Opini dan Artikel
Trending

Industri Dakwah

Kegiatan dakwah pada hakekatnya adalah sebagai salah satu usaha untuk memperbaiki ummat. Dakwah mengajak orang lain agar menjalankan ajaran agamanya khususnya ajaran Islam dengan baik dan benar.

Dakwah seperti itu diwajibkan untuk semua ummat Islam, baik laki maupun wanita sepanjang mereka telah mendengarkan seruan dan  anjuran tersebut baik yang terdapat didalam Quran maupun sunnah nabi melalui hadist dan perbuatan yang dicontohkan.Kegiatan dakwah yang diharuskan oleh agama disyaratkan pada keihlasan sebagai persyaratan agar kegiatan tersebut diakui sebagai ibadah. Keihlasan, keihlasan inilah persyaratan setiap peribadatan.Dakwah atau kegiatan menyebarkan nilai agama sebagai kewajiban semua ummat Islam(sampaikan walau satu ayat dan wasiatkan dengan hak dan sabar),menunjukkan sifat umum dari dakwah,yang tidak perlu dimonopoli oleh kelompok tertentu atau golongan  tertentu saja.Inilah ciri utama dari dakwah Islam,karena itulah Islam tidak mengenal adanya lembaga kiayi, pendeta,biksu atau pedanda seperti dalam agama lain.Memang akhir akhir ini,seakan hanya merekalah (para ustaz,kiayi,TGH) yang boleh melakukan kegiatan dakwah tersebut,lalu mengapa hal itu terjadi?.Kegitan para kiayi.ustazs,tuan guru berdakwah murni dari kesadaran diri mereka,atas dasar kesukarelaan,Tidak ada lembaga dari struktur agama yang memberikan kewenangan bagi mereka untuk memonopoli kegiatan tersebut.

Dalam perjalanannya dikemudian hari,ternyata aktifitas dakwah mampu menghipnotis sejumlah orang untuk menjadi pengikut setia yang selalu merindukan ucapan ucapan sang muballig,seakan sebagai mesias ditengah kemelut ekonomi dan ketidak adailan yang hidup dalam masyarakatnya.Siraman rohani,istilah yang umum digunakan.Kemampuan dakwah menghimpun jutaan ummat dilihat dari berbagai kepentingan menjadi sumber keuntungan,apakah para politisi yang mendompleng pada ketenaran seorang dai dan perusahaan perusahaan yang memandangnya dengan kaca mata bisnis  sebagai pasaran yang empuk untuk menjual produknya.Dari kalangan para dai juga disadarkan akan potensi itu,lalu mengemas dirinya sebagai kelompok yang diperhitungkan baik dari segi politik maupun dari segi bisnis.Ketiga komponen tersebut bersinergi atau menjalankan agendanya masing masing secara tersembunyi atau dengan terus terang.

Gambar: Contoh industri dakwah dalam bentuk iklan 

Memang sebagai konsekwensi dari sebuah industri,pasti akan ada multipliyer effect,berupa lapangan kerja baru atau industri  ikutan lainnya.Proposal proposal dari sebuah kerumunan dakwah,menentukan jumlah biaya,jumlah peserta termasuk pendapatan atau imbalan yang akan  diterima oleh si kiayi atau ustazs tersebut.Kegiatan tersebut juga akan melahirkan industri ikutan lainnya seperti kartering,penyewaan korsi,terop dan penyewaan kendaraan untuk transportasi para peserta dalam setiap kegiatan dakwah  yang diberi  juluk tablig akbar atau dakwah raksasa,dengan mengundang seorang kiayi yang sudah ditentukan bayarannya,termasuk pelayanan kelas VIP mulai dari perjalanan sampai di tempat penginapannya dengan membawa sejumlah pengawal dan pelayanan semacam manajer bagi aktifitas sang kiayi tersebut.

 

Teknologi informasi.

Lebih tiga puluh tahun yang lalu,pelaksanaan dakwah  jauh berbeda dengan masa sekarang.Pelaksanaannya dalam bentuk tatap muka antara jemaah atau  anggauta majelis taqlim dengan seorang ustazs atau kiayi atau  TGH, ditempat yang telah ditentukan.Biasanya di tanah lapangan sebuah pondok pesantren,di mesjid atau tempat lain yang sudah disepakati bersama antara si kiayi dan panitya penyelenggara.Sebagain besar dakwahnya bersifat monolog dari seorang kiayi.Tanya jawab dianggap kurang menghormati si pendakwah.

Dengan penemuan baru dibidang teknologi informasi,terjadi perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan,mulai dari ekonomi,sodial,politik .Jarak antara satu tempat dengan tempat yang lain tidak lagi menggunakan kilometer atau jarak ribuah kilometer,untuk menyampaikan informasi apa saja,baik kuangan,perdagangan atau migrasi antar manusia yang menggunakan pesawat super cepat yang memperpendek jarak antar benua bahkan antar dunia dan jagat raya yang maha luas dengan bantuan satelit atau komunikasi digital lainnya.Perubahan teknologi ini juga mencakaup pada praktek pendidikan agama sepeti belajar kitab suci digital maupun dakwah daring yang menyasar pada pengguna alat informasi seperti internet.

Dari segi bisnis, para praktisi teknologi berkolaborasi dengan kelompok kapitals atau pabrikan untuk menggunakan teknologi tersebut menyasar konsumen yang menjadi sasaran kedua belah pihak tersebut.Sebagai contoh,perusahaan televisi menjual jasa melalui iklan dalam  acara yang di pandu oleh produsen barang atau jasa untuk melebarkan pasar penjualannya.Para kiayi atau ustaz berperan sebagai bintang televisi sekaligus sebagai sales dari sebuah produk.Dari segi industri,peranan kiayi atau ustasz tersebut merupakan bagian penting dari faktor produksi.Mereka tidak lagi diperhitungkan sebagai seorang kiayi,ustasz yang dimuliakan karena ilmu dan teladan keagamaannya.

Dengan mendatangkan group dari majelis teqlim,dengan pakaian seragam akan mengeluarkan biaya yang telah diperhitungkan sebagai ongkos produksi dari program tersebut.Produsen telah membuat kalkulasi dari margin keuntungannya sebagai selisih dari biaya biaya produksi.Produsen telah melakukan survey terlebih dahulu mengenai jumlah pemirsa televisi khususnya yang  berkaitan dengan acara yang dipimpin oleh seorang kiayi atau ustasz.Kiayi juga akan mendapat bonus dari hasil penjualan produk yang telah diperhitungkan dengan cermat.Semakin banyak orang yang mengikuti acara pengajian seorang kiayi,semakin besar keuntungan yang diperolehnya sebagai penceramah melalui layar televisi tersebut.

Sekitar tiga puluh tahun yang lalu,ada istilah kiayi kondang,kiayi sejuta ummat,kiayi fajero.Fajero adalah merek mobil yang mewah di Jakarta pada saat itu. Kiayi kiayi yang mendadak menjadi kaya raya, karena menjadi tenaga kerja pemasaran produk dengan bungkusan pengajian atau tausiah, mendadak menjadi kelas menengah utama secara ekonomi.Penampilannya sebagai bintang televisi juga berpengaruh pada penampilannya secara fisik,karena petugas televisi terlebih dahulu membuat make up yang menarik,agar wajah pak kiayi menarik bagi para pemirsa layar kaca tersebut,seperti mengoleskan bedak pemutih kulit,membuatkan pakaian stelan jas yang sangat indah bagi si penceramah.Hal ini merupakan kewajiban tukang rias bagi siapapun yang akan tanpil dalam acara apapun,lebih lebih pada acara yang akan ditonton oleh jutaan pemirsanya yang sekaligus sebagai calon konsumen produk yang dipasarkan.

Harus diakui,bahwa praktik menggunakan para kiayi,ustasz maupun TGH dalam siaran yang dibungkus dakwah,namun isi utamanya adalah media pemasaran produk,telah melahirkan persaingan popularitas dianatara para kiayi,seperti juga berlaku dikalangan selebriti lainnya.Untuk hal ini bisa berimplikasi positif dan bisa juga negatif.Positifnya,banyak orang ingin menjadi kiayi,agar bisa muncul di televisi dan memperoleh uang dan ketenaran.Negatifnya adalah banyak para kiayi atau ustasz demi popularitasnya tidak dapat menahan dirinya sampai pada menyudutkan  pihak lainnya dengan mendiskreditkan mazhab atau pandangan agamanya yang berbeda tentang suatu masalah.

Melalui medsos lainnya.

Mereka para kiayi yang tidak berkesempatan mendapat panggung di layar kaca tidak mau ketinggalan.lalu mencari panggung lain yang lebih banyak penggunanya,seperti Youte,gogle,fecebook,twiter atau instagram bahkan membuat akun sendiri dengan nama  tertentu.Para kiayi atau yang disamakan dengan itu berusaha mencari popularitas dengan mengumpulkan sebanyak mungkin follower,dengan mana mereka juga mendapat imbalan yang besar dan tentu saja ketenaran melalui akunnya tersebut.Apakah kiayi atau ustasz tersebut diberi gelar,sebagai medsos atau kiayi twitwr atau kiayi youtube,terserah pernilaian masyarakat.Tulisan ini hanyamenggambarkan hubungan bisnis dengan dakwah yang sedang menjadi tren dimasa kini.Apakah telah terjadi perubahan metodologinya saja,ataukah orientasinya juga ikut dalam perubahan mengikuti perkembangan teknologi informasi tersebut?

MUI dan fatwa fatwanya.

MUI adalah singkatan dari tiga kata,yakni Majelis Ulama Indonesia.Lahirnya MUI  sejalan dengan konsep serba tunggal yang digagas oleh Presiden Soeharto,untuk mempermudah komunikasi antara pemerintah dan lembaga kemasyarakatan lainnya.Gagasan itu sangat efektif di jaman Orde Lama II(istilah untuk Orba).Lahirnya  KNPI,HKTI,HSNI,HIPMI,KORPRI,PGRI dll adalah sejalan dengan  penyederhanaan komunikasi pemerintah dan sampailah dengan kewajiban fusi dari berbagai partai seperti PPP fusi dari empat partai Islam,PDI fusi dari 4 partai non Islam,sementara organisasi serba tunggal diatas dihimpun dalam organisasi pendukung Golkar.Saya tidak tahu sebab sebab mengapa Prof.Hamka mengundurkan diri sebagai ketua MUI,tetapi  yang jelas beliau tidak bersedia,pemerintah ikut campur dalam masalah MUI seperti harus mendukung semua keinginan pemerintah walau bertentangan dengan kaidah kaidah dalam agama Islam.Setelah beliau mengundurkan diri sebagai ketua MUI pada sekitar 1983, kita tidak pernah mendengar lagi ada ketua MUI mengundurkan diri. Pertanyaannya adalah adakah pemerinah sekarang ini tidak memanfaatkan MUI untuk memuluskan program- programnya?

Sebenarnya MUI itu apa?.Menurut pendapat saya MUI itu adalah LSM atau lembaga Swadaya Masyarakat saja.Tidak ada dalam susunan pemerintahan atau ketatanegaraan kita,paling tinggi statusnya adalah LSM plat merah,karena seringkali dimanfaatkan oleh pemerintah.Pemerintah juga telah memberi ruang bagi pengurus LSM tersebut untuk menjadi juru bicara pemerintah dalam kasus kasus tertentu.Untuk itu ada kemungkinan sebagian dari pengurus MUI juga dari unsur politisi yang dikirim oleh organisasi yang menaungi unsur ulama tersebut.Sebagai contoh,K.H.Makruf Amin(sekarang Wapres),adalah politisi parati PKB sejak jaman presiden Gus Dur.Demikian pula beberapa anggauta MUI yang lain berasal dari aktifis partai politik. Cara pemilihan pengurus MUI juga tidak terbuka,dengan demikian gelar Majelis Ulama Indonesia patut dipertanyakan, karena tidak pernah ada kongres ummat Islam yang memilih kepengurusan dalam organisasi tersebut.Keterlibatan pengurus MUI dalam mengurus lembaga keuangan syariah,juga patut dipertanyakan,bagaimana pengurus MUI yang seharusnya mengawasi organisasi keuangan syariah,mendapat gaji dari organisasi keuangan tersebut?

Banyak kritik terhadap beberapa fatwa MUI,misalnya fatwa mengenai hukum rokok dalam pandangan fiqh  Islam.Dimasa lalu hukumnya makruh, tetapi  setelah ilmu kedokteran diseluruh dunia menyimpulkan bahwa rokok atau tembakau  mengandung nikotin yang berbahaya bagi kesehatan,seluruh ulama dunia menjatuhkan hukum haram merokok.Tapi ingat,bahwa pemerintah Indonesia meraup lebih dari 100 triliun rupiah dari cukai rokok,maka MUI sangat berhati-hati menjatuhkan hukum rokok.Memang ada selentingan di masyarakat,bahwa  beberapa fatwa MUI tergantung besarnya bayaran,walaupun hal tersebut sulit dibuktikan.Walaupun fatwa MUI tidak memiliki konsekwensi hukum didalam negara Indonesi,tetapi  pemerintah berpandangan bahwa fatwa tersebut dapat mempengaruhi pandangan masyarakat Indonesia yang notabene orang Islam menjadi penduduk Indonesia terbesar.

Lembaga Keungan syariah.

Akhir akhir ini terdengar nyaring tumbuhnya berbagai lembaga keuangan syariah,seperti bank syariah,bank konvensional dengan seksi syariah,lembaga pinajaman dengan basis syariah,wisata syariah,kredit perumahan syariah  dan sebagainya.Bahkan mantan Gubernur NTB  mengubah status Bank NTB menjadi Bank NTB syariah,walau seksi syariahnya sudah ada sebelumnya. Isue yang berbau syariah ini telah dilegalkan oleh pemerintah,sepanjang yang ada kaitannya dngan ekonomi dan lmbaga keuangan.Hal ini juga untuk menampung sebagian ummat Islam yqang hanya menganggap lembaga tersebutlah yang pantas diikuti menurut ketentuan dalam syariat Islam. Kampanye yang dilakukan adalah dengan mengharamkan bunga bank konvensional dan menghalalkan segala pendapatan usaha dengan gelar syariah tersebut.

Memang perlu dikaji secara mendalam  gerakan tersebut apakah benar benar merupakan kebangkitan baru ummat Islam untuk menjaga konsistensinya mempertahankan nilai nilai Islam berdasarkan hukum Islam itu sendiri,ataukah ada tujuan tujuan lain,seperti keuntungan secara ekonomi,kepentingan politik demi kekuasaan atau sebagai gerakan penyadaran untuk tujuan tersembunyi lainnya?.Sebagai contoh,kalangan kiayi baik melalui organisasi Islam seperti pondok pesantren atau MUI,mendapat kedudukan baru dalam lembaga keuangan syariah sebagai anggauta dewan pertimbangan syariah atau sebagai badan pengawas syariah yang mendapat imbalan gaji dari lembaga syariah tersebut sebagai bagian biaya yang diperoleh dari keuntungan usaha syariah. Pada daerah daerah yang jumlah penuduknya mayoritas Islam,pengembangan pariwisata juga berusaha dikait kaitkan dengan pariwista syariah atau lebih moderatnya disebut  pariwisata halal.Kalangan ulama ,sejatinya telah mengenal bahwa pariwisata yang dikonotasikan dengan bersenang senang dengan membuang uang adalah perbuatan mubazir yang hukumnya haram,tetapi terus dicari pembenarannya untuk mencari keuntungan yang bersifat ekonomi atau multi tujuan yang bersifat politis.

Inkonsistensi.

Dalam praktek keseharian,para penggagas ekonomi syariah,khususnya bank syariah,kurang menunjukkan konsistensinya.Ketika mereka menjatuhkan fatwa tentang riba bagi bunga bank konpensional,dalam waktu bersamaan mereka menerima imbalan berupa gaji dan sumbangan pembangunan dari APBD atau APBN yang sumbernya dari semua dividen bank kompensional,pajak pajak dari minuman keras,penjualan narkotika untuk pengobatan,bea cukai rokok dan atau pendapatan lainnya yang menurut syariah masih berbau subhat,maka hal itu menunjukkan banyak kalangan ulama yang tidak konsisten dalam menjalankan lembaga lembaga yang bermerek syariah.Juga dewasa ini banyak praktik penipuan dengan merek syariah seperti pinjaman syariah,perumahan syariah dan parktik penipuan untuk ibadah umrah yang mulai menimbulkan korban besar bagi kalangan ummat Islam yang murni berhasrat menjalankan syariat agamanya.Golongan ini tidak mendapat keuntungan ekonomi dan politik,tetapi telah menjadi sasaran bagi kaum politisi yang berkedok syariah.Apa yang menyebabkan terjadinya pendangkalan pelaksanaan agama,sementra para politisi menggunakan simbol agama sebagai kendaraan berpolitik,untuk mendapatkan pengaruh,dukugnan politik dan jabatan,elektabilitas dan keuntungan ekonomi untuk kroni dan dirinya sendiri?.

Tujuan daqwah menurut Islam.

Sebenarnya apakah yang dituju oleh aktifitas dakwah itu sendiri?.Kita ambil contoh dari Surat Anahl,ayat 125 yng berbunyi”Serulah manusia kejalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan berdiskusilah dengan mereka dengan cara yang baik”.Sebenarnya inti dari petunjuk Tuhan telah memberikan jalan yang sangat terang dan jelas.Tuhan membuka ruang diskusi atau berdebat dengan cara yang baik,penuh hikmah.Hikmah haruslah mengandung pengertian tentang luasnya pengetahuan dan contoh contoh yang sudah dipraktekkan oleh si penyampai atau dai.Seorang kiayi atau ulama  agar menggunakan kata yang tepat tanpa mengeraskan suaranya atau ekspresi marah dengan mengemukakan dalil yang jelas yang diambil dari sumber utama yakni Al Quran dan Sunnah. Si ulama juga menjelaskan secara pilosofis tujuan dari ketentuan yang diambil dari sumber tersebut diatas. Memang akan terjadi diskusi,tanya jawab,tetapi bukan berdebat seperti para politisi di panggung politik.Saya menafsirkan ayat ini,sejatinya ditujukan pada orang yang belum beriman pada Islam,sedangkan mereka yang sudah beriman hanya bersifat  pendalaman saja,karena itu diperlukan diskusi yang konprhensif tanpa menyalahkan dan merendahkan pihak lain.Harus dibangun tradisi mendengar lebih banyak dan berdebat seadanya saja.

Berdakwah,bukan bertujuan untuk memperoleh imbalan duniawi berupa uang,emas,kedudukan dan jabatan.Karena itu pula agama Islam melarang seorang ulama atau kiayi yang selalu mengutakan orang penting,orang kaya,orang terpandang.Seorang dai,karena ketinggian iman dan ilmunya akan semakin mencintai orang orang miskin dan sering bersilaturahmi dengan orng miskin,bukan sebaliknya seorang kiayi atau ulama sering mengetuk pintu para  pejabat dan politisi.Seorang ulama akan menyadari dirinya sebagai ulama,tempat orang bertanya dan tempat orang mencari teladan yang baik.Seorang ulama tidak akan menggunakan keahliannya dibidang agama untuk mencari kejayaan duniawi,seperti rumah mewah,mobil mewah,pakaian mewah dan uang yang berlimpah.

Dalam banyak hal,praktek dakwah ada juga yang berbau ria yang sangat dicela oleh ahli tasauf,baik  ria yang nyata maupun ria tersembunyi.Rasul Muhammad Saw,adalah contoh cara dakwah yang sempurna.Sedikit bicara banyak bekerja,banyak memberi contoh.Belaiu seorang Rasul dan kepala negara dunia saat itu..Beliau tetap hidup sederhana,tidak membangun istana yang megah,tidak membangun rumah yang mewah,tidak mengumpulkan harta benda berupa emas,perak,unta dan harta lainnya.Beliau melaksanakan dakwah selama 23 tahun tak henti,tak kenal lelah,penuh tantangan dan penderitaan,itulah dakwah yang seharusnya menjadi acuan semua pihak.

Kesimpulan.

Kemajuan teknologi informasi yang berkembang sngat pesat,wajar bila mempengaruhi metoda menyampaikan informasi, termasuk dakwah islamiah.Memang kemajuan teknologi informasi menimbulkan berbagai inplikasi yang negatif maupun positif.Untuk tujuan dakwah,maka segi positifnyalah yang diharapkan,dengan kecepatan dan akurasi tujuan.Kemajuan teknologi akan melahirkan industri jasa dan lalu lintas uang dan barang,bolehkah dakwah bersentuhan dengan uang dan barang?.Sebagai konsekwensi logis,tetapi tidak boleh mengurangi kesucian tujuan dakwah itu sendiri.

Saya yakin dari sejumlah kiayi,ustasz,tuan guru,yang ada di Indonesia,masih banyak yang tetap menjaga kemurnian isi dan tujuan dakwah itu sendiri.Mereka yang disebut kiayi kampung,atau guru ngaji atau pembaca hutbah(khatib) atau mereka yang dengan tulus berdakwah menjadi guru pada madrasah kecil di pelosok desa dan kampung dan sejumlah kiayi yang berilmu tinggi namun menyembunyikan dirinya di pondok pondok pesantrean,tanpa suara,tanpa polesan,tanpa pujian,tanpa mobil mewah dan stelan jas,mereka memakai sarung palekat sederhana,merekalah yang menjaga kemurnian dakwah dan berada diluar industri dakwah itu sendiri.Kepadakelompok orang orang sederhana seperti inilah,harapanutama bagi bertahan dan berkembangnya Islam dikemudian hari

Mataram,22 Maret 2020

Menampilkan lebih banyak

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Close
Close