Kumpulan Cerpen
Trending

Timba Kedit

Dua orang remaja perempuan, terlihat sedang menyabit rumput di hamparan sawah di musim panas yang berkepanjangan tahun ini. Rerumputan ditanah sawah ini mulai meranggas Biasanya bulan ini sudah turun hujan. Biasanya lelaki petani menyabit rumput untuk ternaknya. Kali ini sangat berbeda sekali. Dua remaja perempuan, melakukan hal yang kurang lazim di kampung ini.

Apakah puluhan tahun setelah ku tinggalkan di kampung ini sudah terjadi perubahan? Apakah ini yang disebut persamaan gender? Apakah ayahnya atau saudara lelakinya sedang mengadu nasib di Malaysia? Benakku penuh tanda tanya melihat hal yang belum pernah ku lihat sebelumnya. Ku dekati dua remaja penyabit rumput itu dengan hati-hati, dengan suara rendah ku bertanya. “Kamu menyabit rumput untuk makanan apa”? ”Makanan sapi pak” jawab remaja yang lebih sulung. “Berapa ekor sapi milikmu”? ”Hanya seekor” jawabnya singkat.  Hanya seekor sapi.

Setiap hari dua orang remaja mencari rumput untuk diberikan kepada sapi semata wayang milik keluarganya. Berapa biaya dan tenaga yang dikeluarkannya untuk menunggu waktu yang tepat ketika seekor sapi dapat dijadikan barang dagangan, untuk mendapatkan keuntungan, untuk membiayai semua kebutuhan hidup bersama keluarganya. Hatiku sungguh tergugah ketika kedua remaja itu menjelaskan bahwa  walaupun mereka dari keluarga  miskin, tetapi mereka tetap dan masih bersekolah. “Aku kuliah di Universitas yang bapak pimpin” kata remaja yang sulung. Dan adiknya juga sedang bersekolah di SMU yang tak jauh dari kampungnya. Benakku bergumam, “inilah remaja Tangguh”.

Hidup ditengah jaman yang berbeda dengan masa lalu ku dan lingkungan masyarakat jaman kini dan masa ketika Aku remaja dimasa lalu. Ada kesamaan. Ada perbedaan. Aku senang dengan kedua remaja itu. Walau mereka bersekolah, sebagai mahasiswi di sebuah perguruan tinggi dia bekerja kasar untuk mempertahankan hidup keluarganya dan ayahnya yang mulai sakit-sakitan. Ibunya juga kadang membantunya menyabit rumput, bila kesehatannya mulai membaik, paling kurang sekali dalam seminggu. “Dimana rumahmu”? ku tanya lagi pada kedua remaja penyabit rumput itu. ”Di Karangsari” jawabnya singkat sambil terus menyabit rumput .

Karangsari. Nama kampung kecil yang letaknya di persimpangan jalan yang menghubungkan kampung kelahiranku menuju sebuah sungai yang memberi air bagi ratusan penduduk miskin yang mendiami sebuah padang kering dan tandus. Kampung ini dihuni 100 orang saja. Tapi ia punya nama Karangsari, mungkin penduduknya hidup dari mengumpulkan karang untuk dijual kepada pengepul karang. Entahlah…

Enam puluh tahun yang lalu, Karangsari berupa padang tandus. Hamparan seluas 22 kilometer persegi, membentang dari Selatan, sederet rumah sederhana, kampung kelahiranku dan di Utara ada sebuah pohon yang terus berwarna hijau walau di musim kemarau sekalipun. Karena kesaktian sebatang pohon itulah kampung dan bagian wilayah padang itu disebut Ijo Balit, Di sebelah Barat sudah berdiri berderet kumpulan rumah rumah sederhana mengitari bagian pinggir dari padang tandus itu. Kampung itu diberi nama GG, menjelaskan pada siapapun, memang padang tandus ini merupakan bagian dari tanah milik pemerintah sejak jaman Belanda. Dihubungkan dengan jalan setapak kearah Timur, laut Selat Alas seakan sebagai pemisah dua budaya dari suku yang berbeda, Sasak Samawa. Beberapa ratus meter sebelum menapakkan kaki di bibir pantai, terdapat sebuah oase, sebuah lekukan yang tanahnya tetap basah walau sekitarnya kering kerontang di musim kemarau.

Padang tandus itu dipecah lagi  menjadi dua bagian oleh sebuah jalan tanah yang menghubungkan ibu kota kabupaten dan kota distrik di wilayah utara. Jalan tanah inilah satu satunya yang memecahkan kesunyian dan keterasingan. Orang menyebut wilayah ini simbit. Tidak ada orang yang berani jalan sendirian, banyak perampok, ular dan babi. Diwaktu subuh terdengar suara roda besi pedati menggilas jalan tanah berdebu. Serombongan kusir pedati membawa barang hasil pertanian yang akan dikirim ke luar negeri melalui Labuan Haji yang berjarak sepuluh kilometer dari desa Korleko. Pedati barang berangkat dalam rombongan, takut dirampok dijalan sepi di padang luas itu. Walaupun banyak orang melintas di jalan tanah ditengah padang luas, tak ada yang peduli. Mereka hanya melintas, mengusap peluh keringat karena panas menyengat, karena itulah padang luas itu diberi nama ”lendang panas”. Satu nama istimewa karena panas terik, tak peduli pagi, siang atau sore. Panas menyengat.

Di beberapa bagian padang tandus itu terdapat terdapat tiga elesan, jalan orang pergi  berladang atau lalu lalang ke wilayah pantai untuk mencari rumput laut beboyot, bebiru, dan lelatok. Padang luas itu, disana sini ditumbuhi semak berduri belatung (kaktus), pohon imba (nimba), nanas jawa (sisal). Di pagi hari terdengar nyanyian memanggil burung gegompaq, bubut dan banyak jenis burung lain seperti kecial, koaq kaoq, klotok, kecepol, lukap, cecuit, dan di waktu malam burung kekeas, empok, dares, dan lainnya menyanyikan lagu kesedihan. Orang tua kampung memaknai suara burung malam, sebagai permohonan agar hujan turun dari langit. Pepohonan, semak dan nyanyian burung burung ini adalah bagian dari sebuh siklus kehidupan di padang luas dan tandus lendang panas. Bagian dari wilayah padang ini kadang dimanfaatkan untuk bertani jagung, sabrang, ubi kayu, ubi jalar dan antap (kacang kacangan). Hanya sekali saja penduduk memanfaatkan tanah padang itu di musim bao daya (hujan).

Hari-hari lain di padang itu debu yang beterbangan menutupi daun kering dan bulu mata manusia yang berkeliaran. Cuaca panas menyengat meraba tubuh manusia tanpa baju seraya ditonton barisan pohon imba, sementara burung-burung bersembunyi menghindari panas dan debu yang mulai menutupi udara di atas padang yang kering itu. Inilah kehidupan di padang tandus itu. Siang, malam berlalu dengan cepat, tanpa harapan, tanpa cita, berputar dengan cepat, lelah, lalu tidur lelap di waktu malam, sederhana, tanpa keluhan, tanpa rintihan atas kemiskinan dan kelemahan.

Umur ku baru sepuluh tahun, kubuat mainan sendiri. Mainan ku sesuaikan dengan elesan dari padang luas yang tak jauh dari rumah orang tua dan tetangga. Kereta kecil dari kayu dengan bambu sebagai tangkainya. Sering di waktu malam ku letakkan kayu kering yang ujungnya dibakar lalu diletakkan disela tangkai bambu, membayangkan lampu mobil, sambil mulutku menirukan suara mesin mobil, ter-ter, eng-eng. Namanya juga anak ingusan. Aku sering bermain sendiri. Aku sering main dengan kereta kayu yang ku buat sendiri, berjalan di elesan padang luas itu. Aku sering memanjat pohon imba sambil menyanyikan lagu yang baru saja diajarkan di sekolahku yang berpagar bambu dan beralas tanah. Aku menikmati sekolah, Aku menikmati mainan yang kubuat sendiri, aku menikmati luasnya padang di dekat kampung ku, aku menyayangi ibu bapa dan guru ku.

Suatu sore, beberapa orang dewasa tetanggaku berangkat ke pantai untuk memasang kodong (bubu) untuk menangkap udang gala (lobster) buat dikonsumsi anggauta keluarga. Aku ikut dengan paman tetangga yang rumahnya di seberang jalan tanah berdebu, Amaq Muin. Aku ikut saja. Tak ada yang menyuruh. Tak ada yang melarang. Berjalan kaki dalam rombongan orang dewasa, melalui jalan elesan (jalan setapak), sampai di sebuah tempat, semua anggauta rombongan beristirahat.

Di pinggir elesan, ada gundukan tanah tidak teratur. Sebuah lekukan sekitar tiga meter, ada air yang tidak mengalir. ”Apa nama tempat ini?”. Paman tetanggaku Amaq Muin menjelaskan sebuah oase di tengah padang panas menyengat. ”Timba Kedit. Timba Kedit tempat orang berobat” Semacam puskesmas sekarang. ”Berobat penyakit apa”, Tanyaku mengganggu anggauta rombongan yang sedang beristirahat. ”Segala macam penyakit” jawab paman tetanggaku Amaq Muin. Ceritra itu masih tercatat dalam lembaran ingatan masa kanak kanak ku.

Dalam tafsir umum kata “Timba Kedit” tentu berarti telaga atau mata air yang khusus digunakan oleh kedit (burung) yang menjadi penghuni padang luas di sekitar kampung ku. Atas kuasa Tuhan, kedit juga dikasihani Nya dari kehausan dan kepanasan. Manusia yang sedang menderita sakit juga ikut menumpang pada telaga burung misterius itu untuk mengobati segala ancaman penyakitnya. Burung saja ditolong oleh Tuhan, “mengapa penduduk kampung sekitar padang luas itu tidak diberikan air sungai kering yang membentang di beberapa ruas padang luas itu?”

Senja kala, rombongan kami pulang melalui jalan yang sama. Samar-samar kulihat Timba Kedit, muram, sunyi, sendirian menunggu padang luas di malam hari. Dalam benakku, “kapan para kedit turun minum? Pagi, sore,malam atau hari apa?” Aku tidak menentang ceritra paman Muin tentang timba kedit tentu saja bertambah besar keyakinan ku bila menyaksikan burung sedang turun minum. Tak ada orang yang tahu kapan timba itu mulai ada dan mengapa diletakkan oleh penciptanya di sebuah padang tandus ini. “Mungkinkah usianya sama dengan usia padang ini? Mungkinkah usianya sama tua dengan manusia Sasak pertama?” Kalau benar demikian, timba kedit sudah berusia seribu tiga ratus enam puluh tahun lamanya, atau sudah sejak 35 generasi manusia Sasak yang tinggal di lingkaran padang tandus itu. Bisa jadi usianya sudah jutaan tahun. Bisa jadi gunung rinjani itu  dahulu kala letaknya di padang luas yang meninggalkan sebuah telaga yang mengandung belerang itu.

Dalam setiap tahun beberapa kali ku menginjakkan kaki di elesan dekat timba kedit, mataku selalu memandang lekukan itu. Ingatanku selalu pada ceritra paman tetangga Amaq Muin, seorang berperawakan gemuk, tidak terlalu tinggi, rajin bekerja, selalu ramah denganku dan keluarga. Aku memanggilnya paman, aku senang dengan orang seperti paman Amaq Muin. Ku ikut ke pantai, tidak dimarahi, ku tanya, ia jawab. “Lalu apa alasan ku untuk tidak sayang padanya?” Paman Amaq Muin adalah potret kebanyakan manusia yang tinggal di sekitar tepian padang tandus itu.

Hari ini, enam puluh tahun kemudian, “dimana timba kedit itu? Masih adakah burung burung meminta pertolongan padanya? Masihkah ratusan orang dari berbagai tempat datang untuk mengobati segala penyakit yang di idapnya?” Manusia, nenek moyang manusia yang ada disekitar padang luas dan tandus sudah banyak berkumpul dikuburan desa, beristirahat dengan tenang. Seandainya jika mereka dipanjangkan umurnya melebihi seratus tahun, paman Amaq Muin pasti akan heran mengapa terjadi perubahan yang luar biasa. Timba kedit ternyata masih ada, walaupun fisiknya telah berubah, tidak ada gundukan tanah lagi. Air dalam kolam kecil yang dahulu tidak mengalir, kini berubah menjadi air jernih yang mengalir perlahan kearah Timur. Ajaib. “Siapa mengubah fisik Timba Kedit?, yang dahulu sebuah oase keruh dan kotor penuh kotoran burung dan hewan liar kini mengalir air dari tanah datar di balik rerimbunan pohon perdu dan pohon kelapa yang masih muda?”

Padang luas dan simbit itu kini sudah tidak ada lagi. Tidak ada pohon belatung, tidak ada nanas jawa, tidak ada elesan, namun sungguh aneh tidak terdengar lagi suara dan nyanyian burung gompaq, kekeas, kecial, koak kaok, kecepol, cerucuk yang menjadi penghuni dan penguasa awal dari padang luas itu. Padang luas itu kini telah berubah menjadi sepotong surga, rerumputan hijau ditumbuhi aneka tanaman. Tanah yang dahulu penuh debu, panas dan menakutkan, kini telah ikut  mengubah nasib seluruh warga kampung. Wajah wajah manusia yang dahulu kuyu, kurus dan miskin, kini terlihat segar, bercahaya dalam canda kebahagiaan. Jalan beraspal, mobil lalu lalang, rumah batu bergenting, semua menggantikan masa lalu yang suram di padang luas, lendang panas yang lalu.

Sangat aneh… Suara itu, suara nyanyian sedih dan canda ria? Kemana mereka pergi? Kemana para kedit yang menjadi pemilik tunggal dari timba itu? Tak ada yang tahu. Tak ada yang tahu, tak ada yang peduli, Semua orang kini mengurus dirinya sendiri. Nasib orang lain tak dipedulikan, apalagi nasib para burung yang tak berdaya itu. Manusia hanya menghadap kedepan dengan dirinya, tidak mau lagi menegok tetangganya.

Dahulu paman Amaq Muin dan teman dewasa yang lain membawaku kemana ku mau, tanpa meminta imbalan apapun. Mereka membagi makanan sesama anggauta rombongan, tanpa menghitung iuran yang telah mereka bayarkan, bahkan bambu yang digunakan membuat kodong tidak dibeli dari kebun tetangga, cukup dengan cara ngendeng saja. Manusia yang masih tinggal disekitar padang itu kini menikmati doa para burung dan pepohonan serta ketabahan dan keteguhan hati manusia padang Lendang Panas. Keluarga dan temannya dahulu, kini hidup di jaman yang sangat berbeda, sepeda motor, mobil, gincu pewarna bibir perempuan, bau parfum, celana jean, menggantikan peluh keringat nenek moyang mereka sebagai perintis, pembuka padang tandus itu dengan penuh kesabaran.

Kampung Karangsari, tempat dua remaja penyabit rumput itu dahulu tidak ada. Di kampung itu dahulu ada elesan yang menghubungkan kampung tempat kelahiranku, menuju kokoq Lengkoq dan dari tempat itu dapat diteruskan menuju pantai. Di musim madaq (air laut surut) ratusan penduduk miskin dari kampung sebelah barat beriringan mencari rumput laut untuk dijadikan makanan mewah pada saat itu. Karangsari tidak ada, kecuali jejak kaki petani, peternak, dan pencari rumput laut. Tempat ini telah menjadi noktah perubahan seluruh areal lendang panas.

Kampung itu sekarang hanyalah saksi dari perubahan yang telah terjadi. Tuhan telah mendengarkan doa para burung dan ketegaran manusia penghuni padang luas itu, namun tidak semua orang telah mendapat kebahagiaan yang sama. Ini hukum Tuhan, ini pikiran ku.

Dua gadis remaja yang ku temukan di sawah sedang menyabit rumput adalah bagian dari kelompok manusia yang tinggal dikampung kecil yang hadir dalam perputaran jaman itu. Keadaan alam telah berubah. Sungai kering ditepi kampung kami telah dialiri air berwarna coklat sepanjang musim. Tanah yang dahulu berdebu, kering dan tandus, atas kuasa Tuhan telah berubah menjadi kebun pertanian subur tempat kehidupan umat manusia penghuni Lendang Panas. Sungguh menakjubkan.

“Side leq embe taoq balende inaq”? ku bertanya pada seorang perempuan lima puluh tahunan.” Eleq Karangsari”. Perempuan lima puluhan tahun itu perawakannya tampak kurus, tapi suaranya tegar. Dia sedang menyabit rumput. Perempuan ini sedang menyabit rumput untuk seekor kuda. Dahulu kuda inaq bertugas menarik cidomo. Uang hasil menarik digunakan untuk biaya hidup, kuda diberi makan (ngobok). Kuda itu sekarang sendirian,. “Mengapa tidak menarik cidomo lagi?”

Cidomo yang terbuat dari kayu itu sudah tidak layak pakai. Badan cidomo sudah rusak parah, sementara kuda penariknya sudah berangkat tua dan lemah. Dulu hasilnya lumayan, tetapi sekarang tidak mungkin lagi. Terlalu banyak ojek, terlalu banyak orang bersepeda motor. Tidak ada lagi orang berjalan kaki, walau jarak yang ditempuhya tidak terlalu jauh. “Mengapa kuda itu tidak dijual saja?” ”Biarkan saja, ia hidup bersama kami”.  “Suaminya inaq kerja apa” ku melanjutkan pertanyaan seperti tingkah seorang wartawan. Inaq terdiam sejenak, lalu ”Amaq sudah tua dan sakit sakitan”. Itulah sebabnya aku dan anak-anak menyabit rumput untuk seekor sapi dan seekor kuda yang sudah  pensiun dari tugasnya karena umurnya berangkat tua, karena cidomonya rusak, karena banyak orang naik motor walau  jarak tidak jauh, karena banyak  orang berhutang sepeda motor, karena banyak orang merasa miskin kalau berjalan kaki, karena banyak orang tidak mau naik cidomo karena kolot, karena bukan jaman now, karena tidak mengikuti perkembangan jaman. Kata-kata ini ku ucapkan berulang kali melanjutkan ungkapan Inaq yang tersirat dalam batinku.

Inaq dan dua anak remajanya dan seorang suami dan ayah yang sudah mulai menua dan sakit sakitan, adalah bagian dari penduduk di lingkaran padang luas yang dahulu tandus, dan kini berubah menjadi potongan surga yang memperlihatkan kemewahan yang kontradiktif. ”Mengapa Amaq tidak dibawa ke puskesmas atau ke dokter”? ”Aku tidak tahu caranya, lagi pula kami orang miskin“. Dimasa lalu, ini yang dilakukan oleh ayah dan ibu dari ayah dua remaja itu, pastilah ia ke Timba Kedit. Tidak perlu mengeluarkan biaya apapun, kartu BPJS atau KTP. Tidak ada suster yang mencatat, tidak ada biaya administrasi. Tubuh pasien direndam dalam kolam keruh dan kotor dari oase yang dihajatkan untuk para kedit. Banyak orang yang telah ditolong oleh timba kedit, salah satunya juga kakeq dan nenek dua remaja penyabit  rumput itu.

Orang orang tua dahulu penuh keikhlasan, kedermawanan walau miskin. Tak ada orang mengingat apa yang telah diberikan pada orang lain, mereka hanya ingin memberi dan membantu. Mereka saling menolong, mereka meminta apa yang orang lain punya, mereka meminjam apa yang belum dimilikinya. Paman Amaq Muin dan teman temannya, membagi makanan untukku, tidak melarangku ikut dalam rombongan. Itulah cinta mereka yang penuh sederhana dan tulus. Para kedit, dedaunan dan angin malam yang melambaikan daun-daun imba, menyuarakan doa pada Tuhan agar mereka dan makhluk yang terdampar di padang luas dan tandus itu,diberikan pertolongan. Timba Kedit telah menolong banyak orang. Dua remaja penyabit rumput, tersenyum kecil ketika nama itu ku ucapkan, mungkin mereka teringat ceritra ayahnya yang didongengkan oleh kakeknya yang telah berobat di Timba Kedit lebih setengah abad lalu, kemudian sembuh dan panjang umur lalu, menurunkan sebuah keluarga serba kekurangan, keluarga tangguh, gigih dan ulet, tak kenal menyerah pada keadaan. Timba Kedit itu masih ada, menjadi saksi untuk semua perjalanan jaman, semua kebaikan dan keihlasan. Timba Kedit tetap ada dalam ingatanku dan dua gadis remaja dari Karangsari. Timba itu adalah tugu kemanusiaan.

Selong, 27 November 2018.

Moch. Ali BD

Menampilkan lebih banyak

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Close
Close