Kumpulan Cerpen
Trending

Papuk Surai

Pagi ini, pagi sekali. Matahari belum memancarkan sinar nya. Beberapa orang berkerumun di dekat rumah reot yang terbuat dari onggokan kayu dan bambu. Sangat buruk dan tidak teratur. Rumah itu benar benar tidak seperti rumah. Kumuh dan reot. Tetapi bukan soal rumah jelek yang selalu merusak pemandangan rumah orang di sebelah nya.

Kerumunan orang itu sedang melihat dan menggunjingkan tumpukan tanah yang baru saja diangkat dari bawah pagar rumah reot itu ”Ada maling tadi malam” Ada maling tadi malam” seorang berbisik: ”Pasti ada maling tadi malam”, kata seorang lainnya. Ini memang cara maling kelas kampungan untuk masuk ke rumah sasarannya, dengan menggangsir tanah dibawah pagar, lalu dengan hati-hati memasukkan kepalanya dengan cara mendongak, lalu mengambil barang milik penghuni rumah, lalu membawanya pulang, lalu menjualnya, lalu ia dipanggil maling. Maling jaman sekarang, ogah gunakan cara kolot seperti. kejadian pagi ini. Maling sekarang punya handphone untuk berkomunikasi sesama maling nya, berkomunikasi dengan calon penadahnya, berkomunikasi tentang harganya. Cepat….! Barang yang lebih besar disediakan mobil pengangkut, sudah dijaga oleh beberapa aparat keamanan yang menjadi sekutu para maling. Tapi itu tidak penting, yang menjadi masalah, mengapa maling menyatroni rumah reot yang tak masuk akal itu? Ataukah si maling kurang penglihatan? Lalu menggangsir rumah reot yang lebih buruk dari kandang ayam pak kadus?

Seorang dari kerumunan pagi itu, sambil menutup sebagian mulutnya lalu berbisik pelan pelan. “Soalnya seminggu yang lalu anak pemilik rumah reot itu baru pulang dari kota, mungkin maling tirok mengira, pasti si anak yang telah beberapa tahun hilang akan membawa uang banyak Walau rumah itu jelek, ada uang yang baru saja dibawa dari kota. Ini kamuplase saja, banyak uang, rumah jelek, orang tak menyangka, karena itulah maling harus mencurinya, namanya saja maling” Kerumunan orang itu mengangguk, seakan membenarkan argumentasi anggauta kerumunan.

Walaupun matahari mulai menyorotkan matanya kearah kerumunan dan semakin banyak anggautanya mulai berdatangan, aneh sekali si empunya rumah, Papuq Surai dan anaknya tidak tampak keluar. Mungkin mereka masih tertidur, atau bahkan mungkin kedua manusia penghuni rumah reot itu sudah tewas ditikam maling, tak ada yang tahu, tak ada yang mau tahu dan tak ada yang ingin mencari tahu. Gundukan tanah yang menumpuk disamping rumah reot itu lebih penting untuk digunjingkan dan ditonton, ketimbang mencari tahu tentang nasib penghuni rumah reot yang lebih buruk dari kandang ayam pak kadus itu.

Akhir-akhir ini, sebagian besar penduduk kampung sibuk dengan urusannya sendiri. Walau setiap hari mereka lalu lalang di lorong dekat rumah Papuq Surai, walaupun ia melihat Papuq Surai duduk merenung di dekat lorong di belakang sekolah di dekat gubuknya, tak terdengar tegur sapa. Tak ada yang peduli. Papuq Surai adalah Papuq Surai. Perempuan tua, rambut memutih acak-acakan, pakaian compang camping dan rumahnya reot bak kandang bebek, lebih buruk dari kandang ayam pak kadus. Sering ia duduk sendirian dibawah pohon belimbing kurus disamping pondok reot miliknya. Rupanya pohon belimbing dan dua rumpun pisang yang ada disamping pondoknya itulah kekayaannya yang diperoleh dari hasil kerja kerasnya bersama almarhum suaminya beberapa puluh tahun yang lalu.

Papuq Surai sejatinya tidak tinggal sebatang kara. Ia ditakdirkan hidup dalam kesusahan. Dari ketiga anaknya, dua orang terlahir tidak sempurna sedang seorang lagi, lama bahkan puluhan tahun telah meninggalkannya pergi ke kota entah untuk apa. Orang desa hanya tahu anak Papuq Surai tinggal di kota, bekerja di kota, dan dari kata kota itu Papuq Surai mendapat privilage kecil dan semu, siapa tahu di suatu saat anak itu akan kembali membawa uang banyak untuk ibunya yang sudah tua renta itu.

Nurani, nama anak lelaki satu satunya, yang diharapkan menjadi pelindung hidup bagi ibunya, lahir kurang normal. Walaupun badannya besar, tapi suaranya kurang jelas, bukan tuna rungu, tuna daksa atau tuna netra. Jalannya sering sempoyongan. Dia terlahir tidak sempurna saja. Badannya yang besar dimanfaatkan oleh beberapa orang kaya tingkat Dusun Daya itu. Tenaganya kuat untuk mencangkul di ladang dan di kebun. Seringkali ia disuruh memikul beban yang orang lain tak mampu memikulnya. Nurani, pemuda 45 tahun yang kurang sehat itu telah diperas tenaganya oleh orang sekampung nya. Dia tak perlu uang, dia tak tahu arti uang. Cukup diberi makan, pakaian bekas dan numpang tidur dimana saja. Dia yang diharapkan oleh orang tuanya, tak mengerti arti kata diharapkan, ia manusia kurang normal. Jarang dia pulang menengok ibunya, soalnya dia tidak tahu, mengapa dia harus menengok ibunya. Jika dia pulang, berdiri sejenak dibawah pohon belimbing milik ibunya, lalu menghilang entah kemana.

Satu lagi, anak dari Papuq Surai, perempuan 40 tahun. Ia dilahirkan tidak seratus persen sempurna. Suaranya sengau hampir sama dengan kakak lelakinya terdengar kurang jelas. Perempuan ini juga kedok, tidak lancar mendengar. Dari kelima jari kaki kanannya, posisinya tidak normal. Ketiga jari kakinya dempet dan menjurai ke atas. Jelas dia tidak bisa menggunakan sandal dalam ukuran apapun, juga tidak bisa menggunakan terompah dari kayu yang biasa digunakan penduduk dusun Daya itu. Perempuan ini tinggal dirumah sebuah keluarga yang baik hati di Dusun itu, Sudah lama dia tinggal sebagai pembantu. Dialah yang sering membawakan Papuq Surai ibunya sisa makanan dari rumah majikannya. Pembantu tidak digaji di dusun Daya ini. Makan dan minum itulah gajinya. Tinggal menginap di amben rumah, itulah bonus nya. Tak mungkin akan dapat memperbaiki rumah reotnya, apalagi menabung untuk masa depannya. Tapi untung bagi perempuan tak normal itu, Siasa, masih ada orang yang baik hati menampungnya. Tolong menolong sebutannya.

Dusun Daya, sejak beberapa tahun terakhir mulai banyak orang menjadi bertambah kaya Mereka mulai memamerkan kekayaannya. Mulai ada yang punya mobil. Banyak ceramah agama, banyak gelar berserakan disetiap sudut dan lorong, banyak ustaz, guru ngaji, ahli membaca kitab, sering mendatangkan tukang ceramah di mesjid milik dusun, banyak anak dikirim ke pondok pesantren, banyak pengajian di layar televisi milik penduduknya. Pendek kata dusun ini seperti dusunnya orang orang shaleh Papuq Surai, Nurani dan Siasa sekeluarga memang benar tinggal sejak lahir di Dusun ini. Bahkan keluarga ini termasuk bagian dari sejarah Dusun Daya, karena usinya kini telah mencapai 85 tahun. Usia renta dibalut kemiskinan di Dusun yang ia bangun bersama teman mereka yang telah pergi ke alam baka terlebih dahulu. Tak ada belas kasihan, tak ada ustaz, tak ada pemuka agama yang menaruh minat pada nasib yang miskin. Tapi mereka tetap menyuarakan kebaikan tanpa mengamalkannya. Mereka adalah elit Dusun ini dan Papuq Surai adalah bagian yang diabaikan, soalnya siapa sih Papuq Surai?

Hari Ahad pagi, hanya tiga minggu setelah peristiwa maling menggangsir pondok reot Papuq Surai, sambil tertatih ia keluar dari pondoknya. Sambil melambaikan tangannya yang lemah dan keriput, ia memanggil dengan suara lirih “mate, mate, mate” dan mati. Siapa yang dimaksud mate? Ia menunjuk kearah gubuk reotnya. Disana sesosok mayat terbujur kaku. Perempuan bungsu anak Papuq Surai telah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Mayat perempuan malang itu tergeletak di atas sebuah tikar pandan tua dan mulai robek dimakan usia. Soalnya alas pondok itu dari tanah yang lembab dan sebuah tikar pandan usang satu satunya alas tidur Papuq Surai dengan anaknya yang baru pulang dari kota empat minggu yang lalu. Tak ada pengumuman di mesjid, tak ada hiruk pikuk keluarga. Dua saudara almarhumah tidak paham arti kematian, mereka kurang normal. Memang marbot mesjid memukul beduk tiga kali pukulan, tanda ada kematian. Paling orang bertanya, siapa yang mati? Selesai.

Speker mesjid yang biasanya mengumumkan tentang kematian tidak dihidupkan, jelas Papuq Surai dan keluarganya tidak penting. Papuq Surai orang miskin, tidak punya kerabat pejabat, tidak punya harta benda. Orang agama menceritrakan semakin banyak orang datang bertakziah, semakin besar kemungkinan masuk surga, semakin banyak tahlil dibacakan semakin besar ganjaran pahalanya. Lalu siapa yang akan membacakan tahlil dan zikir, siapa yang akan berbondong bondong ke pondok reot Papuq Surai? Apakah sorga untuk orang yang banyak mengunjunginya? Bagaimana jika seorang pejabat korupsi banyak karib kerabatnya datang mengunjunginya? Tak ada jawaban, karena tidak sepantasnya membandingkan Papuq Surai dengan para pemuka, para pejabat dan orang kaya lainnya bahkan juga mereka yang tinggal di Dusun Daya.

Mate…. Mate! Dan sunyi meliputi suasana di rumah reot Papuq Surai. Didalamnya ada seonggok mayat perempuan. Tidak terdengar suara penduduk yang ramai membuat gorong batang, tak ada suara parang memotong bambu apalagi memotong batang pisang muda untuk jadi ares bagi tamu dan keluarga yang datang berbelasungkawa. Soalnya siapa sih Papuq Surai itu?

Sudah jam 11 siang di hari Ahad, tidak ada orang mengambil keputusan. Kapan mayat anak perempuan Papuq Surai akan dimandikan dan kapan akan dikuburkan. Jenazah Nara, nama almarhumah masih terbujur kaku diatas tikar lusuh didalam pondok reot itu. Tak ada yang mengambil inisiatif, walau di Dusun itu banyak ustaz, banyak orang yang paham agama, tetapi tentang kematian Nara, mereka menghindar. Tukang memandikan mayat yang biasanya diberikan imbalan, ragu-ragu, karena diketahui keluarga itu tidak mampu memberi beras pati sebagai imbalan. Tukang doa juga perlu diberi imbalan, soalnya mereka tidak dapat gaji dari pemerintah. Tapi bagaimana dengan mayat Nara yang malang? Jelas keluarga ini tak mampu membayar apapun. Tukang mandi mayat menghilang dari Dusun, alasannya pergi kepasar karena kebetulan hari Ahad. Kiayi kampung dan Kadus tidak terlihat di pekarangan bawah pohon belimbing milik Papuq Surai, kecuali lima penduduk yang rumahnya tak jauh dari pondok reot itu, mulai membuat gorong batang dari bambu sumbangan salah seorang dari mereka. Kelima orang itu juga tergolong orang miskin di Dusun itu.

Hingga jam 12.30 siang, tukang memandikan mayat tidak muncul, katanya belum kembali dari pasar, walau sudah diberi tahu tentang kematian itu. Diluar dugaan, seorang perempuan tua muncul ke rumah reot itu lalu memandikan mayat Nara yang mulai kaku, lalu mengapaninya dengan kain putih yang dibawanya dari rumahnya. Perempuan itu rambutnya putih,air mukanya putih dan bersih, dibibirnya ada bekas makan sirih, penampilannya tenang ”Sabar kamu Inaq Surai” ia tidak memanggilnya Papuq Surai, karena usianya hampir sebaya. Inaq Surai mengangguq perlahan seraya meneteskan air matanya, membasahi baju lusuh warna kuning tua yang dikenakannya hampir setiap hari.

Hanya sembilan orang dari penduduk dusun itu yang mengantarkan jenazah Nara ke kuburan dusun yang letaknya tak jauh dari jembatan Utara dusun. Seorang dari mereka bertindak sebagai tukang doa darurat, karena para alim. para ulama dan para ustaz di Dusun itu semuanya pergi dengan alasan hari pasaran di hari Ahad itu. Nara telah tiada, Nara telah dikuburkan oleh orang orang miskin di Dusun Daya.

*******************

Enam bulan sepeninggal putri bungsunya, akhirnya Papuq Surai juga dipanggil pulang oleh penciptanya. Nasibnya tak jauh berbeda, dengan kematian anaknya. Tak ada ustaz yang bergantian membacakan talqin, kata takziah atau sambutan keluarga, layaknya kematian orang penting diatas tanah kuburan. Penting itu dihadapan Tuhan, bukan di atas tanah kuburan, kata salah seorang ustaz dalam ceramahnya. Mayat Papuq Surai dimandikan oleh seorang perempuan tua berambut perak, air mukanya tenang dan bibirnya merah bekas makan sirih. Perempuan ini bukan tukang memandikan mayat tetapi karena tukang memandikan mayat, ogah memandikan mayat orang miskin, karena tak mampu membayar imbalan berupa uang, beras dan sejumlah pakaian almarhum. Perempuan tua berambut perak itu, juga menyumbangkan kain kapan untuk mayat Papuq Surai. Setelah selesai melaksanakan tugasnya, perempuan tua sosiawan itu memandang mayat dalam bungkusan kain putih lalu berguman ”Kasihan semetonku, dua anakbi kurang rasa, ndeqna araq bae dengan si nulung kamu, mudahan berkat kesabaranbi na bagus nasibbi leq akherat” Kata-kata itu terlahir dari seorang yang tulus, tak perlu pujian, tak perlu gelar, lalu dengan tenang beliau tinggalkan pondok reot itu sambil menunduk sedih dan haru.

Sejak meninggalnya Papuq Surai, kabar tentang kedua anaknya yang kurang sempurna itu tidak jelas. Gunjingan tentang kematian Nara si anak bungsu itu terus berkembang di masyarakat Dusun Daya. Benarkah kematian Nara karena penyakit raja singa? Ini jelas kabar burung. Tak ada penjelasan medis dari pihak manapun juga. benar Nara sudah pergi puluhan tahun ke kota, tahu apa yang dikerjakannya. Walau demikian setiap enam bulan, ia pulang membawakan ibunya uang sekadarnya. Tapi benar atau tidak, apakah kemanusiaan dan cinta kasih harus dikorbankan karena seseorang sedang menderita dalam kesulitan? Belakangan baru diketahui, tanah pekarangan Papuq Surai, telah berpindah tangan ke pemilik rumah besar disebelah pondok reot Papuq Surai. Rupanya orang ini telah sejak lama menginginkan Papuq Surai meninggal, agar tanah pekarangan itu pindah tangan menjadi miliknya. Jelas kedua anak almarhumah tidak paham arti uang atau bahkan arti jual beli sekalipun. Kedua anak Papuq Surai itu, entah dimana, tak ada yang peduli. Papuq Surai akan menerima ganjaran atas ujian berat yang mendera dirinya, atas kesabaran dan penderitaannya. Malaikat telah menunggunya di pintu surga.

Malang, 9 Juni 2019

Menampilkan lebih banyak

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Close
Close