Kumpulan Cerpen
Trending

Birunya Lokoq Segara

Pemuda itu berkumis tipis, perawakannya sedikit kurus, berlapis kain sarung, sudah beberapa bulan tinggal di kampung orang Daye. Kampung itu kecil dan sepi. Penduduk ibu kampung dan yang tinggal di anak kampung, hanya sekitar ratusan jiwa saja. Anehnya beberapa kumpulan rumah, enam atau tujuh buah rumah, di tempat tersebut sudah memiliki namanya sendiri layaknya sebuah kampung besar. Namanya Dasan, tak kurang dari lima dasan, penduduk setiap dasan tak lebih dari dua puluh lima orang saja

Pemuda kurus itu tinggal di salah satu dasan dalam kompleks para dasan. Walaupun penduduknya terpencar dalam dasan kecil, secara genealogis mereka masih punya ikatan renten. Penduduknya rajin saling tegur sapa, tolong menolong, menjaga adat budaya. Walaupun secara fisik benar mereka miskin, batin mereka bahagia, karena adat dan budaya yang kuat. Mereka membanggakan adat, sebagai pengendali kehidupan masyarakatnya. Tua, muda, di malam terang bulan ramai menonton drama tradisioal sebagai media memperkuat keyakinan terhadap adat istiadatnya.

Tarian baris, hanya ada di kompleks pedusunan ini. Saya pastikan tarian baris tidak ada di dunia mana pun. Dusun ini unik dan misterius. Televisi, hanya ada di kantor camat, jaraknya enam kilo dari kampung. Televisi itu mewah dan kadangkala harus membayar karcis agar dapat menonton tayangan tv hitam putih. Maklum masyarakat tak mampu menjangkau harganya.

Kampung ini di musim kemarau, kering kerontang. Jalan tanah kecil penuh debu tebal, seakan kita berada di padang pasir tandus. Beberapa kilometer ke bongkot, ada hutan tutupan. Konon kerajaan tua, nenek moyang para datu bersemayam di Batu Rakit, wilayah hutan tutupan itu. Dari sinilah mengalir sebuah sungai terbesar di wilayah Daye.

Sungai pemuas dahaga, pemberi hidup bagi para petani, sejak Belanda dahulu sungai itu telah dibendung, dibagi untuk wilayah Lokoq Gondang di Utara dan sebagiannya untuk wilayah para datu di bagian yang lebih Selatan. Kampung tempat tinggal pemuda kurus itu, berada diantara dua saluran yang dibuat Belanda. Tak jauh dari ketujuh dusun mengalir sungai besar itu. Nenek moyang mereka memberi julukan Lokoq Segara. Konon di masa lalu, pernah air bah naik mengikuti sungai besar itu. menyerupai laut. yang membiru. Mungkin tsunami jaman purba. menurut tau lokaq itulah asal kata Lokoq Segara.

Kiri kanan lokoq, dari bongkot hingga ideq berjejer ratusan dusun, termasuk dusun tempat anak muda kurus berdiam diri sendirian. Lokoq ini pusat harapan yang memberi air bagi petani, tapi juga digunakan mandi cuci dan bab. Dusun tidak menyediakan kamar kecil bagi keluarga. Untuk apa? kan ada sungai. Murah dan gratis. Soal kesehatan? Tidak ada penyuluh, tidak ada puskesmas, hanya ada dukun dan belian. Sungai juga menyediakan makanan bagi penghuni sepanjang kiri kanan dari bongkot sampai ideq. Di sore hari, anak muda, laki perempuan mencari ikan kecil, udang dan kepiting.

