didukung oleh mayoritas rakyatnya(hasil wawancara saya dengan  sejumlah elemen msyarakat di kedua negara tersebut). Memang kekejaman PKI dimasa lalu sama saja dengan kekejaman Belanda, Inggris, Portugis yang dicatat oleh sejarah kita, sudah barang tentu agar tetap sebagai pengingat untuk menjaga kewaspadaan kita.

Sesama negara Asia.

Sebelum kasus corona menyibukkan dunia, kita disibukkan oleh perang dagang antara Amerika dan Cina. Tentu saja Amerikalah yang memulai perang tersebut. Walaupun kelihatannya  perang itu agak mereda, kita tetap  khawatir jika suatu saat akan meledak lagi. Mengapa perang dagang tersebut mengkhawatirkan negara lain, terutama kita di Indonesia? Karena  perang dagang tersebut akan sangat berpengaruh pada ekonomi Indonesia dan kawasan sekitarnya, Ekonomi kita yang pas pasan akan sangat tergantung pada stabilitas hubungan antara negara raksasa ekonomi seperti Cina dan Amerika  ketika kita belum mampu keluar dari ketergantungan impor/eksport dari kedua negara tersebut,terutama Cina, karena itulah dunia membutuhkan situasi yang damai diantara semua negara terutama antara Amerika dan Cina.

Latar belakang sejarah masa lalu antara Indonesia dan Cina, terutama hubungan sejarah yang panjang dan penderitaan yang sama, baik Indonesia maupun Cina pernah dijajah dan dipecah belah oleh negara negara Barat dan fasisme Jepang, pada dasarnya kedua aspek inilah yang seharusnya menjadi acuan dalam hubungan bilateral di era milenial ini. Pengalaman sejarah penindasan bangsa bangsa Barat seharusnya menjadi pendorong bagi bangsa bangsa di Asia untuk mrekonstruksi basis nilai budayanya yang telah dirusak oleh kaum kolonial dimasa lalu. Saya rasa Cina menggunakan  anti kolonilsme yang membara, bahwa bangsa Cina dimasa lalu, telah lebih dahulu maju dari bangsa Eropah, kemudian dihancurkan oleh kolonialisme, dan sekarang mereka ingin reinkarnasi dan membuktikan kepada dunia, bahwa bangsa Cina tidak boleh diremehkan dan dipermalukan lagi. Seharusnya Indonesia juga melatar belakangi dirinya dengan perasaan seperti itu,dengan menekankan pada perwujudan nilai Pancasila dalam segala aspek pembangunan yang diperjuangkan, bukan hanya mewacanakan saja.

Seandainya negara Asia seperti Cina yang  telah meraih kemajuan itu, tentu melalui kerja keras, maka sebagai bangsa Asia, sepatutnya kita ikut bangga,karena dengan kemajuan itu kita mengambil manfaat dan secara bertahap pada suatu saat nanti akan dapat menyalip atau sekurangnya dalam posisi yang  sama dengan Cina. Karena itu maka kemajuan yang dicapai oleh Cina haruslah kita anggap sebagai guru tempat belajar dalam bentuk kerja sama yang saling menguntungkan. Dalam interaksi tersebut jika terdapat kekeliruan atau perbedaan hendaklah dapat diselesaikan menurut cara bertetangga sesama bangsa Asia. Hal ini penting dikemukakan, karena kita sudah berpengalaman diadu domba oleh bngsa bangsa Barat sejak jaman penjajahan terdahulu.Bukankah jarak antara Indonesia dan Cina lebih dekat daripada jarak Indonesia dan Amerika?

Tenaga Kerja Asing.

Hampir semua negara di dunia ini ,entah dari negara maju atau negara miskin,memang  sangat membutuhkan devisa dari tenaga kerjanya di luar negeri. Diwaktu saya menjabat sebagai bupati,saya berusaha mengirimkan sebanyak mungkin tenaga kerja ke luar negeri, khususnya Malaysia.Jika negara maju mengirimkan tenaga ahli, bangsa kita mengirimkan tenaga buruh kasar. Jika peluang itu tidak kita ambil, maka negara lain akan mengambilnya. Itu prinsip yang saya anu saat itut, sambil terus meningkatkan kuwalitas tenaga kerja kita melalui BLK yang dimiliki oleh daerah. Sementara itu banyak para pejabat menghamburkan wacana kosong dengan janji akan mengirim ke luar negeri tenaga ahli, tenaga terlatih, seperti para perawat, para dokter dan sebagainya, padahal didalam negeri  kita sendiri tidak memiliki tenaga ahli yang diwacanakan tersebut. Dari tenaga kasar yang saya kirim, setiap tahun, masuk uang sekitar 850 milyar rupiah  sebagai devisa yang berasal dari gaji  yang diterima oleh keluarga mereka di pedesaan Lombok. Jumlah itu cukup besar jika dibandingkn dengan APBD daerah saya pada waktu itu.

Berbagai perusahaan dari berbagai negara invesor (pemerintah atau swasta), memang seringkali membonceng tenaga kerja untuk bekerja pada proyek investasi dari negara asalnya. Salah satu alasannya, adalah kesamaan budaya dan bahasa. Selain itu juga investor menghitung produktifitas tenaga kerja lokal dibandingkan dengan tenaga kerja asal negara investor tersebut. Bisa jadi gaji tenaga kerja asal dari negara investor lebih mahal jika dibandngkn dengan menggunakan tenaga kerja lokal. Memang ada aturan   agar investor itu diharuskan menggunakan tenaga kerja lokal, tetapi perlu waktu penyesuaian dan latihan. Biasanya untuk menghemat waktu pada tahap awal investor membwa tenaga kerja dari negaranya dan secara bertahap akan diisi oleh tenaga lokal. Sebagai contoh pada waktu awal PT Newmon di Sumbawa, juga diprotes oleh pemerintah daerah, karena mereka membawa kariawannya dari daerah lain yang sudah berpengalaman. Protes tersebut hilang seketika, setelah beberapa tahun kemudian tenaga lokal mendominasi hampir semua keahlian pada perushaan tersebut, tentu setelah melalui proses latihan dan magang.

Di banyak negara dijumpai banyak kasus perusahaan lebih untung mempekerjakan tenaga kerja asing illegal,karena perusahaan membayar dengan harga yang murah, tanpa pajak, tanpa asuransi. Biasanya tenaga illegal dipekerjakan pada bagian yang tidak memerlukan ketrampilan atau pekerjaan kasar,seperti pelayan di restoran, tukang kebun, buruh pertanian atau peternakan.Di banding dengan di Indonesia, jumlah buruh illegal di Malaysia , Amerika Serikat, Arab Saudi,dan negara yang lain jumlahnya lebih besar. Hal itu terjadi karena tersedia lapangan kerja, terutama pada pekerjaan yang tidak memerlukan keahlian. Di Indonesia pekerja illegal masih sangat kecil, biasanya buruh kasar pada proyek investasi dari luar negeri terutama dari Cina atau Korea Selatan mengikuti proyek bantuan Cina pada Indonesia. Ada juga pekerja illegal lain seperti PSK, guru bahasa yang dipekerjakan pada berbgai kursus bahasa di Indonesia.

