Kumpulan Cerpen
Trending

Senggigi

Saya yang punya Senggigi. Orang-orang sekarang hanyalah numpang untuk sementara. Ketika saya muda dulu, saya selalu mandi di pantai ini. Sampan saya tambatkan di pangkal pohon pandan yang berbaris diantara pasir putih ini. Di bagian ini, dahulu saya menanam singkong dan pisang. Teman-teman nelayan saya sebelum berangkat ke laut setiap sore, biasanya kami membakar singkong dan meminum air kelapa muda. Demikianlah sepanjang tahun kulakukan dengan teman nelayan, teman petani dan ibu-ibu penendak ikan. Oh… alangkah indahnya tempat ini.

Walaupun belum ada jalan, kami berjalan menyusuri pantai yang landai untuk menuju Pasar Kebon Roeq. Ada juga jalan elesan yang sempit, kadangkala ibu petani dan penendak ikan, menggunakan jalan kecil, berpasir dan berdebu itu. Tapi semua itu ku nikmati dengan penuh syukur kepada Tuhan. Kami bahagia, bahagia sekali, dengan keluarga dan anak isteri yang masih telanjang dada saat itu. Kami menjalankan adat dan agama kami penuh kekhusu’an. Hidup kami damai dan tenteram. Walau mesjid kampung kami kecil, tetapi rasanya besar, karena jiwa kamilah yang tenteram ketika kami menjalankan agama kami. Tidak ada campuran antara kemewahan, kemunafikan, perbedaan antara si kaya dan miskin, kami semua orang miskin.

Saya selalu memanfaatkan waktu. Ketika musim terang bulan, kami tidak turun ke laut, musim libur bagi ikan untuk dimangsa manusia. Saya ke bagian belakang, di hutan tutupan, mencari kayu sambil memikat burung. Biasanya saya mencari burung kelotok, untuk memenuhi kebutuhan daging. Tak mungkin saya membeli daging, tidak melaut artinya tidak makan, karena tak ada ikan yang dijual. Tapi jika tak melakukan apa-apa, sama dengan tinggal kelaparan. Tak ada raskin, pkh atau apapun namanya program pemerintah. Kami tetap orang miskin, walaupun beberapa temanku memiliki ladang dan kebun.

Perjalananku pagi buta ini, terhenti sejenak. Ada undakan dan ada tumpukan batu besar di antara pantai dan ombak laut. Aku harus berhati-hati untuk menuruni undakan ini, terjal dan membahayakan. Pagi buta seperti ini, sangat berbahaya di pinggir pantai yang didindingi batu-batu besar. Di sebelah kanan saya dibangun tembok tinggi tanda pembatas, wilayah hotel dengan jalur sempit yang dapat dilalui manusia. Di dinding tembok pembatas ada tulisan, dilarang duduk dan memasuki areal hotel. Dilarang pedagang asongan, dan sejumlah larangan yang tidak dapat saya baca karena pagi ini, pagi buta. Memang setiap pagi saya berolah raga jalan kaki, tapi kali ini saya berjalan di tempat yang salah. Pagi buta, lorong sempit, batu besar yang siap menerkam tubuh yang terpeleset. Pikiranku menerawang ke masa lalu, lebih seperempat abad yang lalu, ketika bermain dengan kecepak air laut, yang menghampiri pasir dengan lemah lembut, lalu menjauh, lalu kembali lagi dan saya dan teman nelayan menatapnya sebagai saudara sepermainan yang dapat diajak bercanda, kami bersaudara, kami saling menolong, laut menyediakan ikan dan kami memanfaatkannya, dan pantai  ini kami jaga, agar arus gelombangnya berjalan santai, dipantai yang landai. Orang yang hendak merusak karang laut, bersembunyi karena takut dianiaya oleh saudara nelayan. Bukankah nelayan lebih tahu, jika karang rusak, sama dengan rumah ikan rusak? Lalu dari mana kami harus mendapatkan ikan yang akan menyambung hidup kami? Tapi itu dulu, sekarang?

Di pagi yang masih samar samar, tiga gerombolan orang berhenti di dekat saya. “Pak? Sedang berolahraga”? Saya tertegun, mengapa di pagi buta ini ada yang menegur saya seperti dia kenal dengan saya. Dia kenal dari apa? Bukankah saya tidak berbicara apapun, sehingga mustahil saya dikenal karena suara saya. Ah mungkin karena gaya jalan saya, yang biasa berjalan cepat, itulah yang menyebabkan mereka mengenal saya. Saya tidak berbasa-basi, “ya!” dan langsung melanjutkan perjalanan di pagi buta, di tepi pantai, di lorong yang sempit, yang dihimpit oleh tembok dan kawat berduri. Sebelum itu ku tanyakan pada mereka ngapain anda di sini? “Ada rapat dinas pak” Ada rapat dinas di sini. Pasti biayanya dari negara gumam saya. Enak sekali jadi pejabat, rapat di hotel dibiayai oleh rakyat. Kan uang di kas negara itu dari pajak rakyat, ya jelas biayanya dari rakyat. Saya harus berhati-hati lagi, di hadapan saya tumpukan batu semakin tebal dan bergerigi. Sangat berbahaya, lebih-lebih di pagi yang masih samar-samar dari penglihatan mata manusia normal.

Beberapa puluh tahun yang lalu pemerintah dibantu negara  asing, lembaga asing yang melakukan penelitian berbagai sumber daya alam, termasuk di dalamnya sumber daya alam untuk pariwisata. Lembaga itu merekomendasikan pantai ini layak untuk dijadikan daerah wisata. Tak ada yang tahu, rekomendasi itu, kecuali pejabat-pejabat pemerintah daerah saat itu. Diam-diam mereka mulai membeli tanah-tanah di pinggir pantai, mula-mula di areal tempat saya dan teman nelayan menambatkan sampan. Harganya saat itu, cukup Rp.10,.juta/l Ha. Itu pun yang membelinya beberapa pejabat yang berhasil meraup uang negara dari memalsukan kwitansi dari proyek. Beberapa orang pengusaha yang sedang berjaya karena proyek, mulai menancapkan taringnya, membeli sejumlah tanah ladang dan kebun kelapa penduduk. Harganya masih sama, tapi jumlah uang itu sangat banyak untuk petani pemilik yang hanya mengandalkan dari harga singkong dan beberapa butir kelapa. Paling-paling hasilnya Rp.1000,/tahun. Sepuluh juta? Mata mereka membelalak, mendengar kata juta dan puluhan, petani buta hurup itu membeli mobil, membuat rumah dan berpoya-poya dengan uang puluhan juta itu. Mereka yang tidak tahu untuk apa uang sebanyak itu, sejenak bergembira, main gasing, main layang-layang, dan isterinya yang setiap pagi pergi ke Kebon Roeq, kini pergi ke toko emas. Pakaian mereka bagus dan di lehernya tergantung perhiasan emas dari toko emas Cempaka.

Semua tanah sudah berpindah tangan. Temanku menyingkir ke pedalaman, sambil mereguk uang hasil menjual tanahnya. Saya? Saya memang tak punya tanah. Saya hanya nelayan kecil, modal ku hanya sebuah sampan dan kerja keras. Sejak mereka menjual tanah, mereka merasa terhina pergi melaut membawa sampan kecil. Untuk apa? Uang puluhan juta, mereka merasa telah menjadi kaya raya. Memang ukuran itu, mereka sudah kaya, ada yang membeli mobil walaupun tidak bisa membawa mobil, lalu dipajangkan saja di dekat rumahnya. Ada yang membeli sepeda motor, lalu  jatuh dan mati di pengkolan Batulayar, karena baru belajar dan lupa mengendalikan diri, terlalu bersemangat mendapat kekayaan melimpah dalam sekejap, ada yang membeli emas perhiasan dan pakaian. Tak ada yang membeli peralatan usaha, membangun kios atau menyimpan uangnya di bank. Semuanya dihabiskan.

Sepanjang pantai ini dan tanah-tanah di sekitarnya, kini telah menjadi milik orang, bukan petani, bukan nelayan. Mereka adalah pemilik modal dan kesempatan. Telah berdiri ribuan bangunan, hotel, restoran, bungalow, diskotik, panti pijit-pijit, toko, kantor, rumah sewaan, mobil, jalan, iklan dan suara gedebuk musik malam hari dan wanita-wanita berseliweran di malam hari, mencari mangsa bule atau domestik, dan para pegawai pemerintah yang mendapat keuntungan dari proyek, rapat dinas di sini. Karena di sini ada daya tariknya. Berubah tiga ratus enam puluh derajat, dibandingkan dahulu, seperti ada permainan sulap yang tak perlu menunggu hari untuk mengubahnya. Orang datang dari mana-mana, laki perempuan, dengan keperluan bermacam-macam, tujuannya satu mencari keuntungan, uang, kenikmatan ragawi, birahi dan kemewahan. Tak ada apa-apa di tempat ini, tak ada obyek wisata, tak ada tarian Sasak, lukisan Sasak, kuliner Sasak, semuanya berbahasa asing, dari makanan, minuman dan restoran. Serba asing. Dan orang yang dahulu berbicara bahasa Sasak, dimana? Mungkin ada satu dua dapat pekerjaan di level yang paling rendah, cuci piring di restoran, penjaga parkir atau tukang pembersih jalanan. Mereka itulah, dahulu pemilik tanah ini, lalu sekarang menjadi miskin dan tersingkir. Tempat ini sekarang telah menjadi dunia baru, yang mengasingkan wajah pemiliknya di masa lalu.

Dari segi penataan kota, dari kota-kota pantai yang sudah saya kunjungi, tempat ini sangat buruk. Pantai yang menjadi milik orang banyak, dikangkangi oleh hotel dan restoran. Mereka tidak dapat dipersalahkan, karena pemerintah tidak memiliki perencanaan yang baik. Mungkin para pejabat pemerintah yang memiliki tanah-tanah hasil membeli dari penduduk, lalu menganggap pasir pantai juga miliknya. Tempat ini benar-benar kacau dan tidak menarik. Siapa pun yang datang ke sini tak peduli, apakah penataan sudah benar atau salah, yang penting tempat ini memuaskan hatinya, konon perempuan muda, jebolan dari Doly yang sudah dimusnahkan oleh walikota Surabaya, banyak eksodus ke tempat ini konon banyak gigolo yang sudah apkir dari pantai Kuta, mangkal lagi di sini. Konon turis-turis yang datang ke tempat ini para pecandu narkoba murahan, karena di sini lebih mudah didapat. Konon virus HIV bersemi di sini di pantai Senggigi, Tempat ini sudah berubah cepat, cepat sekali. Mira W, novelis wanita tersohor dalam novelnya. Segurat Bianglala di Pantai Senggigi, menceritrakan tempat ini menjadi tempat randevu bagi berbagai kelompok manusia, dari jakarta, dari Eropah dan tempat lainnya.

Dibandingkan dengan tempat lain, Senggigi berubah terlalu cepat, tidak terkendali, tidak terencana. Tapi ya. sudahlah. Tak ada yang peduli, dibiarkan saja, berputar seperti roda pedati, tak ada sais yang mengendalikan, padahal ada pemerintahan. Semua areal ini seperti tidak ada hukum, orang dari mana saja, Swedia, Amerika, Australia mungkin juga dari Panuatu, sudah membangun sendiri vila dan hotel sampai di punggung bukit di belakangnya. Tak ada pemerintahan yang mengatur tata ruang, benar-benar seperti negeri tak berpemerintahan. Bangun, Bangun, kamu mau bangun apa saja, terserah. Mereka yang merasa memiliki tanah menjualnya dengan harga yang menggiurkan, lalu mereka tersingkir membawa bungkusan uang banyak, Mereka bahagia, mereka tidak punya rencana, mereka sekarang mengais rizki dari pekerjaan kasar di siang dan di malam hari.

Semakin tinggi matahari, semakin jelas panorama alam wilayah ini. Sangat tidak menarik, dibandingkan kota pantai, pantai wisata yang sudah saya kunjungi di dunia. Memang sejak saya kabur dari pantai ini 32 tahun lalu, lantaran terpaksa ditinggal temanku di masa muda, aku berkelana dengan modal kerja kerasku. Menjadi koki di kapal pesiar, jual beli rumah di pantai Pataya. Dan sekarang saya punya hotel sendiri di Pantai Cempedak, Malaysia. Modal saya apa?  Hanya kerja keras, kejujuran, Tuhan pasti membantu. Saya juga membuka cabang hotel saya di daerah Timur pulau ini, karena itulah banyak orang mengenal saya. Saya berlibur hari ini, sambil mencari teman semasa muda saya, satu pun tak ada yang kutemukan. Mungkin banyak yang sudah meninggal atau bahkan ada yang menjadi tukang cuci piring di hotel tempatku menginap. Saya mendengar seorang temanku di masa muda dahulu menjadi buruh sawit di Malaysia setelah uang bayar tanahnya habis dibelikan mobil, lalu mobil itu dijual lagi dengan harga murah.

“Sebenarnya Senggigi itu apa artinya”? Anakku bertanya padaku. Memang saya telah berceritra panjang lebar riwayat perjalanan hidupku pada teman dan anakku. Ceritra dimulai dari kehidupan ku di sini beberapa puluh tahun yang lalu. ’Ada dua nama tempat ini yang artinya sama, boleh disebut Batu Bolong atau Senggigi saja. Ada batu yang berlubang, dan lubang itulah yang disebut Batu Bolong. Sedangkan Senggigi, itu dari bahasa Bali, artinya songgigi atau gigi berlubang. Gigi berlubang artinya baunya busuk. Jadi Senggigi=batu bolong=gigi berlubang=busuk, berbau busuk. Apakah ada kemiripannya dengan keadaan sekarang? Saya pastikan bukan mirip, tapi idem dito.Busuk,bengis,birahi,bibir,bau,brutal,biadab,berselingkuh,berduit,berlari tanpa kepastian. Yang berlari adalah mereka yang dahulu menjadi pemilik sah dari tanah ini. Karena kebodohannya lalu ditipu oleh mereka yang berduit. Yang mengherankan lagi, mereka yang berduit juga dari kalangan pemerintah, terserah duit nya dari hasil rampok atau maling, tapi juga mereka membiarkan masyarakat menjadi tetap tidak mengerti.

Lebih seratus tahun yang lalu, melalui jalan sempit  lalu melewati lubang gigi, sejumlah tentara kerajaan berlari, desersi meninggalkan sang raja dianiaya oleh kolonial belanda. Mereka sepanjang malam, mengendap-endap menyusuri pantai ini, hingga di Teluk Kombal, lalu melarikan diri ke Karangasem. Lalu raja ditawan dengan penuh kepasrahan. Lebih baik mati berkalang tanah, daripada hidup bercermin bangkai, dia adalah pahlawan, dan mereka yang melarikan diri adalah segerombolan pecundang, orang-orang busuk. Ceritra tentang masa lalu itu adalah sebuah papan tulis pelajaran sejarah bagi anak cucu kita, termasuk anak cucu ku yang baru belajar tentang hidup ini. Mulai dari sini di Songgigi ini.

Senggigi, 6 Oktober 0019

Menampilkan lebih banyak

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Close
Close