Di sore hari lokoq dikerumuni anak kecil, laki dan perempuan, tua dan muda mandi di tepian lokoq. Gadis muda juga ikut mandi sambil membuka seluruh pakaiannya. Tubuh montok pasti menjadi pemandangan yang indah bagi para seniman. Sayang sekali para seniman dilarang melihat terlalu lama, karena ketua adat akan segera bertindak. Pelanggaran adat. Adat sangat kuat, sekuat genggaman orang marah. Wilayah ini sungguh mengerikan bagi orang kota yang baru datang, yang tak tahu adat istiadat. Gadis tak berbaju yang memperlihatkan payudaranya adalah hak kebebasan mereka sendiri, bukankah dusun ini rumahnya sendiri? Bukankah lokoq ini juga ditugaskan untuk menjaga gadis yang sedang mandi dalam air jernih bagai cermin? Jika ada yang coba meraba atau memelototi tubuh si gadis, adalah aib besar yang harus dihukum, mengkiniq, luput ling tangan. Tidak peduli mereka sedang berpacaran atau berteman.

Upacara penebusan dosa adat harus dibayar oleh si tangan jahil. Atau mata jelalatan. Harus dihukum. Karena itu biarkanlah gadis gadis membuka bajunya dengan bebas sambil menikmati jernihnya air lokoq Segara. Si pemuda kurus yang baru tinggal beberapa bulan di dusun kecil, di tepi Lokoq Segara, selalu membawa buku catatan dan menulis semua kejadian yang dilihatnya di dusun dan kampung lain di sekitar lokoq yang bersejarah itu.

Beberapa ratus meter disebelah Utara dasan, di bawah kaki bukit, rerimbunan pohon menyatu dengan aliran sungai kecil. Ditengah kumpulan pohon suci terdapat mata air yang menurut penduduk setempat sebagai air suci yang dihormati. Diatas bukit terdapat mata air yang dianggap sebagai mata air puncak kesucian. Setiap dua kali setahun, penduduk yang berada disekitar wilayah dusun, akan mengunjungi bukit murmas untuk menyucikan jiwanya dengan berterima kasih pada Sangiang Aji Lepangan dan Sangiyang Aji Dendaun dalam upacara muja taon. Pemuda kurus yang kini tinggal di dekat Lokoq Segara, mencatat dengan cermat semua ceritra rakyat yang dituturkan padanya.

Setiap hari Minggu, pasar kecamatan, yang letaknya sekitar enam kilometer dari tempat tinggal si pemuda kurus itu, ramai dikunjungi penduduk, sayangnya mereka hanya membeli, tidak ada barang yang dijual. Suatu hari, pada hari itu juga pemuda tukang catat itu ikut ke pasar berjalan kaki. Tujuannya untuk melihat interaksi sosial di antara penduduk, penjual dan pembeli. Paling tidak dia akan menulis pengalaman yang dilihatnya.

Di sudut paling utara, di barisan toko di depan pasar, seorang berwajah putih bersih, mengenakan kopiah haji, melemparkan senyum pada si pemuda kurus. Apakah dia sudah kenal atau kenal nama saja? Si pemuda juga menyelidiki pak haji, pemilik toko paling besar di komplek pasar itu. ”Assalamulaikum pak haji”, si pemuda memulai pertemuan pertamanya. “Alaikumssalam”, sambil tetap tersenyum “Pak haji sudah berapa lama membuka toko ini ?”

Sambil mengingat sejenak ”Sekitar 12 tahun“ pak haji melanjutkan sambil melayani para pembeli ditoko yang paling besar di pasar ini. Rupanya pak haji pemilik toko tertarik dengan tamu yang tak diundang yang mengganggu akfitas jual beli di toko Haji Gafur, itu nama toko besar itu. Mungkin selama ini pak haji tak pernah kedatangan tamu yang bicara macam macam, dengan mengajukan berbagai pertanyaan nyerempet kesana kemari. “Selain berdagang,apakah pak haji juga punya kegiatan?”.

Pak haji tertegun sejenak, lalu menjelaskan kalau selain berdagang, juga membantu masyarakat. Pak haji mendirikan sekolah agama, karena di desa ini agama belum berkembang. Kepercayaan agamanya masih minim, misalnya orang yang agamanya Islam masih menghormati Sanghiang Aji Dendaun, Sanghiang Aji lepangan. Karena itulah perlu didirikan sekolah agama. Sekalipun ia seorang pedagang, tapi sisi lain dari kehidupan pak haji tak lepas dengan kesadaran dirinya untuk terus memberi sumbangan atas dasar keyakinan agamanya.

“Sebenarnya, pak haji berasal dari mana?” Layaknya seorang wartawan, si pemuda tak puas dengan jawaban pak haji, ”Aku dari Jombang”, pak haji menjawab datar. Pemilik Toko Haji Gafur adalah pendatang dari Jombang. Pemuda yang sedang berdiri di depannya juga datang dari luar desa ini, yang sedang mencatat apa yang dilihat dan didengarnya. Mungkin karena keduanya orang luar, sehingga menjadi akrab walau pertemuannya baru kali ini, di hari pasaran yang ramai. Pertemuan itu membekas dalam pikiran pemuda pendatang yang sedang merantau di sebuah dusun di dekat Lokoq Segara.

Nama toko besar itu ternyata sudah dikenal luas di seantero dusun yang berada disisi kiri kanan Lokoq Segara dan kampung lainnya disemua desa yang ada di wilayah asing dan misterius itu. Pemuda itu gembira sekali mendapat teman baru, seorang pedagang, seorang haji, seorang pelopor dan sukarelawan. Atas dasar kesadarannya sendiri membangun sekolah, walaupun penduduknya masih enggan bersekolah. Sejak saat itu si pemuda rajin mencari teman baru berkeliling dari dusun ke dusun dan bertemu sejumlah orang yang menjadi tokoh dalam lingkungannya. Lambat laun pemuda itu dikenal luas di desa desa sekitar Lokoq Segara. Macam macam pandangan masyarakat tentang si pemuda, mungkin dia wartawan yang sedang mencari informasi, seorang intel yang sedang memata matai, Masalahnya mengapa ia sampai tinggal menyewa rumah di tempat ini, lalu berkeliaran setiap hari bertanya itu dan ini? Wajar saja orang lain bertanya tentang identitas si pemuda kurus yang ramah tamah dan serba ingin tahu dan suka bertanya semua masalah.

Satu hari, pemuda asing itu datang ke sebuah kampung agak kebagian ideq Lokoq. Kampung ini dihuni oleh sekelompok orang paling berpendidikan di wilayah Daye. Beberapa dari mereka tinggal di kota sebagai pegawai pemerintah dan sebagian menjadi tokoh kampung yang suaranya lebih sering menyeruak pada keheningan kampung lain di sepanjang Lokoq Segara. Pemuda itu cepat diterima di kampung ini. Dalam sekejap si pemuda telah menjadi sahabat dari tokoh kampung. Ada mesjid besar disini. Penghuni kampung tidak percaya pada Sangiang Aji Dendaun, Sangiang Aji Lepangan. Mereka tidak ikut campur dengan upacara muja taon atau kembalit, sangat kontras dengan kampung lain di sepanjang lokoq. Si pemuda terus bertanya lalu mengeluarkan buku catatannya. Entah sudah berapa lembar goresan tangannya tertera di buku catatan yang selalu ditentengnya, hanya dia saja yang tahu.

Sore ini, langit cerah. Matahari memantulkan sinarnya, menyirami hamparan sawah dan tegalan di sepanjang Lokoq Segara. Awan tipis menggantung di atas Danger Reduh, tempat suci yang tersembunyi di pesisir Tanah Song. Air Lokoq yang jernih mengalir, meliuk mengikuti celah bebatuan yang berbaris sepanjang alur yang sempit. dan sinar mentari sore ini membalut air jernih bagai minyak dalam kuali menyilaukan setiap mata memandang. Sinar mentari itu seperti sedang menyoroti tanda tanya alam, menyorotkan matanya kearah Timur, sampai ke puncak Gunung Murmas yang sakral.

Pemuda itu berdiri terpaku di atas bebatuan cadas ditepi Lokoq. Matanya lurus memandang kearah seberang, hanya tiga puluh meter dari tepian lokoq. Hamparan padi menguning. Angin laut sore itu berhembus lembut, ramah, menggoyang bulir padi dan dedaunan yang berbaris di hadapan si pemuda asing itu. Lalu ia menundukkan kepalanya , dan sorot matanya mengikuti aliran lambat air sungai yang jernih, menyaksikan beberapa udang dan belukus yang berlarian mencari lubang persembunyiannya. Pemuda itu tetap berdiri, mematung, dan ketika sore dan mentari bercengkarama dengan sunyi menyaksikan kesepian yang sedang melanda seorang pemuda pengelana, tukang catat, tukang bertanya, tukang mencari teman dan tukang sendirian, dipinggiran lokoq Segara,

Tak disengaja, dalam suasana sunyi, pemuda yang termangu dalam kesendirian mengarahkan pandangannya kearah bongkot. Sunyi itu mulai terganggu. Dari kejauhan tampak dua orang wanita desa mengenakan kain batik, baju warna oranye, sambil mengusung bakul kecil mungkin hasil pertanian, karena mereka semua adalah petani. Dua wanita itu menyeberang lokoq dengan diam, lalu berjalan kearah barat menyusuri tepian seberang lokoq. Jaraknya semakin dekat dengan tempat berdiri sang pemuda asing itu. Kesunyian itu tiba-tiba pecah, ketika pemuda itu dengan segala keramahannya, menegur dua wanita desa yang ada di seberang, berdiri sejenak, melayani sapaan ramah sahabat yang baru pertama kali dikenalnya di tepian Lokoq Segara ini.

“Dimana rumahmu?” Satu dari wanita itu, seorang gadis hitam manis yang menampakkan keaslian dan kedesaannya, tidak mengucapkan nama tempat tinggalnya namun mengangkat tangannya menunjukkan arah kampung yang terletak diatas sebuah bukit, beberapa ratus meter dari sungai tempat berdiri sang pemuda. Mungkin bagi gadis desa itu, keramah-tamahan adalah adat yang harus ditampilkan, agar ia tidak disebut gadis sombong. Siapaun yang menegurnya, dikenal atau tidak, ia harus ramah dan sopan santun. Itulah adat istiadat yang menjadi junjungan mereka. Sedangkan bagi si pemuda asing, mungkin saja dia ingin mengenal semua orang, agar lebih banyak catatan di halaman buku hariannya, Tapi bisa saja, karena ia ingin mendapat teman agar dapat keluar dari kesunyian jiwanya, karena bukankah usianya sudah dua puluh enam tahun? Apa yang dicarinya di tempat sunyi ini? Apakah sebuah pelarian dari gelora cinta yang tak tersalurkan? Apakah soal cinta, pemuda itu malu bersaing di tempat keramaian, seperti dikota atau bahkan di desa asalnya? Atau ini pertama kali dia bertemu dan berbicara langsung dengan seorang gadis? Aku kira hal ini menjadi mustahil bagi seorang tukang catat yang sudah bertemu ratusan orang dari semua lapisan masyarakat. entah dimana.

“Boleh aku datang kerumahmu?” Gadis hitam manis yang selalu dikawal saudarinya berpikir sejenak, lalu menganggukkan kepalanya. Lalu membelakangi pemuda asing itu, lalu melanjutkan perjalanannya menuju sebuah bukit tempat rumah tinggalnya. Lalu pemuda itu duduk termenung seorang diri. Lalu Lokoq Segara menjadi sunyi, lalu sinar matahari kian redup, senja telah temaram.