Beberapa negara mengharuskan investornya yang bekerja di luar negeri,agar mempekerjakan sejumlah warga negaranya sebagai kariawan dengan tujuan agar gajinya dikirim kembali ke negara  asal investor terebut sebagai devisa. Hampir semua perusahaan asing yang ada di Indonesia, mempekerjakan tenaga kerja dari negara asal agar sebagain devisa masuk ke negara asal.Bahkan bantuan asing dalam bentuk grant juga kadangkala mengirim sejumlah orang dari negara donor sebagai pendamping atau semacam konsultan, walaupun kwalitasnya juga sangat tidak bermutu. Ini semua adalah berkaitan dengan devisa dari tenaga kerja antar bangsa, dan dari segi keuntungan perusahaan dari paktor produksi tenaga kerta.Sebagai akibat dari  kebutuhan akan tenaga kerja murah, maka praktik human traficking berkembang di semua penjuru dunia. Sejumlah orang Cina atau dari negara Asia dan Afrika dikirim melalui truk boxs atau dengan dalih pengungsi merupakan wujud dari kebutuhan industri dengan biaya rendah tersebut. Bisa jadi tenaga asal Cina, atau Korea Selatan yang ada di Indonesia, juga disalurkan oleh pasar gelap tenaga kerja yang  dikelola oleh semacam bandit ketenaga kerjaan. Dalam hal ini para pelakunya biasanya dari dalam negeri sendiri bekerja sama dengn agen tenaga kerja gelap yang ada disetiap negara,termasuk di Amerika dan Eropah Barat.Saya kira hal ini berkaitan dengan ekonomi bukan politik.

Simpulan.

Saudara Rizal Ramli, mengingatkan kita akan kemungkinan dominasi bangsa lain terhadap ekonomi bangsa kita, haruslah dipandang sebagai suatu hal yang positif. Akan tetapi xenophobie harus dihindari, dalam rangka sesama negara Asia. Orang Cina di Indonesia tidak mengenal sistim ekonomi komunis, karena sejak ribuan tahun tinggal di Indonesia, mereka hidup dalam sistim pasar bebas. Memang  semua ummat manusia akan selalu berhubungan dengan asal usulnya dan dibina dalam rangka budaya ummat manusia. Orang Arab di Indonesia, selalu membanggakan dirinya sebagai orang Arab, demikian pula orang India, orang Cina, orang Jepang dan orang darimana saja di dunia ini. Hal itu harus dikaitkan dengan sistim budaya manusia. Sama dengan orang Jawa, orang Padang, orang Sulawesi, mereka selalu membentuk peguyuban sesama etniknya. Apakah mereka salah?.

Ekonomi Indonesia dikuasai oleh sebagian besar orang asal Cina di Indonesia.Apakah mereka salah? Kalau jawabnya ya, timbul pertanyan,siapakah yang menciptakan sistim perekonomian kita yang menyebabkan hal itu terjadi? Pertumbuhan ekonomi di Indonesia, hampir tak ada manfaatnya jika pertumbuhan itu dinikmati oleh segelintir orang kaya Indonesia,lalu siapakah yang bertanggung jawab? Jangan salahkan mereka orang etnis  Cina di Indonesia,mereka hanya pedagang biasa.

Banyak orang Cina mengeluh, telah menjadi sapi perahan dari berbagi sektor pemerintahan, tapi mereka tidak berdaya. Siapa yang membuka peluang korupsi, kolusi dan nepotisme dengan orang Cina kaya di Indonsia? Hal itu tidak terjadi dengan sendirinya, mentornya adalah kemungkinan para petinggi birokrasi di negeri ini. Bahkan saya meragukan bahwa beberapa staf khusus presiden yang membuat kekeliruan dengan maksud untuk melibatkan perusahaannya, lahir dari inisiatifnya sendiri. Memperhatikan usianya, pengalamannya di pemerintahan, usianya yang terlalu muda, terlalu awam dari pikiran kotor. Saya menduga mentornya adalah orang orang didalam birokrasi dan politisi kelas tinggi yang berpengalaman, dengan melihat peluang dimasa darurat, dengan melihat kedudukan para staf khusus yang masih muda dan tidak berpengalaman dibidang kolusi dan nepotisme. Bandingkanlah dengan proyek lain seperti KTP elektronik yang lalu. Kritik Rizal Ramli, bagaimanapun juga tetap dibutuhkan oleh negara. Dan pemerintah yang anti kritik, pastilah pemerintah yang bodoh.

Selong, hari Kartini 2020

 

Moh.Ali B.Dahlan,

Mantan Bupati Lombok Timur, sekarang Rektor Universitas Gunung Rinjani.

Menampilkan lebih banyak

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close