Kumpulan Cerpen
Trending

Penjual Bakso

Teng, teng, teng, teng. Tak ada suara manusia. Mungkin suara panci kosong yang dipukul  benda keras. Teng teng,teng. Dua sosok manusia, tampak berjalan dilorong kampung yang sepi sore ini. Salah seorang mendorong gerobak dorong, salah seorang memegang tutup panci sambil memukulnya berkali kali teng, teng,teng. Ketika mereka melihatku berdiri di dekat pagar halaman,salah seorang menegurku ”bakso pak!”?

“Bakso apa ini” ?, si penjual bakso diam  saja. Assisten menjawab, ”anu pak, bakso  daging.”Daging apa”?.Penjual bakso diam saja dan dijawab si tukang pukul panci, ”anu pak, daging sapi”. Timbul keherananku, mengapa penjual bakso ini, tidak menjawab, tidak ramah, tidak merespon setiap pertanyaan ?.

“Di mana  rumah saudara”?. Dia tetap diam, tetapi tangannya terus bekerja menyelesaikan campuran dua mangkuk bakso yang ku pesan. Dalam pikiranku, penjual bakso ini pasti tuna rungu. Dalam  pikiranku, baik sekali orang ini, walau seorang tuna rungu, tapi tak mau  menggantungkan diri pada orang lain. Walaupun ia tuna  rungu.bahkan mampu mempekerjakan orang lain sebagai kariawan,walau hanya tukang pukul tutup panci atau cuci mangkuk bekas makan bakso. Inilah orang yang patut dicontoh, gumamku. Orang ini sangat hebat. Seorang tuna rungu mempekerjakan orang yang normal.

“Mas, orang disebelah juga pesan dua mangkuk bakso”, asisten menjelaskan pada majikannya yang tuna rungu. Penjual bakso mengangguk. Berarti orang ini bukan tuna rungu, pikirku. Di panggil mas, pasti orang dari Jawa, itu kesimpulanku. Baiklah, jika dia orang Jawa tetapi mengapa tidak menjawabku sepatah katapun?. Mungkin orang ini sangat efisien. Tak akan menyia nyiakan waktunya untuk bicara yang tidak ada hubungannya dengan bakso jualannya. Ini pedagang yang baik, tidak akan mencampur adukkan antara dagangan dan oborolan. Saya kira ini orang yang patut dicontoh, tetapi mengapa mulutku gatal menanyakan hal hal yang bersifat pribadi?. Apa salahnya?. Biarpun ia seorang penjual bakso apa salahnya berkenalan dan bersahabat?. Apakah  keramahanku padanya salah?. Ah tidak. Dia yang salah. Lalu aku bertanya lagi. ”Mas orang Jawa “?. Penjual bakso itu diam  lagi. “, Mas orang Jawa dari Jawa mana, Lamongan, Pekalongan, Solo, Malang, Surabaya”?. Si Mas Jawa penjual bakso itu diam saja. Saya menyumpah dengan bahasa Sasak, penjual bakso kedok manyeng dan berbagai umpatan yang tidak keluar dari mulutku. ”Sang ie kedok dagang ine”,dengan suara membisik. Kukatakan kemungkinan dia orang tuli. Tapi jika dia tuli mengapa ucapan si asisten sangat cepat direspon, sementara pertanyaanku tak satupun dijawabnya”?. Rupanya penjual bakso itu mngerti ucapanku, kedok, artinya tuli dan mungkin ia tak tahan lagi bermain sandiwara, lalu keluar suara dari mulutnya;

Ndeq tiang dengan Jawe, tiang dengan Sasak

Mbe taoq balen side

Tiang eleq Muncan

Berembe side tedoq doang lamun teketoan

Tiang pura pura jari dengan Jawa

Apa tujuande jari dengan Jawa, kan side lekan Muncan”,kulanjutkan pertanyaan pada orang Muncan yang berpura-pura jadi orang Jawa itu, lalu dengan agak malu-malu, penjual bakso menjelaskan padaku tentang barang jualannya yang kurang diminati, jika dia menjadi orang Sasak, atau baksonya bakal tidak ada pembelinya, karena ia seorang dari dusun Muncan di Lombok Tengah

Sai aran side”,asisten penjual bakso menatapku dengan penuh rasa malu,

Aran tiang Muksin

Sai  aran wayah side

Orang tua tiang pak Amin

Pak Amin saq jari guru SD”?

Enggih tang”. Aku sudah lama kenal dengan  pak Amin, guru SD yang telah pensiun beberapa tahun yang lalu. Pak Amin, seorang guru yang selalu membaca buku dan senang berdikusi, bertiga bersamaku  dan pak Nuh ketika beliau melanjutkan pendidikannya ke SPG puluhan tahun lalu. Walaupun dia sebagai guru, tetapi dia tak merasa sebagai guru. Dia lebih senang belajar, berdiskusi dan membaca, ketimbang mengajarkan sesuatu pada orang lain. Hari ini kujumpai salah seorang putranya, menjadi seorang penjual bakso, menyamar seperti orang dari Jawa.

“Muksin!.Bapakmu itu, sahbatku. Bagus pekerjaanmu sebagai penjual bakso. Pokoknya halal. Kerja keras itu ibadah”. Seperti sebuah khotbah, ucapanku mungkin kurang tepat pada salah seorang yang telah menemukan jati dirinya sebaga  wirausahawan yang berhasil. Dibuatnya bakso dengan bantuan isterinya. Diangkatnya seorang kariawan yang menjadi assistennya, Amat yang usianya hampir sama dengan usia Muksin. Keduanya sama sama menjadi murid di SMA dekat kampungnya beberapa tahun lalu. Keduanya harus berfikir keras untuk menjalani hidupnya yang keras. Walaupun ayahnya seorang pensiunan guru SD, uang pensiun yang diterima ibunya tidak cukup untuk membiayai hidupnya sendiri apalagi untuk anaknya, seperti Muksin dan lima orang   adiknya.

“Muksin!, berembe cerita kamu miaq diriq jari dengan jawa”?

Anu,tang. Lamun ta jari batur Sasak,kurang leis dagangan  bakso

Apa sebab” tanyaku dengan bersemangat.

Sang paran ite ndeq tao piaq bakso,tang”.

Sai ngajar kamu miaq bakso” sergahku.

Oah ta milu leq dengan jawa, tiang serioqang carena miaq bakso””. Bagus!”. Jawabku. Muksin pernah selama satu tahun ikut sebagai asisten,cuci mangkok,menyapu dan membantu membuat bakso pada majikannya seorang penjual bakso dari Lamongan.Pak Mas,sekarang telah memiliki rumah bertingkat di Mataram dan memiliki tiga cabang warung bakso dengan merek dagang “bakso enak”. Setiap hari raya pak Mas pulang ke Lamongan sekeluarga sambil membawa ratusan juta rupiah. Tujuh tahun lalu, pak Mas adalah buruh angkut barang pada sebuah perusahaan ekspedisi antar pulau. Rupanya penghasilannya menjadi buruh angkut tidak memadai untuk menghidupi keluarganya, lalu beralih menjadi asisten pada penjual bakso dari Solo, yang berjualan dipinggir jalan dekat kampus perguruan tinggi di kota Mataram. Entah bagaimana, dalam enam bulan kemudian, pak Mas sudah memiliki rombong sendiri dan mulai berjualan bakso, Muksin menjadi assisten dan sekarang juga  menjadi pemilik rombong bakso. Teng, teng, teng, bakso bakso, tetangga saya terus memnggil dan “sebentar lagi pak”, jawab si asisten, si Amat dari Muncan, tetangga dan teman Muksin di kampung.

Pira mauqde bejual sejelo”,tanyaku

Lumayan”.Muhsin menjawab singkat,tapi tak mau sebutkan untung jualannya setiap hari.Ini satu  hal yang baik,karena mampu merahasiakan keuntungannya, mungkin takut jika rahasia keuntungannya juga diketahui oleh Amat, assistennya.mungkin Muhsin juga khawatir, suatu saat Amat akan berubah seperti dirinya, dari seorang pencuci piring meningkat menjadi bos penjual bakso. Tetapi aku tak tahu, pak Mas mantan majikannya, dahulu diberi ilmu dan modal oleh majikannya sesama orang Jawa. Ini dua perbedaan yang belum mampu kujawab, sedangkan Muksin tidak diajar, tidak dibantu modal, tidak diberi rombong dorong, melainkan inisiatif dengan cara rahasia melihat cara pak Mas membuat bakso. Atau bahkan pak Mas secara sengaja mengajar Muhsin membuat bakso agar dapat mandiri dan mengubah nasibnya, agar tidak menjadi assisen penjual bakso seumur hdup. Sungguh besar jasa pak Mas, tapi jika hal itu benar. Bukankah pak Mas juga dahulu mengalami nasib yang tidak menguntungkan seperti orang lain, seperti Muhsin dan Amat ?.

Muksin  telah menjadi suami dan ayah dari dua anaknya yang tinggal di kampung. Rumahnya yang dahulu numpang pada ayahnya yang pensiunan guru SD, kini  memiliki rumah sendiri dan  tergolong rumah mewah di kampung. Walau letaknya dipingiran kampung, didekat sawah tetangga, bangunan lantai dua itu menunjukkan kelas kemewahan pada tingkat kampung. Jelas Muhsin mengantongi jutaan rupiah setiap harinya dari untung  menjual bakso. Muhsin hidup sederhana, menabung setiap rupiah dari untung menjual bakso, dan ratusan juta rupiah telah diinvestasikan pada bangunan rumah dan bahkan sudah ada sawah yang dibelinya tahun lalu. Muhsin bangkit dari penderitaan, lalu dia hidup sederhana, hemat dan bekerja keras. Hanya sedikit orang di pulau ini yang mengikuti jejak nya. Jutaan orang di pulau ini, senang makan bakso, membeli, membeli dan membeli, karena bakso rasanya enak di mulut, dan Muksin terus mengumpulkan uang hasil menjual bakso.

Teng. Teng. Teng. Muhsin dan asistennya beringsut perlahan menuju rumah tetangga hanya beberapa langkah dari halaman rumahku. Demikianlah Muhsin, mengatur napas kehidupnnya sepanjang hari, tak ada hari libur, hari besar, hari tahun baru. Baginya hari libur,hari besar adalah hari keberuntungan, karena lebih banyak orang berlibur, lebih banyak orang membeli baksonya.  Biarkan orang berlibur, bagi saya adalah mengumpulkan uang sebanyak banyaknya. Selagi masih muda saya akan terus bekerja keras, mengumpulkan uang sebanyak banyakn ya, membuat rumah, membeli sawah, saya tak  sudi  anak keturunan saya lebih susah dari kehidupan saya, gumam Muhsin yang tak diperdengarkan pada Amat asistennya. Apa yang dipikirkan Muhsin, sama sekali bukan gambaran umum pada masyarakat yang setia menjadi konsumen bakso, bukan saja bakso jualan Muhsin, tetapi semua bakso yang hampir seluruhnya dikuasai dari Jawa. Muhsin juga harus berlagak menjadi orang Jawa, agar bakso dagangannya laku dijual seperti dagangan orang lain.

Orang menikmati bakso karena lezat dilidah bagi  semua golongan masyarakat, dari masyarakat kampung,masyarakat kota,pegawai bawahan,pegawai tinggi,pelajar dan mahasiswa, bakso, bakso.  Mari makan bakso. Tetapi tidak semua masyarakat tahu,bahwa rasa lezat di lidah mereka dari bakso yang dimakannya telah dijejali dengan. MSG monos odium gluetamate; penyedap makanan buatan. Zat penyedap ini sudah dilarang diberbagai negara maju, karena mengandung  zat aditif. yang dalam jangka panjang akan sangat mempegaruhi kesehatan barang siapa mengkonsumsinya secara berlebihan. Semua penjual bakso, tak terkecuali Muhsin harus menggunakan zat penyedap ini.

Apa alasan ngadu vetsin leq bakso si pieq meq Muhsin”, tanyaku . Aku menjadi merasa dekat dengan Muhsin, karena ternyata dia adalah putra dari sahabtku guru Amin dari desa Muncan.

Soalnya lamun ndeq kadu vetsin, paran endeq maiq rasa”, sambil berlalu meninggalkan ku menuju tetangga sebelah yang telah menunggu bakso pesanannya.

Muksin jarang pulang ke desa tempat tinggalnya. Dia sewa rumah dipinggiran kota. Dia bekerja di kota. Dia tidak bilang dirinya penjual  bakso. Tidak masalah. Kumpulkan uang sebanyak banyaknya, lalu dibawa pulang, lalu, dibangunnya rumah, lalu dibelinya sawah, lalu dia memiliki buku tabungan, lalu orang desa sekitarny bilang dia seorang yang sukses di kota. Lalu dia tak perlu bilang bahwa dirinya seorang penjual bakso. Lalu mengapa dia tak berterus terang bahwa dirinya adalah penjual bakso yang sukses? Apakah dia dipandang hina?. Lalu orang orang kampungnya bilang jika kamu pergi ke kota hanya untuk menjual bakso, lebih baik kamu tinggal di kampung saja?.Rupanya Muhsin sadar bahwa pandangan orang dikampungnya,sebatas pandangan picik seperti itu.Tetapi Muhsin tak mau kehilangan akal, dia tetap menjual bakso, karena ada untung besar. Dia tetap berpura pura berlagak sebagai mas dari Jawa, agar pembeli bodoh yakin bahwa baksonya memng lezat untuk di konsumsi. Muhsin bukan penipu, tapi dia belum tahu cara menyadarkan masyarakat kampungnya, tentang makna bekerja  keras dan halal.

Pada bulan puasa, sebagian besar penjual bakso dari Jawa mudik lebaran. Semua  pulang seperti  eksodus sebuah kemenangan besar, rombongan pendorong rombong bakso itu naik pesawat garuda, lalu membawa uang beberapa ratus juta rupiah. Mereka adalah rombongan orang sukses, hanya menjual bakso. Sementara orang orang lain yang tinggal di pulau ini, hanyalah konsumen bakso belaka. Mereka membangunkan rumah untuk anak isterinya.Mereka juga membeli  sawah sebagai investasi masa depannya. Tetapi konsumen bakso di pulau ini apakah benar, sampai menjual  tanah sawahnya yang tak seberapa, demi agar dapat membeli  bakso? Biasanya penjual bakso lokal, seperti Muhsin tidak pulang kampung, kecuali beberapa hari sebelum lebaran. Mereka juga paham hukum pasar, semakin sedikit penjual bakso, jumlah pembeli  akan bertambah dan bisa jadi harganya dinaikkan dalam waktu yang terbatas hanya di bulan puasa saja. Muhsin yang terhormat adalah sebuah dilema. Dia sulit meletakkan dirinya dalam masyarakat yang tidak paham arti kerja keras halal dan jujur. Hanya sedikit diantara mereka yang mengerti pikiran Muhsin. Walaupun Muhsin juga harus memperhiungkan pandangan masyarakatnya dengan caranya sendiri. “Aku sendiri mengagumi orang seperti Muhsin,sesuatu yang sulit kutemukan dalam lingkungan sekitar rumahku

 “Muhsin, jangan lupa sampaikan salam pada ibumu, Inaq Nurmin”.Jangan lupa tabung semua  untungmu dari menjual bakso

Enggih mamiq”, jawab Muhsin dengan rasa hormatnya padaku.

Sengigi, ultimo Desember 2019

Menampilkan lebih banyak

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Close
Close