Kumpulan Cerpen
Trending

Tanjung Menangis

Seorang perempuan, enam puluhan tahun, mengenakan jaket, dikepalanya bertengger songkoq kere dari anyaman bambu, kulit wajahnya kehitaman akibat sering diterpa panas sinar mentari, sambil membawa berang panjang, ia berdiri ditepi jalan. Walau gayanya seperti orang gila, tetapi dia bukan orang gila, atau bukan seorang yang sedang menunggu musuh bebuyutannya yang hendak ditebas dengan berang panjangnya.

Aku memberanikan diri berhenti di depannya dan menanyakan, ”Bu mau kemana”? ”aku menunggu mobil, aku mau ke Tanjung Menangis”, dalam dialeg bahasa Bali. ”Kebetulan sekali, ibu mau ikut naik mobil ku”? ”Terima kasih”. Ibu enam puluhan tahun itu dengan sukacita ikut bersamaku. Tentu saja beliau melihat keramah-tamahan dan senyum ku, barulah mau ikut numpang denganku. Biasanya orang seperti ini sangat awas dengan setiap orang apalagi terhadap orang yang tak dikenalnya seperti ku. Ke Tanjung Menangis yang jauhnya 16 km dari rumahnya, setiap hari, bekerja di ladang, seorang perempuan, enam puluhan tahun seperti tidak masuk akal. Tetapi ini benar-benar dilakukan oleh perempuan tangguh ini

“Mengapa ibu bekerja sendiri, mengapa tidak diupahkan saja pada buruh atau anak atau keluarga kek?” Berfikir sejenak, ibu enam puluhan tahun itu menjelaskan bahwa saat ini dia tak percaya buruh. Soalnya beberapa kali menggunakan buruh, tetapi hasil kerjanya 7 hari, sama dengan hasil kerja ibu enam puluhan tahun sehari saja ”Buruh nakal, jika kita lihat, dia bekerja, jika kita tak ada dia hanya duduk sambil merokok, rugi aku” Ungkapan ibu itu pasti benar, karena beliau telah enam puluh tahun hidup malang melintang ditanah kering berdebu, berpindah dari satu ladang ke ladang yang lain, dengan cara menyewa lahan milik penduduk setempat. Hanya di musim hujan lahan ladang itu dapat ditanami jagung, dimusim kemarau ia bekerja di kebunnya sendiri sambil memelihara empat ekor sapi miliknya. Ia bekerja sendiri sejak suaminya Wayan Alit, meninggal dunia 15 tahun yang lalu. Dua anaknya lelaki dan satu perempuan telah mandiri dengan keluarganya  dan membangun  rumah  berdekatan dengan  rumah sang ibu. Keluarga itu pekerja keras. Tampak pada wajahnya, pada pakaiannya dan ungkapannya tentang buruh malas dan nakal dan aku rugi, karena buruh bekerja kalau dilihat oleh pemilik lahan lalu duduk smbil merokok, begitu pemilik lahan tidak tampak.

Perempuan enam puluhan tahun itu, tidak pernah istirahat, karena bekerja adalah bagian dari istirahat yang dinikmati nya. Ia kurang sehat dan encok nya kambuh bila tidak bekerja sehari saja. Baginya bekerja adalah istirahat, berolahraga dan uang. Tak ada hari tanpa kerja. Kedua anak lelakinya, meniru cara ibunya dan bersaing dalam bekerja, bersaing mengais dan mengumpulkan harta, dan mereka  layak menikmatinya sekarang. Walau usianya telah enam puluhan tahun, ia tak pernah mau berhenti bekerja. Kebun kelapa milik ibunya 2 Ha, empat ekor sapi dan masih menyewa ladang untuk menanam jagung, ditempat yang jauh, di Tanjung Menangis, Dua anak lelakinya juga telah memiliki kebun kelapa, sapi dan ladang yang disewa, sedang anak perempuannya Ni Made ikut suaminya tinggal di kampung lain. Di hari raya, keluarga itu bekumpul di rumah ibunya, karena disitu ada sanggah sidikara yang menjadi symbol keutuhan keluarga.

Perempuan enam puluhan tahun itu tidak menyimpan uang hasil pertaniannya di bank atau di bawah bantal, tetapi ia belikan sapi. Seekor sapi setiap tahun akan melahirkan seekor anak sapi, jika dijual dapat untung tiga atau empat juta rupiah. Sedangkan jika ditabung di bank, bunganya kecil sekali. ”Aku tidak mau menabung di bank, bunganya tidak sebanding dengan seekor anak sapi” cetus perempuan enam puluhan tahun itu. Tentu saja ungkapan itu memang ada benarnya, untuk ibu yang suka bekerja, mengambil rumput untuk memberi makan sapinya, menjaganya sepanjang malam dari ancaman pencurian ternak yang mulai marak di kawasan pulau ini pada akhir-akhir ini, adalah tambahan jasa dari uang yang diinvestasikan pada anak sapi. Banyak pencuri, banyak pengangguran, banyak orang tak bekerja karena malas, banyak lahan yang tak diolah pemiliknya. Tapi ada satu perempuan enam puluhan tahun dengan keluarganya yang hidup, berpikir dan bekerja, sepanjang hari, lalu mereka sehat dan bahagia. Sedang yang lainnya hidup gelisah, tak mau bekerja tapi sepanjang malam datang ke Batu Gong. Mereka mencari hiburan, hiburan itu penting bagi mereka yang bekerja keras, bukan bagi sipemalas dan pecundang.

*****************

Orang setempat seringkali menyebut Tanjung Menangis, dikaitkan dengan ceritra rakyat tentang kecantikan, kesetiaan, dan kemunafikan, tentang sang Demung dan anak putrinya. Tentang dukun sakti yang menjaga kehormatannya. Tentang sang putri yang mendayu cinta dan pengorbanan. Tanjung itu menjadi legenda yang sangat menarik. Tetapi, tempat itu sebenarnya tidak terlalu indah dilihat dari segala arah mata angin dan estetika alam. Tempat itu tetap menjadi ceritra tentang kesucian cinta.

Letaknya menjorok kearah matahari tenggelam, gundukan tanah sepanjang beberapa ratus meter. Tebing Selatan curam penuh bebatuan. Diujung Tanjung terdapat tebing dan gundukan batu besar. Di Utara Tanjung, terdapat pulau yang pernah dihinggapi Lady Diana, selat   itu terus menjorok ke teluk Saleh yang luas. Di areal laut bagian lebih Selatan, dibagian teluk yang membentuk garis silang, terdapat palung sedalam  124 meter, pinggir pantainya menyerupai jurang yang terjal dan dalam. Para penyelam kawakan menyebutnya sebagai Tanjung Menangis Wall. Jarang penyelam berani menyelami laut disekitar Tanjung Menangis, karena arus laut dan ombaknya yang tak dapat diramal. Dasar laut nya telah menjadi kuburan kapal-kapal dan mayat manusia sejak jaman dahulu, karena arus lautnya terus berputar. Tampaknya wilayah ini simbit kata orang orang penakut. Sedangkan para pemberani menyebutnya tantangan. Sepanjang pantainya curam, hanya dibagian sudut Tanjung ini, terdapat hamparan pasir yang elok, hanya saja lautnya dalam dan berbahaya. Walau demikian, ratusan orang mengerubuti wilayah ini, karena konon pemerintahnya akan membangun pariwisata mewah.  Harga tanah terus melonjak dan banyak orang mengakui Tanjung Menangis miliknya, akan dijual pada siapa saja yang cocok harganya. Banyak orang kena tipu, lalu saling melaporkan kepada aparat. Banyak aparat juga seketika memiliki tanah di kiri kanan Tanjung. Karena mereka dekat kekuasaan. Hutan lindung bisa berubah menjadi hutan tanaman pangan atau tanah pertanian, tergantung situasi dan jabatan. Harga tanah melonjak, beberapa orang mendadak kaya. Semakin banyak orang yang ingin kaya.

Di bagian lebih ke Utara, lebih dua ratus Ha, sudah dikuasai oleh seorang mantan menteri. Di tanah miliknya dibangun beberapa bungalow yang sewanya selangit menurut ukuran orang kebanyakan, Beberapa menteri dan bahkan presiden pernah bermalam di tempat ini, sama dengan putri Diana yang bermalam di pulau sebelahnya. Pokoknya kompleks Tanjung Menangis telah menjadi legenda sesuai perkembangan jaman, sesuai waktu manusia penghuninya, kapan mereka hidup dan berkembang.

Perempuan enam puluhan tahun, tak akan membeli lahan di wilayah ini. Tak mungkin, karena harganya yang dahulu beberapa ribuan rupiah, tiba-tiba disebutkan harganya miliaran rupiah. Perempuan itu tak peduli berapa harga tanah, dia hanya menyewa untuk satu kali tanam saja. Murah, karena mereka yang mengaku pemilik bukan pekerja atau petani. Orang kota yang bercelana panjang, orang atasan, orang pejabat dan orang yang suka nongkrong di club malam. Mereka silih berganti datang ke Tanjung ini sejak dua tahun lalu. Sedangkan perempuan enam puluhan tahun sudah lebih sepuluh tahun menyewa lahan pada siapa saja yang mengaku sebagai pemiliknya. Seandainya perempuan ini mengaku sebagai pemiliknya mungkin dialah yang benar benar akan menjadi pemiliknya. Karena dialah yang puluhan tahun mengolah tanah tersebut dengan membersihkan semak-semak dan pepohonan setinggi empat meter. Perempuan itu, seorang yang jujur. Dia hanya bekerja dan bekerja. Dia tidak berambisi memiliki sesuatu yang bukan haknya, apalagi mengkui dan memiliki tanah milik Negara.

Tanah ladang yang kering disewanya, lalu dibersihkannya dengan tangannya sendiri, memakai berang panjang buatan tanah samawa. Ditanamainya, dibersihkannya dari gulma, dijaganya dari serangan hama babi dan manusia pencuri, peluh keringat bercucuran, bau ketiak merebak, baju berdaki, tak dipedulikannya. Ia seorang perempuan. Perempuan luar biasa, perempuan tangguh. Ia terpaksa melakukannya, karena tak ada orang yang patut dipercayai, terpaksa, karena tak ada orang jujur, terpaksa karena tak ada orang yang mau berpeluh keringat, tapi mau hidup senang, bergadang  sepanjang malam di  Batu Gong. Konon Batu Gong juga akan pindah ke Tanjung Menangis. Tanjung ini menjadi awal perjalanan menuju Teluk Saleh, menuju pulau Lady Diana dan gunung setinggi hampir tiga ribu meter. Tempat ini telah merebut gelar Samota. Ratusan milliar rupiah telah digelontorkan demi kemewahan, jalan tranportasi untuk kemajuan orang berduit dan orang berpangkat, bukan untuk ibu enam puluhan tahun, yang hanya mengandalkan kejujuran dan kerja kerasnya. Juga bukan untuk orang miskin. Pokoknya Samota, harapan bagi orang yang terlanjur kaya, terlanjur air liur duniawinya meleleh disetiap tanah harapan yang pemerintah berikan biayanya. Disini di Tanjung Menangis, mereka mulai berdesakan memburu keberuntungan.

***********************

Di bagian ujung yang paling Barat, dibawah rerimbunan pohon besar, seorang pemuda tiga puluhan tahun, membangun pondok sederhana. Ia hidup seorang diri, menyepi. Jauh dari kehidupan masyarakat, bercanda dengan sunyi, bergurau dengan ciutan burung punglor, dan setiap pagi dibangunkan kokok ayam hutan Pemuda ini telah memilih jalan hidupnya sendiri. Ia berusaha menjaga kesucian jiwanya, menjauhkan diri dari kedurjanaan manusia. Ia menikmati kesepian yang sempurna, ia hidup bahagia seorang diri di tempat sunyi ini.

Menghadap ke Barat, setiap sore dilihatnya laut yang luas dan bila matahari akan memasuki peraduan, pemuda itu memohon pada Batara, agar ia tetap dilindungi dan alam tetap menjaganya, lalu ia tertidur dengan pulas. Pemuda itu telah menyatu dengan alam, jiwanya tulus dan rendah hati. Ia tak akan menyakiti mahluk sekecil apapun yang ada disekitarnya. Ia tak akan pernah merusak pepohonan yang sering mengganggu perjalanannya. Pemuda itu merasa sedang menumpang di alam yang menjaganya, yang memberikan rasa tenang dan memberikan makan apa yang tersedia di alam sekitarnya. Dialah pemuda, pemilik Tanjung Menangis, Karena dialah yang menemukan dan mendiami tempat itu untuk pertama kalinya. Batara di Gunung Tambora terus memperhatikan anak muda itu, dan atas kesucian jiwanya, Batara di Gunung memberikan kekuatan batiniah dan kesaktian padanya. Siapa yang berbuat baik, ia akan mendapat kebaikan, Kesaktian akan digunakan untuk kebajikan, maka sempurnalah kebaikan itu. Bukan sebaliknya mereka yang diberi gelar orang baik, tetapi dalam jiwanya ia sedang memasang topeng kedurjanaan. Sama-sama sebagai penipu, si pemberi dan penerima gelar kepangkatan, sedang melakonkan sandiwara picisan.

Seorang Demung, penguasa di wilayah dataran, pulau-pulau kecil dan gunung tinggi disekitarnya, dikatakan sebagai orang baik karena kuasanya. Ketika ia sedang berkuasa sebagai Demung, semua orang menghormatinya, memujinya, bahkan kalau sendainya ia menjadi penjahat, pembunuh, korupsi, memimpin perampokan, ia tetap dianggap orang baik, panutan yang harus diikuti, karena mereka orang lemah, mereka harus punya pemimpin. Rakyat tidak akan pernah berani menilai, apakah Ken Arok salah atau tidak. Dalam kenyataannya Ken Arok dapat menguasai keadaan, itulah yang mereka butuhkan, tidak peduli bagaimana caranya mendapatkan kekuasaan.

Demung bianglala sudah kehilangan akal, untuk menyembuhkan penyakit eksim yang menimpa putri semata wayang yang sangat disayanginya. Berbagai cara sudah ditempuh, berbagai obat sudah dipraktikkan bahkan dukun dari manca negara juga turut serta untuk membantu  menyembuhkan penyakit sang putri yang malang itu. Pembantu sang Demung baru teringat pemuda pertapa yang mengasingkan diri di Tanjung, tempat yang tersembunyi diantara hutan belukar lebat yang sulit dijangkau manusia biasa. Demung berjanji pada pemuda asing, jika ia berhasil menyembuhkan putrinya, maka si pemudalah yang akan menjadi suaminya. Ucapan janji dari sang Demung, tidak mengotorkan hatinya untuk menolong. Tak ada dalam pikiran untuk menerima imbalan apapun jika sang putri dapat disembuhkan. Dan ketika putri itu benar-benar telah sembuh dari penyakit eksim akut yang dideritanya, Demung mengelak. Kesembuhan putri bukan karena si pemuda, melainkan berkat air dari Sumir Ai’ Awak. Pemuda itu pergi dengan senyum dan puas, karena sudah berhasil menolong seorang anak manusia yang menderita dalam hidupnya.

Sore itu, angin soyang bertiup kencang dari arah pantai laut sunyi. Dedaunan di belukar itu mulai menguning, sebagian telah meranggas memenuhi dasar kanopi alam hutan tanah samawa. Tanah yang licin disiram hujan, kini berubah menjadi debu yang beterbangan menutupi dedaunan dan tebing-tebing curam. Musim panas akan tiba dan para petani akan berpuasa. Putri sang Demung memendam diri dalam kamar, batinnya teriris sembilu ucapan sang ayah yang sangat mencintai dirinya, tapi sang putri lebih mencintai kebenaran. Inilah cinta yang dalam, cinta yang hakiki. Sang putri menyerahkan nasibnya pada Batara yang telah mengirimkannya seorang pemuda yang menyelamatkannya dari rasa malu. Musim panas tahun ini, lebih panas dari tahun yang lalu, lebih panas karena hati yang panas.

 Sang putri tidak dapat menerima kedurjanaan dan dusta dari ayahnya. Ia mendengar janji ayahnya. Ia merasakan ketulusan hati sang pemuda dan kini ia sudah sembuh dari penyakit yang memalukan itu. Putri itu berlari dari ketidak adilan. Ia pergi kearah Tanjung walau sulit dan berbahaya, tak ada arti hidup jika jalannya tak benar. Perempuan muda yang mulia ini meninggalkan rumah, untuk menegakkan keadilan, menyerahkan jiwa raganya pada sang petapa, tabib dan kekasihnya. Pemuda itu tidak ada di pondoknya yang sangat sederhana, dan sang putri menangis  sesenggukan berhari-hari, tanpa makan dan minum. Tangisannya terdengar sampai puncak Gunung Tambora yang dijaga Batara. Sedang sang pemuda suci itu telah diterbangkan oleh Batara dan diletakkan di pulau Satonda, agar tetap dekat dengan Batara yang menjaga gunung Tambora. Roh putri kebaikan itu telah menyatu dengan roh sang pemuda dialam moksa. Tanjung menangis, menangislah mengenang masa lalumu.

**********

Dan sekarang tak ada lagi hutan belukar. Semuanya telah gundul disapu bersih tangan manusia. Tak ada lagi tempat yang simbit dan menyeramkan, semua tidak ada. Yang ada adalah perut yang banyak ini harus diberi makan. Jalan raya Samota telah membelah Tanjung Menangis menjadi bagian lahan yang diperebutkan pemilik uang dan jabatan. Ada yang merencanakan membuat villa, ada juga merencanakan membuat hotel. Paling banyak yang berniat memindahkan Batu Gong agar lebih dekat dari kota. Soalnya ibu kota kabupaten hanya 10 km saja dari Tanjung Menangis. Ini jarak komersial yang menjanjikan. Wajar saja kalau mereka berlomba berebut lahan di wilayah ini, walaupun dengan cara yang tidak lazim dan tidak dibenarkan hukum. “Hukum adalah uang sekarang” kata salah seorang calon pembeli yang mulai kasak kusuk mencari peluang. Bisa jadi anak cucu dari Demung durjana itu juga mengaku sebagai ahli waris atas tanah-tanah di Tanjung Menagis, lalu menjualnya beberapa ratus rupiah. Lalu setelah jalan mulus dan harga tanah mulai naik, mereka mengingkarinya dan menolak sudah menjualnya. Inilah jati diri. Tidak mau bekerja, tetapi maunya hidup berkecukupan. Ini menentang hukum alam. Alam akan menghukum mereka.

Dan ibu tua yang usianya kini enam puluh tahunan, tidak peduli dengan hiruk pikuk pertikaian orang berebutan lahan di daerah Tanjung Menangis. Baginya bekerja keras menjaga kejujuran itu saja yang harus dipertahankannya bersama keluarga besarnya. Perempuan tua itu Ni Made Ulet, dibawa ayah dan ibunya dari Kelungkung 60 tahun lalu ketika usianya 3 bulan. Ayahnya Putu Oka dan ibunya Made Darsi eksodus bersama ratusan keluarga yang tanahnya musnah  disapu lahar gunung Agung yang meletus tahun 1960-an. Keluarga itu telah bekerja keras, membanting tulang mengolah tanah tandus yang diberikan pemerintah saat itu. Tuhan telah menjanjikan siapa saja yang bekerja keras akan mendapat hasilnya lebih banyak, tidak perduli apa agamanya. Demikian pula barang siapa yang pemalas, akan lacur dan menderita tak peduli apapun agamanya. Walaupun Ni Made Ulet beagama Hindu, ia tetap mempertahankan kejujuran dan kebaikannya, bekerja keras dan hidup hemat. Kini beliau sudah memiliki 3 Ha kebun kelapa, 5 ekor sapi dan sejumlah uang yang disimpan   untuk biaya mengolah ladang yang akan disewanya di Tanjung Menagis, tahun depan.

Dan seorang petani. peladang, disuatu pagi yang muram seakan mendapat getaran dari arwah sang putri yang bertahta di gunung Tambora, melukiskannya dengan ungkapan yang maknanya sangat dalam dan menyentuh, seakan raga sang putri sedang menangis dihadapannya. Jam enam pagi ini, angin bertiup kencang, dan bulan tua enggan menampakkan diri. Dalam remang remang pagi ini, kulihat Tanjung Menangis, membujur kaku, bagai gundukan tanah kuburan sang Putri. Oh Putri keadilan…………….Aku disini, bersamamu tegak dalam keadilan dan kebenaran”

Sumbawa Besar, 2 Juli 2019

Menampilkan lebih banyak

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Close
Close