Malam ini, si pemuda tidur dengan lelap. Sang gadis desa juga bersiap ke tempat tidur di rumahnya, di sebuah bukit yang dikelilingi pohon kelapa dan rerimbunan bambu dan pohon mangga. Apakah ada perasaan diantara kedua insan lain jenis yang bertemu tadi sore?. Perempun desa itu berbaring sejenak sambil mengingat sepintas lelaki kurus yang menegurnya di tepi lokoq, setelah itu lelap, karena kelelahan dari kebun di seberang lokoq. Sementara si pemuda telah merencanakan akan datang ke rumah di bukit, entah untuk bertanya tentang apa, untuk mengisi buku catatannya? atau akan bertanya apa untuk mengisi kekosongan jiwanya? Entahlah. Kedua orang itulah yang tahu apa yang ada dalam sanubarinya

Tak diijinkan oleh adat seorang lelaki mengunjungi seorang gadis jika bukan anggauta keluarganya. Memang ada lembaga adat midang, tetapi mereka yang berlainan jenis tidak dapat duduk berdua tanpa disaksikan oleh anggauta keluarga si gadis. Midang biasanya dilakukan di malam hari, sambil si gadis menyelesaikan tugas tambahannya seperti menenun tikar pandan atau mempersiapkan keperluan ke ladang atau kebun keesokan harinya. Pekerjaan ringan seperti ini menjadi media bagi muda mudi di kampung yang terletak di bukit kecil tempat gadis hitam manis itu. Si pemuda mengunjungi kenalan barunya, gadis kebun itu.

Pemuda kurus itu tiba di rumah sang gadis lalu bertanya dimana si gadis, lalu dilihatnya sedang duduk di depan mesin jahit, lalu ia langsung menuju pintu rumah yang terbuka, menyaksikan seorang gadis desa sedang menjahit entah pakaian siapa. Pemuda asing yang baru berkenalan bebera jam lalu telah berada di hadapan pintu, lalu bertanya macam macam. Kelakuan si pemuda asing itu diintip beberapa pasang mata dari tetangga si gadis, mungkin keluarga, mungkin pacar atau mungkin petugas adat kampung. Pemuda kurus tak paham secara sempurna adat istadat kampung sang gadis. Pemuda kurus semakin gembira dengan bertambah banyak kenalan di daerah daye. Hari ini seorang gadis mungkin keesokan hari, entah siapa teman barunya,mungkin seorang kakek jompo. Hari ini tampaknya lebih menyenangkan, menyenangkan, menghentak sukmanya.

Seminggu kemudian suasana sangat berbeda Pemuda asing itu terperangkap dalam jaring adat yang dihormati. Tak dibenarkan seorang lelaki asing berdiri dipintu ketika seorang gadis berada sendirian di dalamnya. Beberapa orang duduk di berugaq menjelaskan kepada si pemuda asing itu tentang aturan adat dan hukumannya. Hukumannya denda beberapa ratus ribu rupiah. Si pemuda sambil mencatat menyanggupi akan membayar denda adat tersebut. Pemuda itu kagum akan ketaatan mereka terhadap adat yang mengatur ketertiban masyarakatnya. Pemuda itu tidak kenal semua orang yang duduk di berugaq, yang bertugas sebagai hakim dan jaksa.

Dalam benaknya ada keraguan tentang kemurnian keputusan adat itu karena diketahui ada dua pemuda yang sering datang kerumah si gadis hitam manis di bukit kecil itu. Belum tentu keputusan adat itu di intervensi oleh kedua pemuda, namun kemungkinannya masih ada. Pemuda kurus membayar denda sebagai bukti ia mampu ikut menguatkan adat. Kejadian ini menjadi halaman khusus dan penting di buku hariannya. Ini tidak sepenuhnya adat, ini ada pamrih. Kita tidak tahu jika kedua pemuda itu sering berdiri di muka pintu bahkan berjalan bersama sang gadis, gumamnya dalam hati. Entahlah. Bau kolusi dalam pelaksanaan adat itu tidak ditulis dalam catatan si pemuda asing itu.

Jaman berubah sangat cepat, bagai siang menjelang malam. Orang mengikuti perubahan, padahal seharusnya oranglah yang membuat perubahan itu. Perubahan itu datang dari setiap individu,tetapi bisa saja datang dari sebuah komunitas. Nilai adat sebagai pranata sosial yang berkembang ratusan atau bahkan mungkin ribuan tahun, apakah mungkin bisa hilang dalam sekejap? Jika demikian selama ratusan tahun mereka hidup penuh kepalsuan dan pura pura. Atau mereka berlindung di balik slogan adat atau agama, padahal dalam sanubari nya kosong, tanpa penghayatan yang dalam. Ataukah mereka tidak tahu menahu akan lari kemana ketika lingkungan tetangganya mengucilkan nya dari pergaulan masyarakatnya? Genggaman keras karena marah adatnya disepelekan, kini menjadi longgar, lepas dan bebas. Secepat itu?

Hanya Lokoq Segara yang tak lekang karena panasnya perubahan dan tak lapuk oleh deras nya hujan uang. Ia tetap menjaga peradaban, keadilan dan pengabdian. Ia tetap dijalurnya sejak jaman purba hingga abad millenium ini, airnya yang jernih tetap berakhir di lautan, walau dihalangi bebatuan cadas dan tangan serakah yang coba membelokkan jalurnya ke kantong pemilik uang. Ia akan tetap di jalurnya bagi ummat manusia, walau banyak dari mereka telah berbelok jalan. Pemerintahan Daye telah berubah. Kota kecamatan telah berubah. Bahkan Toko Haji Gafur tidak tanpak lagi disudut pasar. Tak ada lagi upacara muja taon. Tak ada Sangiang Aji Dendaun, Sanghiang Aji Lepangan, tak ada Murmas yang suci. Tak ada yang suci selain uang. Jalan setapak telah berubah.

Gadis desa tidak ada lagi. Hanya ada gadis berpakaian celana jean, handphone dan gincu di bibirnya. Pemuda dan gadis berkeliaran kemana pun mereka kehendaki. Tak ada gerutu dan sidang adat lagi. Mereka tidak mendengar lagi ceritra tentang pemuda yang disidangkan di atas berugaq gara-gara berdiri di muka pintu ketika sang gadis sedang duduk menjahit pakaian. Mereka menjadi kejam dan buas. Adat dicampakkan. Adat hanyalah ceritra masa lalu dan mimpi buruk.

Haji Abdul Gapur, seorang pedagang dari Jombang telah mengekalkan cita sucinya menolong masyarakat yang konon adatnya kuat, tetapi miskin pada nilai kebenaran dan kejujuran hingga cepat hancur seperti berubahnya siang menjadi malam. Ucapannya ketika jumpa pertama dengan pemuda itu, kini telah terbukti. Toko Haji Gapur boleh hilang, mungkin karena pemiliknya meninggal dunia, atau mungkin tak mampu bersaing dengan kapitalis yang menumpang pada perubahan itu. Di hulu Lokoq Segara, salah seorang putra Haji Abdul Gafur telah menancapkan dengan kuat, sebuah monument, menancapkan pasak bumi yang kokoh bagi nilai kebenaran hakiki yang akan bertahan bersama Lokoq Segara. Sebuah pondok pesantren, mengejar apa yang hilang, memungut yang berlarian dan menata kembali semua yang porak poranda, yang keji dan kejam.

Pemuda kurus yang berbulan bulan berkeliaran disekitar Lokoq Segara, terus mencatat setiap kejadian yang dilihat dan dialaminya. Ternyata ia adalah seorang asisten senior untuk sebuah penelitian dari sebuah Universitas bergengsi di negeri Kincir Angin, Dia terus menangisi perubahan kejam yang menghancurkan nilai yang disakralkan di masanya. Dan, gadis hitam manis itu, telah pergi meninggalkan bukit kecil itu bersamanya dan telah memberinya dua anak lelaki dan lima orang cucu yang menggemaskan.

Selong 7 Pebruari 2019

Menampilkan lebih banyak

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Close
Close