Kumpulan Cerpen
Trending

PAK JANGKRIK BERSAFARI

Walaupun namanya pak Jangkrik, tapi ini orang bukan sembarang orang. Namanya sering disebut dalam deretan politisi papan atas di negeri Cancut ini. Walaupun namanya pak Jangkrik, bukan berarti badannya kecil kayak jangkrik sejenis serangga yang sering diadu dalam perlombaan adu jangkrik di kampung. Dia benar benar tokoh yang perawakannya padat dan tingginya sepadan dengan berat badannya. Dari dahulu dia tetap tokoh di negerinya. Berbagai profesi penting sudah digelutinya, maklum dia dekat dengan kalangan kelas atas. Dia juga keturunan orang terhormat, bahkan pemikir idiologi politik dan ekonomi di negeri ini. Atas dasar semua inilah, nama pak Jangkrik tidak asing lagi bagi masyarakatnya. Dia sering diramalkan akan menjadi pemimpin yang memiliki karisma dan talenta. Sekiranya Tuhan mentakdirkannya menjadi pucuk pimpinan tertinggi di negeri ini kelak.

Siapapun tak perlu memberikan saran atau semacam rencana masa depan politik padanya, karena pak Jangkrik, tak diragukan lagi kepakarannya. Dia sendiri sudah memiliki agenda yang rapi, agar kelak dapat merebut kedudukan tertinggi sebagai kepala negara di negeri Cancut ini. Sebenarnya, penduduk negeri ini sangat sederhana. Pikirannya mudah ditebak, karena itulah mereka sering dibawa kemana arus air mengalir, asalkan ada yang membawanya dan menyediakan bekal di perjalanannya, Tentaranya juga banyak yang kurang gizi dan tubuhnya kurang tinggi, lalu mereka mudah sekali digeret kalau ada janji, apalagi janji kenaikan gaji. Seandainya pak Jangkrik mau merebut kekuasaan, lalu menjanjikan semua tentara akan dinaikkan pangkatnya beberapa tingkat dan gajinya dinaikkan beberapa kali lipat, tak perlu repot-repot pakai pemilu segala. Tapi belum ada satu kalipun orang termasuk pak Jangkrik yang memperoleh kekuasaan di negeri ini dengan cara merebut kekuasaan kecuali yang diberikan hukum yang berlaku. Padahal di negeri Gajah putih, atau negeri bahu Afrika, itu cara yang lebih murah dari pada pemilu-pemiluan. Hasilnya bahkan lebih bagus, rakyatnya senang dan makmur.

Negeri Cancut, bukanlah cancut sembarang cancut, tapi negeri kaya dan makmur negeri yang indah, kaya dan makmur. Sangat banyak rakyatnya miskin, entah karena apa. Koq negeri kaya raya dan makmur, tetapi koq yang miskin banyak. Pemimpin negeri cancut terdiri dari para pemimpin partai. Tidak punya partai jangan harap jadi pemimpin. Jadi negeri Cancut negerinya partai? Tidak juga. Jadi negeri apa? Pokoknya negeri saja. Untuk menjadi pemimpin di negeri Cancut, tak perlu orangnya pandai, ahli, pemikir, punya wawasan masa depan, visioner atau ahli hubungan antar bangsa, atau ahli ekonomi. Semuanya tak perlu, karena para pembantunya, kelak dari orang-orang ahli. Orang orang ahli di negeri Cancut, cukup menyanjung dan memuji si calon pemimpin, kemungkinan besar akan diangkat menjadi menterinya sang pemimpin. Para pemimpin di negeri Cancut, setiap hari saling menyanjung, saling memuji satu dengan lainnya. Berani berbeda pendapat, bersiaplah untuk dipecat atau dikucilkan dari kelompoknya. Dalam berbagai mikropon para pemimpin saling salip memuji pemimpinnya dan saling berebutan untuk mengutuk siapa saja yang berani berbeda pendapat dengan pemimpinnya.

Negeri Cancut, bukan sembarang cancut. Selain punya presiden, juga ada parlemen. Setiap lima tahun, sejumlah orang berbaris berpakaian stelan jas, berpeci hitam lalu dilantik menjadi anggota parlemen. Menjadi anggota parlemen sulit bagi orang baik, karena uang yang perlu bukan gagasan. Ada anggauta parlemen sudah lima belas tahun, tak dikenal wajahnya oleh masyarakatnya, tetapi dia tetap terpilih. Setiap lima tahun anggauta parlemen itu membeli suara dengan mengirimkan sejumlah milyaran rupiah, maklum dia seorang pengusaha beken di ibu kota. Jadi anggauta parlemen baginya hanyalah status,agar memudahkan negosiasi dengan penguasa untuk melancarkan aksi bisnisnya. Jumlah mereka sejenis ini banyak dalam parlemen negeri Cancut. Anggota yang kemampuannya pas-pasan, menggunakan jabatannya di parlemen untuk mencari keuntungan dengan jalan menjual pengaruh dan statusnya. Komando Pengawal Koperasi, telah menggeret sejumlah anggota parlemen sampai ke hotel prodeo. Partai partai marah, lalu melucuti kewenangan lembaga komando itu, hingga telanjang dada. Mahasiswa yang menentangnya, disiram dengan air, dengan gasair mata, dengan peluru karet, lalu peluru tajam, tapi tak ada yang peduli. Siapa pembunuh mereka, siapa saja yang disebutkan penguasa itu saja yang benar, karena dia saja yang boleh berbicara tentang kebenaran, tentang hukum, karena dia punya kewenangan. Sudah banyak mahasiswa yang mati. Tak ada yang peduli, para pemimpin tetap berbicara demokrasi, keadilan, hak asasi manusia dan sejenisnya. Media negeri Cancut, seperti pers, radio dan televisi, adalah bagian dari sistim, sumber beritanya semuanya dari pemerintahan, persis seperti humas saja, berani berbeda dengan pemerintah, siap siap kena teguran. Bagi media di negeri Cancut, tak ambil pusing yang penting iklan masuk, karena media dikuasai orang kaya dan pemimpin partai. Untuk apa idealis idealisan. Percuma katanya.

Pak Jangkrik, merenng………..? Katanya dia sedang memikirkan nasib bangsanya. Kasihan bangsaku? Dia berguman sendirian, lalu bangkit dari tempat duduknya, sebuah sofa empuk dan mewah. Pak Jangkrik, orang kaya, tapi masih berfikir tentang bangsanya, tentang rakyat yang miskin. Dengan kekayaan yang dimilikinya, sebenarnya pak Jangkrik tidak perlu pusing,lebih baik hidup bersenang-senang, pergi kemana saja yang dikehendaki, Semua fasilitas sudah ada, uang dan para jongos siap menunggu tinggal diperintah saja. Begitulah sebenarnya keadaan pak Jangkrik, tetapi mengapa ia terus tidak tenang, selama melihat nasib bangsanya? Kalau demikian halnya, jelas pak Jangkrik, seorang pemimpin yang akan membawa kemakmuran bagi negerinya. Tapi negeri Cancut tak membutuhkan orang seperti itu, para pengusaha, para politisi, membuat perhitungan sederhana saja. Jika si A jadi pemimpin, bagian saya berapa? Jika si B jadi pemimpin, mungkin saya tidak dapat bagian. Masalahnya si B ini, orangnya punya prinsip dan punya uang. Sedangkan kita INI”. Prinsipnya makan dan kedudukan, untuk apa pilih orang pintar yang punya prinsip. Para pengusaha, yang penting untung, prinsip untuk apa?

Pak Jangkrik memutar otaknya berkali kali. “Ah, sulit, sulit , sulit menembus sistim yang dibuat oleh manusia yang berkumpul di gedung itu, gedung parlemen. Mereka telah membuat berbagai aturan yang menguatkan dirinya, agar orang lain sulit muncul sebagai pemimpin”. Memang saya ingin mencalonkan diri sebagai pemimpin di negeri ini, tapi jumlah suara partai saya tidak mencukupi syarat”. Ketua parati Padi mendekati ketua partai Jagung agar jumlah suara memenuhi persyaratan. Kini mereka berselisih soal siapa nomor satu dan siapa nomor dua. Tak ada kesepakatan. Rencana koalisi bubar, Ketua partai berkumpul lalu memutuskan mendukung salah seorang calon. Calon ini akan memberi keuntungan bagi semua partai”. Calon ini lebih lugu”, kata mereka. Cara ini lebih realistis, ketimbang mencoba mencalonkan diri sebagai pemimpin di negeri Cancut. Dari pada rugi mocol, lebih baik untung sedikit, soalnya modal kurang dan sponsor sepi tahun ini.

Hanya pak Jangkrik yang memiliki wawasan luas tentang bangsanya, hanya dialah yang berbicara tentang politik antara bangsa dan kekayaan negerinya dan hutang hutang negara yang semakin bejibun jibun. Ketua partai yang lain tak perduli semua itu, dapat jatah menteri saja sudah kesurupan karena bahagia, soalnya partainya miskin, partai yang dirdirikan oleh para penganggur dan para petualang politik. Itu dasarnya, mengapa pak Jangkrik ikut ikutan membuat partai beberapa tahun yang lalu. Untuk menembus ruang gelap yang mengelilingi langit negeri Cancut. Dia mendiririkan sebuah partai, tidak ada jalan lain, dirikanlah sebuah partai. Walau dia punya segala kemampuan untuk menjadi pemimpin, cakap, cerdas, tegas, jujur dan berwawasn luas, rupanya tidak dibutuhkan oleh negeri ini. Hal itu disadarinya. Partai! Partai!. Walaupun banyak partai telah masuk kedalam keranjang sampah sejarah, tapi partai koq tetap diperlukan? Undang-Undang yang bilang begitu pak” jawab si anggauta parlemen. Saya tanya pak anggota parlemen  ”Mengapa Komando Penegak Koperasi dilemahkan”?. Baca Undang Undangnya, Semua argumentasi mental, karena anggota parlemen sudah melindungi dirinya dengan aturan yang dibuatnya sendiri. Tidak ada cara lain. Kalau mau jadi pucuk pimpinan di negeri ini, sekali lagi partai. Soal mampu atau tidak mampu lain urusan, yang lebih dahulu harus ada partai atau tidak ada. Partai pak Jangkrik, diluar dugaan mendapat sambutan masyarakat. Rupanya masih ada sebagian masyarakat di negeri ini baik, sementara lebih banyak telah berubah menjadi tidak penting menjadi orang baik. Yang lebih penting, siapa yang memberi uang dialah orang penting. Para pebisnis pendukung calon pemimpin paham hal tersebut, karena itu mereka rela merogoh kantong puluhan miliar, nanti ada yang mengkordinirnya. Proyek pembangunan juga ada yang mengkordinirnya, sebagai imbalan atas saham memilih pemimpin. Ini berlaku di negeri Cancut. “Sudah umum” kata seorang kontraktor yang dekat dengan istana.

Tahun ini partai pak Jangkrik ikut dalam kontestasi politik, pemilihan presiden. Rencananya unuk menjadi pemimpin bangsanya sudah terbayang dihadapan mata dan puluhan juta mata pendukungnya. Cita-citanya suci, seputih salju di puncak Himalaya. Banyak orang alim, pemikir dan ahli siasat mengerubungi pak Jangkrik. Mereka adalah pakar kritis, yang jujur dan bersih. Mereka mendukung pak Jangkrik, semata mata karena sama pendapatnya tentang keadaan bangsa Cancut yang menyedihkan menurut pandangan pak Jangkrik. Mereka bukan yang mengharapkan imbalan kursi seperti dedengkot partai pendukung lawan. Kebetulan lawannya hanya satu saja, sebut saja namanya pak Belalang Sembah. Pak Belalang Sembah didukung oleh sebagian besar partai negeri Cancut, sedang pak Jangkrik didukung oleh partainya sendiri dan beberapa partai gurem. Tetapi seperti biasanya, di negeri ini, pada setiap lima tahunan, ada pemilihan palemen, ada pemilihan presiden, itu artinya ada uang yang masuk dari kota ke desa. Penduduk desa di negeri Cancut, melihat pemilihan adalah pesta, atinya ada uang, ada pasar. Ada konsumen ada produsen. Di jaman dahulu, desa adalah tempat daulat rakyat, tempat manusia bermusawarah, bergotong royong, membangun dengan tulus dan ikhlas. Dahulu, kota adalah tempat daulat tuanku, tempat mereka menghormati seseorang karena jabatannya atau karena menguasai paktor produksi barang dan jasa. Sekarang jaman online, sudah berubah, orang tua sudah pikun dengan teknologi, milenial tak bisa dipisahkan dengan teknologi. Orang baik tidak disukai, yang disukai adalah yang sering muncul di layar televisi, facebook, instagram atau twiter. Ini yang kita sukai, ini yang kita pilih jadi pemimpin, ini teman kita di medsos.

Selain para pakar, analis dan tokoh terkemuka, pak Jangkrik juga didukung oleh para ulama, sekelompok orang brewok, berjubah kayak orang dari Timur Tengah sana, sedangkan calom lawannya Belalang Sembah, selain didukung semua partai, anak milineal, semua aliran agama juga mendukungnya, mulai dari yang sarungan, gamis, jubah orange sampai liontine bertanda plus yang menggantung dilehernya, berbaris, bergantian memanjatkan puja dan doa, memohon pada Tuhannya masing masing agar calonnya terpilih menjadi pemimpin di negeri yang amat dicintainya, negeri Cancut yang penduduk dan pemimpinnya sering memuja dirinya, sebagai negeri yang maju, nanti ekonominya paling kuat di dunia, dikagumi karena ganas terhadap terduga teroris, yang toleran, yang menghargai pluralisme, melambai-lambai nyiur di pantai. Raja kelana,”Walaupun pemujaan diri adalah bagian dari kelemahan, tetapi pemimpin negeri Cancut tidak punya pilihan, harus memuja dan menyanjung diri, berbeda dengan negara lain, yang dipuji oleh pihak lain, terutama negara yang mendapat pinjaman hutang. Sedangkan Cancut?, Bukankah kesenangannya hanya meminjam?. Tetap saja bagi yang punya akal sehat, jika orang lain memuji kita, kita harus waspada, karena tamu yang baik, tidak elok jika menunjukkan kekurangan tuan rumah. Itu adab bertamu dalam pandangan agama. Pak Jangkrik ketika menyampaikan kekhawatirannya terhadap dominasi asing dinegerinya, malah dilihat sebagai pesimistis, terutama oleh lawan. Demikianlah pergulatan itu terus berlanjut,sampai akhirnya pemiihan pemimpin negara Cancut selesai.

Pak Jangkrik kalah”. Kalah bagaimana”?. Ya kalah, jumlah suara yang memilih pak Jangkrik lebih sedikit dari yang memilih Belalang Sembah, itu namanya kalah Amaq Kesek tetap tidak mengerti dan tidak mau percaya tentang kekalahan itu. Dia kalah suara, setelah dikalkulasi oleh tukang hitung suara. Seorang teman menjelaskan, tapi Amaq Kesek yang buta huruf tidak mau tahu, pokoknya Pak Jangkrik menang. Menang, yang lain bohong semua. Ada namanya Mahkamah, Undang-undang Dasar yang memutuskan bahwa Pak Jangkrik memang kalah. Alasannya apa?. Mahkamah Undang Undang itu omong kosong saja. Sudah by desain penjelasan Amaq Kesek pada semua yang hadir”, masa keputusan setebal 2000 halaman bisa dutulis dalam semalam, padahal hakimnya tidak pernah tidur selama seminggu. Kemungkinan besar yang menulis keputusan itu disuruh pegawainya, mulai dari tukang sapu sampai penjaga malam. Jika masing masing menulis 20 halaman, diperlukan 100 orang karyawan Mahkamah Undang-undang Dasar itu”, Apa betul Ketua Mahkamah itu ada yang dipenjara karena menerima uang korupsi”?. Rupanya Amaq Kesek sangat jengkel dengan berita kekalahan itu. Walaupun ia buta huruf, tetapi batinnya sehat dan nalurinya yang tulus membimbing kecerdasan Amaq Kesek. Bagaimana saya percaya tentang kekalahan, pasti ada pemainan, pasti sudah direncanakan. Bagaimana cara membuat keputusan ribuan halaman, padahal mereka bersidang dua mingu”?. Amaq Kesek, tetap tidak percaya.

Beberapa minggu kemudian, suara Amaq Kesek tidak terdengar lagi. Mungkin dia sibuk di tambang pasir tempatnya bekerja sebagai buruh tambang, untuk menghidupi anak isterinya. Pak Jankrik, terus menilai keadaan sekitarnya. Pak Jangkrik, bukan sembarngan, semua tindakannya penuh kalkulasi. Pak Jangkrik, akhir-akhir ini rajin mengenakan baju sapari, karena dia rajin melakukan sapari, bukan ke kebun safari, tempat berkumpul binatang buas, tetapi ke kandang kandang partai yang melawannya dalam kontestasi beberapa bulan lalu. Apa yang ada dalam pikiran pak Jangkrik, tak ada yang tahu. Para dayang dan rekan dekatnya tak ada yang tahu, apalagi sekelas Amaq Kesek si buruh gali pasir yang panatik itu. Pendukung jangkrik dari semua kalangan terdiam. Terhenyak ! Terbelalak !. Hanya Amaq Kesek dan kelompoknya yang tak mau diam. Pak Jangkrik, menang, semua bohong, curang, licik, munafik, akan hancur. Semua sumpah serapah keluar dari mulut mereka. Memang kelas bawah inilah yang berjuang tanpa kenal lelah, tidak beharap apapun dari sang pemimpin. Masa sekelas Amaq Kesek akan dapat jatah jabatan. Tak mungkin sekelas Amaq Kesek akan menjadi komisaris perusahaan milik negeri Cancut. Tak mungkin sekelas Amaq Kesek akan menduduki jabatan sekelas eselon-eselon. Sekelas Amaq Kesek adalah kelompok yang paling merasakan penderiaan rakyat. Kelompok Amaq Kesek mengharapkan ada orang suci yang akan membawa amanat penderitaan rakyat. Orang suci itu adalah Pak Jangkrik.

Tetapi ketika pak Jangkrik rajin bersafari ke tokoh-tokoh layar kaca yang juga tokoh partai lawan tandingnya, mulailah orang bertanya.Apa tujuan pak Jangkrik rajin bersafari ke kandang lawan tandingnya. Mungkin si lawan tandingnya melihatnya sebagai lelucon, semacam wayang orang, semacam basa basi yang mulai basi. Seorang ulama pendukung pak Jangkrik menganjurkan lebih baik bersafari ke rumah pendukung dari pada ke rumah bekas lawan tanding. Ulama itu sambil menyitir beberapa potongan ayat dari kitab suci yang diketahuinya. Barisan ulama yang dahulu sangat kompak mendukungnya, kini porak poranda. Ulama tidak semestinya porak pranda. Walaupun doa-doanya tidak dierima oleh Tuhan, karena syaratnya tidak memenuhi rukun. Rukun keikhlasan, ketundukan dan iman yang mendalam. Kebanyakan ulama melakukan doa politik yang dideramatisir agar tanpak di layar kaca. Semua serba munafik kecuali Amaq Kesek dan kelompok buruh tambang pasir dan buruh batu apung, kelompok orang suci yang disepelekan.

Pak Jangkrik, bukan tidak tahu, banyak pendukungya mulai mencibirkannya. Banyak pendukungnya mulai membuat tafsir, tamsil, ibarat, perumpamaan dan ramalam tentang orang yang beberapa hari lalu dipuja setinggi langit, lalu dihinakan serendah rendahnya. ”Ini adalah risiko”, tukas pak Jangkrik ringkas. Lalu hari ini safarinya dilanjutkan lagi. Lagi lagi tokoh partai yang dikunjunginya menyambutnya dengan ramah. Sesama politsilah, sama-sama bermain mata, bermain kata, bermain rencana, hanya mereka yang tahu. Lalu mulai berkembang di masayarakat, mungkin pak Jangkrik ingin mendapat jabatan dalam pemerintahan negeri Cancut. Dijawab lagi oleh ulama pendukung yang mulai porak poranda, ”Terlalu hina jika pak Jangkrik mau menjadi bawahan Belalang Sembah”. Dijawab lagi oleh ulama yang lain, ”Apanya yang hina, kan untuk negara dan bangsa”. ”Untuk negara dan bangsa tidak harus menjadi karyawan atau orang yang dikariakan, menjadi Amaq Kesek juga untuk negara dan bangsa”, tukas ulama yang selalu berbusana jubah kearab araban itu.

Memang tak ada yang tahu, apa pikiran pak Jangkrik. Memikirkan pikiran sama sulitnya dengan menebak dalamnya laut, tanpa alat yang canggih. Tetapi para pendukungnya yang datang dari berbagai lapisan masyarakat, berfikir lebih sederhana. Mereka tidak menyadari Pak Jangkrik adalah seorang tokoh politik, seorang ketua partai. Walaupun dia berbeda dengan ketua partai politik lain, tapi mereka memiliki kesamaan. Mereka juga memiliki naluri yang sama, kekuasaan, kekuasaan. Mungkin sekelas partai gurem, menjadi menteri adalah pencapaian paling besar dalam karir politiknya, tapi lebih banyak ketua partai memiliki tujuan yang hampir sama dengan pak Jangkrik, tinggal menunggu waktu. Pertempuran akan lebih sengit, dimasa lima tahun yang akan datang mungkin hal ini juga tidak disadari oleh pak jangkrik, kata pengamat dari bawah pohon pace.

Pak Jangkrik, bukan orang biasa. Bukan pemimpin partai biasa. Pokoknya bukan sembarang orang. Apapun tindakannya sudah diperhitungkan dengan matang, begitu petuah seorang ulama yang sejak dari dulu menjadi pendukung Pak Jangkrik. Mungkin orang ini punya jalur khusus menemui pak Jangkrik, orang lain tidak tahu apa yang tersirat dalam benak pak Jangkrik, sehingga di minggu minggu ini bersafari tak kenal lelah. Bersafari tak kenal lelah, seperti petani yang menanm padi, hasilnya nanti pada waktu panen. Pokoknya semakin rajin bertani, semakin besar hasilnya. Itu rumus dalam kehidupan para petani. Tetapi semacam Amaq Kesek juga sama saja, semakin rajin menggali pasir, semakin besar upah yang diterimanya. Itu hukum alam yang tidak rumit dipahami oleh orang awam. Sedangkan masalah ini orang awam tidak tahu, hanya pak Jangkrik yang tahu tujuannya yang tersembunyi. Yang lebih tahu juga adalah para tetangga ketua partai. Tapi pura pura tahu dengan caranya sendiri yang sederhana. Jawabannya juga sederhana, sesederhana pikiran tokoh tohoh negeri Cancut, ”Sebaiknya pak Jangkrik di luar pemerintah saja, agar ada yang mengawasi pemerintah”, dan satu tokoh partai lagi nyeletuk, ”Pak Jangkrik, pendatang baru, seperti solat berjamaah, namanya masbuq, harus berdiri paling belakang”. Ungkapan tersebut terlalu sederhana ditafsirkan awam.Tetapi pak Jangkrik tidak pernah berbicara sesederhana itu. Dia berbicara arti kata jangkrik, jangan mengeritik asal kritik. Biar partai pak Jangkrik didalam atau diluar pemerintah, dia akan memberi masukan untuk kemajuan bangsanya: ”Di negara Cancut ini tidak dikenal oposisi, partai pak Jangkrik akan memberikan saran dan pendapatnya kepada pemerintah untuk kemajuan bangsa dan negara, baik menjadi bagian pemerintah atau diluar pemerintah”. Sudah jelas.Tapi namanya orang partai, baik partai pak Jangkrik maupun partai pendukung Belalang Sembah pasti tak pernah sepi ing pamrih. Pak Jankrik, jangan keluarkan lengkingan suaramu hanya dimalam sunyi dan gelap. Ada jutaan jangkrik akan menimpali bila lengking suaramu nadanya sama dengan sesama jangkrik. Cancut tali wondo, Tego marang larane, ora tego patine.

Mataram, 18 Oktober 019

Menampilkan lebih banyak

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
%d blogger menyukai ini: