Kumpulan Cerpen
Trending

Mimpi Cinta

Walau umurnya memasuki usia senja, lelaki itu masih tak mengerti cinta. Kata cinta hampir tak pernah keluar dari mulutnya. Bahkan dalam hatinya pun mungkin tak pernah terlintas ungkapan kalimat yang menyerupai kata cinta. Memang lelaki ini mungkin tak mengerti, seperti apa perwujudannya, lalu untuk apa diucapkan? Anehnya kata ini telah membanjiri untaian lagu para biduan, untaian bait dari  banyak puisi dari  para penyair, memenuhi halaman sejumlah novel atau cerpen, pantun atau seloka, atau gurindam dari para pujangga. Kata itu diucapkan, lalu direnungkan, menggelayut dalam mimpi, kadang diakhiri dengan tangis, sedih dan gembira, tertawa bahkan berjingkrak karena rasa rindu, puas dan bahagia, Cinta. Lalu ada juga  yang bunuh diri, ketika orang yang dicintainya akhirnya pergi jauh meninggalkannya, sementara orang ketiga memasuki relung hatinya, juga namanya cinta.

Di desa tempat kelahirannya, kata itu tidak  terlalu sering muncul dalam pergaulan muda mudi atau dalam pembicaraan yang bersifat umum. Memang ada sebutan kata yang lain yang  mungkin maksudnya  mendekati arti kata itu. Tapi apapun istilahnya, dulu, sekarang, di desa atau di kota, bagi lelaki berkumis itu, tidaklah penting. Karena lelaki itu, sejak masa mudanya hanya bekerja, bekerja, lalu kelebihan waktunya diisi dengan membaca dan membaca. Dari banyak buku koleksinya, kadang ada kata cinta, tapi hanya dibaca sepintas lalu dan tak pernah diucapkan secara khusus. Jika seandainya ada orang yang bertanya, apakah  lelaki itu pernah mengucapkan kata cinta dan memiliki rasa cinta, lelaki itu pasti tidak akan bisa menjawabnya, mungkin sekali bahwa dia tak mengerti arti kata itu. Cinta. Cinta, hanya berkaitan dengan seorang pemuda dan seorang gadis, seorang lelaki dengan perempuan? Hanya itukah arti kata cinta? Lelaki itu tetap tak pernah mengerti, betapa sederhana kata itu, betapa terbatas maknanya, lalu untuk apa dipikirkan?

Suatu sore, di bulan September, lelaki itu sedang duduk membaca sebuah novel cinta dari Motinggo B, yang diambilnya dari tumpukan buku miliknya. Dia terus membacanya, walaupun mungkin dia tahu isinya hanyalah hayalan penulisnya, Motinggo Bosye. Seorang perempuan, tiba tiba mendekatinya, lalu menyapa dan mencium tangannya, dengan penuh rasa hormat. Perempuan itu, seorang gadis dua puluhan tahun, berwajah putih, lembut dan cantik. Badan dan bagian tubuhnya tertutap hijab sebagai simbol ketaatan pada agamanya, gadis baik baik, dari keluarga yang baik, datang dengan tujuan baik, berpakaian baik dan bersikap baik, terlintas sejenak dalam benak lelaki itu. Baik sekali gadis ini, lalu  gadis  itu duduk  di dekatnya, lalu  keluar suaranya yang lembut, hampir tak terdengar olehnya.

“Saya cinta padamu, tapi kapan saya akan dinikahi, karena sudah banyak orang yang datang melamarku, tapi selalu kutolak, karena saya hanya cinta sama kakak”, lanjutnya. Novel yang sedang dibacanya, ditutupnya perlahan, lalu ditatapnya wajah gadis yang duduk disampingnya, gadis yang terbungkus hijab warna hitam, matanya yang bening dan beloh memandang tajam padanya, dekat sekali.

Apa yang akan diucapkannya? Dia sendiri tak pernah mengucapkan kata cinta dan sampai hari ini, di bulan September ini, dia juga belum paham arti kata cinta. Dia berpikir sejenak. Dia selalu waspada agar jangan salah dalam melangkah, salah dalam mengucapkan kata, nanti salah di mengerti oleh pihak lain. Ditatapnya dengan tajam  wajah imut sang gadis dari alas kaki hingga ujung rambutnya walau tertutup hijab berwarna hitam, tanpak kulit tangannya yang putih, suci dan penuh tanda tanya. Gadis ini penuh iman, penuh ketaatan pada agamanya, sedangkan dia, lelaki itu? Dia orang urakan, pakaiannya sering tidak rapi, orang lain kadang menyebutnya manusia nyentrik, manusia yang tidak dapat dipahami isi hatinya. Pendek kata banyak gelar tidak hormat yang ditimpakan padanya sepanjang hidupnya sejak muda hingga usianya setua ini, mulai dari cara berpakaian, ungkapan kata katanya dan caranya dalam pergaulan. Pendek kata, lelaki ini orang kurang baik, kurang patut untuk dicontoh. Dia  sering disebut sebagai manusia yang tidak bisa diatur, manusia yang mau melaksanakan apa yang dikehendakinya sendiri, manusia keras kepala, manusia yang  hanya mendengar kata hatinya. Pendek kata, berbagai tuduhan buruk dari sejak dahulu hingga bulan September ini, ditimpakan orang pada dirinya. Tetapi semua gelar buruk yang diterimanya, dinikmatinya sebagai penghargaan dari, karena bukankah tidak semua orang dapat pernilaian? Dia selalu berfikir, semua gaya hidupnya untuk dirinya dan bukan untuk  pihak lain? Bukankah dia tidak pernah memberi gelar buruk pada siapapun? Bahkan dia selalu berfikir baik tentang setiap orang, biarlah orang berbeda menurut kemampuan setiap individu, menurut kemampuannya. Tapi tentang dirinya? Baiklah, dia orang tidak baik dan dia tidak menuntut siapapun, agar dia dianggap sebagai orang baik. Tapi mengapa seorang gadis datang kepadanya, lalu mengungkapkan rasa cintanya, lalu menyerahkan dirinya untuk dinikahi? Dia masih belum tahu dan belum percaya, ucapan gadis berhijab itu, apakah dia mengerti arti kata cinta dan pernikahan?

Dengan suara lembut, dia bertanya pada gadis berhijab hitam itu ”Apakah  kamu tahu arti kata cinta?”

“Saya tahu” jawab gadis itu, sigap dan singkat penuh keyakinan.

“Lalu menurutmu artinya apa”?

“Ya cinta, karena kakak orang baik, orang yang mampu menjadi suami yang akan memimpin saya”.

Dia meragukan ucapan gadis berhijab hitam itu, karena sepanjang hidupnya tak pernah ada yang menyatakan dirinya sebagai orang baik, bahkan orang yang berpendidikan paling tinggi, para politisi sering menyebutnya orang yang keras, nyentrik, urakan dan sejumlah sebutan lainnya. Orang yang tak pernah tersenyum, tak ramah tamah. Tetapi mengapa gadis cantik ini tiba tiba memberinya gelar,sebagai orang baik, yang mampu memimpinnya, mampu menjadi suaminya jika dia menikahinya? Tapi apa hubungan cinta, suami dan memimpin? Dia merenung sejenak, lalu bertanya sekali lagi pada gadis berhijab hitam itu,

“Apakah kamu pernah mencintai orang lain”?

“Tidak pernah, memang  dahulu banyak orang datang ingin melamarku, tetapi selalu kutolak, karena saya sudah yakin hanya kakak yang kucintai”

Dalam pikirannya gadis berhijab ini mungkin belum tahu arti cinta, dan belum begitu mengerti tentang diri lelaki tua berkumis itu. Dia jauh lebih  tua, jika dibandingkan dengan usia gadis berhijab itu, lalu mengapa  gadis itu mau mencintainya dan bahkan ingin menikah dengannya? Dia sendiri tak mengerti arti kata cinta itu. Jika untuk hal ini, dia diberi gelar, sebagai lelaki bodoh, dia tak keberatan. Untuk apa keberatan? Dia memang bodoh soal ini, karena itu bertanya dia  pada gadis bercadar itu,

“Tapi apa yang kau maksud dengan cinta?”, tanyanya lagi.

“Saya tidak bisa mendifinisikannya, tetapi saya mau, itu saja” Jawabannya singkat. Mungkin dia tak pandai membuat definisi atau membuat uraian yang lebih mendalam soal cinta. Memang seharusnya tak perlu ditanyakan, tetapi dia merasa perlu mendalami, karena dia sendiri sungguh tidak mengerti arti cinta, lebih lebih apa yang diucapkan gadis yang sedang duduk secara khusus di dekatnya

Beberapa orang berkerumun tak jauh dari tempat duduk bersama seorang gadis berhijab hitam. Dia mulai gelisah, jangan sampai orang berkesan buruk dengannya. Jangan sampai virus korona menempel pada hijab hitam sang gadis lalu melompat ke wajahnya yang terlalu dekat dengan wajah sang gadis. Mungkin lain kali lagi dia akan sambung pertemuan tak direncanakan ini, dia beringsut dari tempat duduknya, lalu gadis itu mencium tangannya lagi, lalu gadis itu meninggalkannya dengan penuh tanda tanya, lalu dia berfikir tentang kejadian yang baru saja dialaminyai, lalu diambilnya laptop putih kecil miliknya, lalu dia mulai menulis sambil bersandar di dinding kamar kerjanya yang penuh tumpukan buku dan catatan perjalanan hidupnya.

”Pada awalnya aku terkesiap, ketika kau datang dengan tiba tiba, lalu duduk dismpingku. Perlahan aku mampu menguasai diriku,lalu aku  berusaha menjadi manusia yang sangat tenang. Aku tahu kau gadis yang cantik, dengan hijab hitam yang membungkus tubuhmu, kukira kecantikanmu akan sempuna dengan iman yang melekat didadamu. Aku juga tahu setelah kau pergi dari sisiku, tadi sore, seorang pemuda menyambarmu lalu kau naik di boncengan sepeda motornya, lalu tangan kananmu melingkar dipinggangnya lalu juntai hijabmu berbaur dengan leher si pemuda pasanganmu  itu. Mungkin pemuda ini hanyalah salah satu dari lelaki yang sering membawamu pergi entah kemana, baik di siang maupun dimalam hari. Aku tahu itu semua, tapi  aku  tak berminat mendalaminya, karena aku bukan saingan dari sejumlah lelaki yang sering kau kunjungi dirumahnya dan sering membawamu entah kemana.

Aku tahu kau bukan perawan seperti yang diceritrakan dalam mitologi masa lalu, karena kau mungkin sering berdekatan dengan banyak lelaki, tapi apa urusannya denganku? Kau perawan atau tidak, itu urusanmu, aku tidak peduli dengan urusan orang lain, juga tentang dirimu. Bukankah kau perawan sekarang, akhirnya menjadi tidak perawan nanti? Atau kau tidak perawan sekarang, karena kau telah melakukannya dahulu? Kau sudah mereguk birahimu terlebih dahulu, Ini hanyalah perbedaan waktu dan itu urusanmu sendiri, karena waktu adalah milik setiap individu. Aku tak peduli dengan urusanmu dan aku tidak peduli dengan kata cintamu tadi sore, karena aku sendiri tak pernah mengucapkan cinta padamu, karena aku sendiri tak mengerti kalimat yang kau ucapkan. Karena aku sendiri sudah tahu siapa dirimu dan apa yang kau ucapkan ketika kau duduk didekatku tadi sore.

Seandainya setiap lelaki adalah sebuah pulau kecil, sudah berapa pulaukah yang kau singgahi dalam pelayaran cintamu, menurut  ungkapan kata yang kau ucapkan padaku tadi sore? Seandainya aku adalah sebuah pulau persinggahanmu, lalu kau hanya datang untuk berceritra tentang cinta dan pernikahan, sementara kau tetap duduk diatas perahu yang kau  tumpangi  lalu setelah itu kau lanjutkan pengelanaanmu, walau aku berikan bahan bakar untuk perahu yang kau tumpangi, tapi jangan ucapkan kata cinta dihadapanku, karena aku senang melihatmu dapat meneruskan perjalananmu dalam mencari pulau persinggahan, karena aku bukan seorang remaja  seperti dirimu. Aku hanya manusia yang akan membantu siapapun yang tersesat dijalanan, apalagi dirimu yang sedang dalam perjalanan panjang menyisir pantai dan menyinggahi banyak pulau yang ada dihadapanmu, dan bukankah aku sudah mengenalmu sejak dahulu, sejak kau datang dengan keluh kesahmu?

Seandainya, disekitarmu banyak juga perempuan dan gadis yang  meniru jalan hidupmu, berselancar diatas gelombang diantara pulau yang satu dengan yang lainnya, itu adalah kehendak jamanmu. Aku tak akan  pernah merendahkan tentang kebebasan perempuan bermain cinta dengan siapa saja,dari hari kehari, dari seorang dan orang yang lain, lalu dengan lihai menyembunyikannya, seakan mereka adalah gadis suci yang setia dengan orang yang ada dihadapannya. Memang dimasa lalu ada anggapan, bahwa perempuan lebih setia dibandingkan dengan lelaki, mungkin anggapan itu tidak seluruhnya benar, yang benar adalah apa bedanya laki dan perempuan? Bukankah laki berpasangan dengan perempuan? Jika mereka berbeda mungkin tak layak disebut berpasangan. Jika lelaki nakal, maka perempuan juga nakal. Yang tidak layak, adalah jika diantara mereka ada ketidak jujuran dan ada kelicikan. Aku tahu kau tidak jujur, tapi aku tahu kau bukan licik, kau hanya terpaksa karena kau hidup dalam waktu yang berbeda dengan diriku.

Dan aku? Aku hanyalah lelaki tua yang tak  pantas berdialog dengan seorang remaja perempuan seperti dirimu. Tapi bukankah kau datang sendiri menemuiku, tanpa pemberitahuan, tanpa diundang? Aku merasa tidak sopan untuk tidak meladeni pembicaraanmu, walaupun dalam diriku terbersit rasa malu, karena kau duduk terlalu dekat disampingku, padahal busanamu menutup auratmu, padahal korona sedang mewabah, kau juga  tak canggung mendekatkan tubuh montokmu  disamping tubuhku seperti anak manja yang sedang merajuk tentang rasa yang mungkin didalamnya guyonan, tipuan atau mainan semata.

Dan aku? Sungguh berbeda dengan teman teman seusia remajaku. Sebagian besar remaja, tidak berbeda dengan dirimu, sedang aku sendiri seakan melupakan masa remajaku. Aku terlalu sibuk belajar sebagai anak sekolahan, aku terlalu sibuk membaca buku apa saja yang kujumpai. Memang pada jamanku, bahan bacaan sangat terbatas, tidak ada internet, tidak ada handphone, tidak ada televisi, dan buku sangat sulit untuk didapatkan, padahal bukulah satu satunya bahan informasi yang harus kumiliki. Aku juga terlalu aktif mengikuti berbagai ceramah, pidato dan organisasi. Aku  seorang aktifis, padahal usiaku masih teramat muda, masih lebih muda dari dirimu sekarang ini.

Kuakui, aku memang orang yang kurang baik, pantas saja orang menyebutku sebagai orang yang tidak baik. Aku sering dinasihati ibuku, agar jangan selalu menentang pendapat orang lain, lebih lebih pendapat para ulama dan orang tua. Ibuku merasa aneh melihatku mengikuti pendidikan umum, ketika para remaja seusiaku ramai sekolah agama pada saat itu, padahal ibukulah yang menyekolahkanku dari sejak SR sampai perguruan tinggi. Mungkin karena aku sering ungkapkan pendapat berbeda dari yang sering beliau dengar sebelumnya. Pernah ibuku menasihatiku, janganlah mencari kemegahan dunia saja, carilah kemegahan diakhirat. Ucapan ibuku ketika usiaku remaja, masih terngiang ditelingaku, seakan beliau sedang ada disampaingku. Orang lain juga membicarakanku, karena jarang menengok ibuku yang sudah tua, walaupun mereka tahu bahwa akulah yang paling rajin mengirimkan uang untuk ibuku, akulah yeng menyiapkan tempat tinggalnya dan segala keperluannya, tapi orang tidak mau tahu, yang mereka tahu adalah aku sendiri yang jarang mengunjungi orang tuaku yang sangat mencintaiku”

Sebelum  semua catatan usai ditulisnya, pintu kamar tidurnya diketok seseorang ”apakah bapak akan bangun sahur”? Dia terkejut, bangun, lalu duduk  merenung. Dua macam mimpi  telah datang bersamaan dalam waktu dan dalam malam yang sama. Seorang gadis remaja yang datang merajuk minta dinikahi dan sebelumnya ibunya datang dalam mimpinya. Ibunya tersenyum ketika dia mengunjunginya disebuh panti jompo yang berdinding tembok putih dan bersih. Jelas sekali wajah ibunya yang tersenyum masih merindukan kasih sayang anaknya walau sang anak memang  mencintainya, menyediakan rumah dan keperluan hidupnya, menyediakan uang, tapi bukankah kasih sayang itu juga harus diwujudkan secara fisik, karena ibunya tidak hanya mengharapkan materi tetapi juga perasaan hati dan inilah cinta yang sebenarnya. Dan mengapa dalam mimpinya malam ini, pak Amar juga dikunjungi seorang gadis yang menyatakan cintanya, padahal  sesungguhnya gadis itu sedang mempermainkan dan bermain main  dengan  ungkapan kepalsuan?. ”Ibu maafkanlah dosa anakmu ini, dan kau  Mer, sadarlah atas perbuatanmu yang sangat dangkal ini, kembalilah ke jalan yang benar”. Kalimat itulah sebagai akhir alinea surat yang dibuat dalam mimpinya pada malam ini, malam Jumat 15 Ramadan 1441.

Selong,15 Ramadan 1441

Menampilkan lebih banyak

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
%d blogger menyukai ini: