Kumpulan Cerpen
Trending

GRADER TEMBAKAU

Tembako Lombok sangat terkenal sejak jaman Belanda. Saudagar tembako gecok sejak ratusan tahun lalu telah merambah pasar tradisional di Jawa, Sulawesi dan tentu saja pasar lokal  setempat. Banyak orang mendadak menjadi kaya, ketika harga tembakau meningkat, tapi tak sedikit yang bangkrut ketika  harga anjlok. Alasannya tentu saja dari pihak sana, si pembeli.

Karena semua keluarga di desa sudah terbiasa hidup dengan tembako, maka menghisap asap tembako menjadi kebiasaan, tak peduli tua, muda dan anak anak. Perempuan juga banyak yang madat merokok, gara-gara bekerja sebagai buruh pabrik rokok cap koeda. Rokok yang tembakonya keras walau dicampur sedikit rempah. Rokok asli ini dibungkus kulit buah jagung. Merek pabriknya cap koeda.Tapi itu dulu. Sekarang?. Mana mungkin pedagang kecil mampu melawan perusahaan raksasa sekelas bentul, philipmoris, merek kudus lainnya. Semua bangkrut. Yang masih  bertahan  hanyalah petani tembako. Seandainya tidak ada petani tembako, mungkin tak  akan ada tujuh orang terkaya di Indonesia.

Petani akan tetap  menanam tembako, karena yang membutuhkannya banyak. Jumlah orang desa yang menanam tembako setiap tahunnya meningkat. Jumlah perusahaan pembeli tembako juga terus meningkat. Konon mutu tembakonya juga terus meningkat, lantaran ada dam Pandandure yang  menyediakan air sepanjang musim. Walaupun mutu tembako terus meningkat, tetapi harganya tetap tidak meningkat .Bahkan masyarakat petani tembako tahun ini menangis, karena para pembeli tembako bersatu seakan tidak akan membeli dalam tahun ini. Ini hanya akal-akalan saja, agar harga turun, perusahaan untung besar  dan petani merugi. Ini hukum besi pedagangan kapitalis yang membuat semakin kaya para cukong rokok. Petani tembako sudah banyak yang mati, lantaran menghisap nikotin, dengan merokok lebih banyak, ketimbang menjualnya dengan harga murah. Oang tua mengajak anak-anaknya merokok, agar tidak terlalu besar ruginya dengan harga murah. Sekarang harga tembako ditentukan oleh orang yang ditugaskan menilai kelas tembako. Tukang kir ini diberikan kuasa menentukan kelas, sekaligus menentukan harganya. Namanya grader. Orang ini paling berkuasa kata Inaq Mun.

Inaq Mun janda beranak dua. Suaminya meninggal dunia tiga tahun lalu, karena TBC. Dia perokok berat dan dua anaknya telah di didik menjadi pengikutnya, merokok, tembako pilitan, Rokok pabrik terlalu mahal, jarang dibeli oleh keluarga desa, termasuk anak Inaq  Mun. Tahun ini lebih sulit, harga tembako anjlok. Petani tembako banyak yang sakit, karena biaya produksinya tidak sebanding dengan harga jual. Mereka putus asa. Ada yang ingin demo gubernur atau bupati. Memangnya apa hubungannya dengan harga temabko? Ini masalah pasar, bukan masalah kebijaksanaan pemerintah. Itu jawaban petinggi pemerintah. Inaq Mun selalu tenang, karena disetiap musim tembako tidak pernah mengalami kesulitan dengan harga.

Inaq Mun dibantu dua orang anaknya yang berusia belasan tahun  untuk mengolah sebidang lahan sawah seluas 3500 meter persegi ,sawah ini adalah warisan almarhum suaminya. Tahun ini sawahnya ditanami tembako, setelah musim panen padi. Hasil tembako lebih besar dibanding panen padi. Karena itulah walaupun harga tembako jatuh, Inaq Mun tetap menanam tembako. Pokoknya tembako, tembako, menguntungkan dan kedua anaknya yang masih dibawah umur sudah berpengalaman membantu ibunya menanam tembako. Keduanya juga sudah berpengalaman merokok, sejak usianya enam tahun.

Cidot, kini usianya 40 tahunan. Dahulu dia hanyalah seorang buruh tani serabutan. Sering membawa tembako ke gudang perusahaan pembeli tembako. Dari upahnya  memburuh dimanfaatkan dengan irit untuk membiayai isteri dan dua anaknya. Karena perkenalannya dengan beberapa petugas perusahaan, rupanya Cidot  layak mendapat penghargaan, karena keramah-tamahan dan kekuatan fisiknya memikul tembako dari kampung ke gudang perusahaan. Tawaran menjadi mandor petani binaan perusahaan diterimanya dengan sukacita. Jadi mandor adalah kehormatan, adalah jabatan, adalah status. Seorang Cidot dari buruh kecil lalu menjadi mandor tentu sebuah pencapaian luar biasa untuk penduduk kampung Ketejer itu.

“Nama saya pak Cidot, saya sekarang jadi mandor, akan mengawasi saudara, jangan sampai menyimpang dalam penggunaan pupuk, dan jangan coba-coba menjual tembako selain kepada perusahaan Kembang Mawar”. mengerti saudara” !. Beberapa anggauta petani binaan terdiam. Ada juga yang bergumam ”Sombong gati ruan loq Kecidot”. Gaya Cidot berubah seketika. Sebelumnya ia selalu bicara bahasa Sasak, tapi kini ia selalu berbahasa Indonesia. Namanya telah berubah dari Loq Cidot menjadi Pak Cidot. Dia sendiri yang memanggil namanya Pak Cidot, sedangkan orang sekampungnya tetap memananggilnya Loq Cidot saja atau Amaq Mae, sesuai dengan anak pertamanya Maimunah.

Cidot sebenarnya tidak berpengalaman menanam tembako. Dia tak punya sawah untuk ditanami. Ia hanya buruh tani serabutan. Ia tergolong miskin di kampungnya. Ia hanya dilatih beberapa hari saja untuk menjadi mandor. Tetapi sekarang dia benar telah menjadi mandor untuk petani tembako binaan PT Kembang Mawar. Dengan menggunakan baju kaos kerah biru bertuliskan PT KM, Cidot hampir setiap hari berkeliling sawah yang hendak ditanami tembako atau sawah petani yang sudah tumbuh anak tembakonya. Cidot sangat menghormati jabatannya dan tak pernah bertanya gajinya. Memang dibulan pertama sampai enam bulan gajinya sesuai UMR, tetapi itu sudah cukup. Statusnya sebagai mandor dengan kebanggaan segudang, bukankah lebih besar dari UMR? Perilaku Cidot sangat disukai oleh bosnya, karena tak pernah mengeluh dengan gajinya yang pas-pasan. Bos perusahaan tidak paham bahwa kepuasan Cidot bukan karena uang tetapi karena statusnya sebagai mandor. Baju kaos dinas berkerah biru selalu dikenakannya, kemanapun ia pergi. Cidot sedang menikmati kebahagiaan semu dalam serba kekurangan yang sempurna. Isteri dan dua anaknya tetap hidup dalam kekurangan, sementara Cidot  membanggakan dirinya sebagai mandor, seakan status sosialnya sudah meningkat, walau status ekonominya tetap tanda tanya.

Tak ada yang tahu, apa yang ada dalam pikiran mandor Cidot. Apakah dia akan tetap seperti itu atau suatu saat akan berubah?. Mungkin ada agendanya yang tesembunyi, atau memang dia tidak punya agenda apapun dalam hidupnya. Menjadi mandor tidak pernah ada dalam bayangannya, karena semua mandor rata-rata berpendidikan SLTA, sementara Cidot hanyalah  tamatan Tsanawiah di kampungnya. Dia loyal pada perusahaan, loyal pada pimpinan, bangga menjadi kariawan dengan kaos bertulisan nama PT. Ini sebuah prestasi sekaligus sebuah pretise.

Karena loyalitas, karena pandai memikat hati pimpinan, karena bangga dengan kedudukannya sebagai mandor, mungkin baik jika pangkatnya dinaikkan saja. Orang ini baik sekali, tak pernah mengeluh dengan gajinya. Cukup dua tahun, dua kali musim tanam, sudah waktunya pangkatnya dinaikkan. Tukang kir kwalitas tembako, memutuskan tembako baik atau buruk, jikapun baik didudukkan dalam kelas berapa. Itu tugas tukang kir. Namanya lebih populer dikalangan pertembakoan, grader. Tukang kir itulah yang bergelar grader. Jabatan ini sangat penting, khususnya bagi petani tembako dan para pengepul. Untung rugi ditangan grader. Jika petani menghendaki tembakonya dikelas satu, hubungannya dengan grader sepeti apa? Tidak mudah. Ada jalur khusus, ada tempat khusus untuk mengambil keputusan, dan jangan lupa ada tarif khusus, agar seorang petani dapat menjual tembakonya dengan grade berapa? Karena perusahaan sudah menentukan harga beli berdasarkan grade.

Kali ini Cidot tidak mengumumkan dirinya sebagai grader, seperti ketika ia baru diangkat sebagai mandor dua tahun sebelumnya. Dia kurang bicara sekarang. Penampilannya kalem dan berwibawa, maklum sepanjang malam banyak tamu datang kerumahnya, menawarkan macam-macam janji dan keuntungan. Dia mulai sadar akan kedudukannya yang sangat strategis, grader. Grader tembako. Seorang grader dapat memainkan grade, jika dibayar. Bahkan tembako yang sudah ditolak oleh grader lain, dikumpulkan kembali oleh pengepul khusus binaan para grader. Tembako itu kembali dibawa ke gudang perusahaan pembeli, lalu diterima dengan grade yang bagus. Keuntungannya dibagi oleh para grader. Cidot, grader baru, tetapi segera paham setelah dibisiki grader lain. Serta merta Cidot sekarang masuk dalam kelompok grader hitam. ”Emangnya ada grader putih”? tanya saya. ”Saya kira  grader disini semua hitam” kata Inaq Mun, petani tembako bersama dua anaknya yang kini berusia belasan tahun. Inaq Mun sudah puluhan tahun main kucing-kucingan dengan grader. Tetapi walau ia seorang perempuan tani, tidak kehabisan akal menghadapi para grader, apalagi grader macam Cidot yang bau kencur sebagai grader. Walau usianya empat puluhan tahun,ia selalu berdandan rapi bila berurusan dengan tembako hasil sawahnya. Wajahnya yang selalu ceria dengan gincu merahnya, bisa jadi membikin grader Cidot lebih ramah tamah padanya, seperti grader lainnya.

Hari minggu sore, seperti biasa beberapa pengepul binaan grader, beberapa petani dan tak ketinggalan Inaq Mun berkumpul disalah satu rumah makan Rangrang, tak terlalu jauh dari kantor perusahaan pembeli tembako. Tempat ini sudah sering kali digunakan oleh kelompok hitam ini. Mereka mengambil posisi di sebuah berugaq yang letaknya agak menyudut dibelakang warung.

”Begini saudara” pak Amat, grader senior membuka rapat gelap itu. ”Sekarang ini perusahaan yang membeli tembako sudah berkurang, bahkan ada salah satu gudang besar tidak membeli tembako  lagi. Itulah sebabnya kita mendapat kesulitan sekarang ini. Jika peusahaan mau beli tembako ya terpaksa, itupun harganya banting setir. Saya juga tak paham apa sebabnya, apakah karena gudang penuh atau masalah manajemen, kita tidak tahu ”Walaupun suara pak Amat sangat kecil, hampir berbisik, tapi semua yang hadir sudah paham. Semua mereka terdiam. Mungkin juga para pengepul pura-pura diam dan bingung. Pak Cidot grader bau kencur, pura-pura bertanya ”sangkaq berembe cara pak Amat nulung batur”. Pak Amat terdiam sejenak lalu ”Akan saya rundingkan dengan bos di kantor besok” Rapat hari ini tampaknya suram bagi petani tembako seperti Inaq  Mun dan ribuan petani yang lain. Tapi para pengepul sudah sering disuguhkan informasi seperti ini, sebagai langkah awal bernegosiasi. Nasib Inaq Mun dan ribuah Inaq ada dibawah telapak kaki para pengepul binaan dan para gradernya. Harga tembako musim panen ini anjlok menjadi hanya Rp.1,2 juta/100 kg. Tahun lalu harganya mencapai Rp.4,5 juta. Pantas para petani mulai nggeremon tak karuan.

Dua hari kemudian, Cidot  atas perintah pak Amat memberitahu dengan cara berbisik pada Umar salah seorang pengepul binaan. Kabarnya pak Amat berhasil membujuk bos menaikkan harga pembelian pada tingkat petani menjadi Rp.2 juta/100 kg. Harga ini jauh lebih baik dibanding harga sebelumnya. Sedangkan harga gudang bersifat rahasia, hanya grader dan pengepul yang boleh tahu. Khusus untuk Inaq Mun  dan beberapa temannya, terutama kalau janda muda atau boleh isteri orang asal cantik, pasti akan dapat tambahan melalui pengepul. Pengepul biasanya membawa salam tempel dari grader pada wanita wanita petani tembako berparas cantik itu.

Suatu malam, malam minggu, tiga minggu setelah keberhasilan grader konon memohon bantuan bos, tiga minggu setelah itu ramai transaksi dan para pengepul mulai memadati gudang Kembang Mawar, dan malam ini beberapa pemimpin pengepul, diantaranya dua orang pak haji yang dianggap tua, dan tiga orang grader tak terkecuali sigrader bau kencur Cidot, tiba-tiba sudah berada disebuah kamar viv diskotik “Pucuk” yang berlokasi di Senggigi, daerah wisata dan hiburan tersohor di daerah ini. Ruangan yang harum ,sinar lampunya tidak terlalu terang,tapi masih dapat melihat dengan terang. Beberapa perempuan cantik, berpakaian menggoda berjalan melenggang kangkung sambil membawa minuman, sambil mengibaskan badan dan bau farpumnya yang  di gosokkan perlahan ditubuh orang desa yang malam ini statusnya meningkat tajam tiba-tiba sebagai kelompok bos, banyak uang dari keuntungan menipu para petani. Mata  Cidot  terus membelalak mengikuti gerak gerik wanita muda dua puluhan tahun, putih montok dan menggoda. Dia belum sadar, apa nama tempat ini, dia belum sadar malam ini dia berada di kamar VIV sebuah diskotik berkelas di daerah Senggigi yang terkenal itu.

Pak haji yang telah puluhan tahun menjadi binaan para grader, rupanya lebih berpengalaman ketimbang Kecidot, Dari dalam mobil yang membawanya, topi hajinya sudah ditanggalkan dan diganti dengan cepio untuk penyamaran. Sedangkan dua grader lainnya menggunakan celana jean dan baju kaos gaya anak muda. Hanya Cidot malam ini sebagai pendatang baru dan langsung terpukau antara sadar dan  setengah sadar. Ketika masih menjadi murid Tsanawiah, selalu didengungkan ditelinganya petuah pak ustas tentang godaan setan iblis yang selalu menyertai kehidupan manusia, Manusia dianjurkan selalu dekat pada Pencipta dan memohon agar dilindungi dari godaan setan dan menjauhi tempat maksiat. Ustas menambahkan, bahwa mendekati tempat berzina saja sudah dosa apalagi selebihnya. Dalam benak Cidot, ada terlintas ucapan ustasnya beberapa puluh tahun lalu, tapi dia berdalih pak haji saja ikut bersama saya di tempat ini malam ini, di malam Minggu ini, di Diskotik Pucuk Birahi di Senggigi ini. Ah! Nanti saya bertobat Di wajahnya hanya wajah birahi, dua gadis muda, putih berseri sambil merajuk, lalu wajah isteri dan anak anaknya tiba-tiba hilang dari radar iman, apalagi wajah Inaq Mun, dan janda-janda muda yang seringkali menggoda dirinya.

Dengan suara berbisik, pak Amat meminta catatan perolehan dari selisih harga jual ke gudang dengan harga pembelian dari petani. Sebenarnya grader tidak sulit untuk menghitung sendiri, tetapi ini semacam cek and balanching antara pengepul dan grader. Rupanya terdapat kecocokan dan pak Haji segera menyerahkan buntalan uang dalam tas kresek hitam. Jumlahnya Rp.465.325,000,.Setoran pengepul yang lain akan diperincikan minggu depan, tambah pak haji. ”Baiklah jawab pak Amat grader”. ”Cidot, ini kamu tiga lima” Cidot terkesiap, tidak pernah dalam sejarah hidupnya melihat uang sebanyak itu. Pak haji mendapat bagian Rp.50,juta. Sisanya akan disetor ke bos, kata Amat. Malam ini penuh kebahagiaan.Semua yang hadir mendapat bagiannya, grader dan  pengepul mendapat bagiannya, dan wanita-wanita genit yang menyuguhkan paha, gumpalan bukit didada, minuman beralkohol, bau asap rokok, cekikikan diantara mereka, adalah pesta keberuntungan dari peluh keringat para petani yang miskin. Mereka lelap dalam pelukan wanita muda, keesokan harinya mereka pulang sambil membawa kenangan, bau alkohol, uang dan perempuan-perempuan yang secara fisik melebihi kemontokan isterinya, dan Cidot sekarang sepenuhnya dalam genggaman lingkaran hitam dalam pergumulan hidup petani tembako dengan perusahaan raksasa tempat mereka berteduh dan bersekutu untuk menipu para petani. Hari pertama Cidot mereguk  dunia gemerlap, dia telah lupa masa kemarin, tiga, empat tahun yang lalu. Dan pak haji, yang mencampakkan topi putihnya pertanda ketinggian iman, hanyalah kamuplase agar mereka dihargai dimasyarakat kampungnya. Mereka pulang ke rumah masing masing, istri-isteri mereka sumringah mendapatkan uang banyak pagi ini, terserah suaminya tadi malam tidur dengan pulas bersama perempuan muda setelah dibayar dari keuntungan menipu petani tembako.

Tahun ini jumlah gudang pembeli tembako Lombok bertambah dua kali lipat, dibanding tahun lalu.”Tembako disini mutunya sangat baik” kata  Agus direktur PT Tunjung, perusahaan yang baru saja membuka gudang pembelian tembako. ”Saya dengar anda membeli tembako melalui pengepul, mengapa tidak langsung saja ke petani”? sergahku. ”Susah pak”, susah mengkordinirnya, lebih baik melalui pengepul, tidak terlalu ribut”. Mungkin ucapan pak Agus ada benarnya. Tapi mengapa harga gudang yang dibawa pengepul lebih tinggi dari harga yang diterima petani? Mengapa ada rapat di rumah makan? Mengapa berkumpul di diskotik?

Sejarah pengibulan di tanah perkebunan tembako memang usianya sudah ratusan tahun. Sejak kompeni belanda yang bernama VOC sudah terjadi penipuan sistimatis. Petani tembako yang tak bisa baca tulis, tidak tahu arti coat, timbangan, atau dacin, hanya kenal maeh-maeh saja. Ini barang, mana bayarnya. Soal timbangan atau catatan pembayaran atau catatan berat tidak dibutuhkan,yang dibutuhkan adalah uang bayar tembakonya. Memang petani tidak paham. Petani tidak punya organisasi, sedang pembeli tembako punya organisasi. Memang ada organisasi yang seakan akan membela petani, ada asosiasi petani tembako. Semua orang ini, orang elit, bukan petani, mereka sering bersuara, tetapi setelah didekati, mereka diam, mungkin juga diberi bayaran. Petani tidak peduli semua itu.

Cidot mengalami perubahan besar dalam ekonomi rumah tangganya, Sejak menjadi grader tembako, rumahnya yang kecil, sekarang berubah lebih besar dan mewah. Kabarnya ia juga sudah  punya isteri muda di kampung sebelah. Inaq Mun tetap menjanda, tetap bekerja bersama dua anaknya sebagai petani tembako. Ia berusaha berhubungan baik dengan semua grader, bagaimanapun caranya. Memang ia tahu nama lingkaran hitam dalam bisnis tembako, tetapi tak berdaya mengubahnya. Dia hanya janda petani miskin,pemerintah yang diharapkan untuk membantu perbaikan harga, lepas tangan ”Bukan urusan kita, ini urusan petani dan perusahaan”. Enak sekali jadi pemerintah, sama enaknya jadi grader tembako.

Mataram, primo Oktober 0019

Menampilkan lebih banyak

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
%d blogger menyukai ini: