Opini dan Artikel
Trending

Pragmatisme=Daging=Anjing

Seorang teman saya dari desa P, di Kecamatan Moyo Utara di Sumbawa, menceritrakan tentang sikap dirinya dan teman temannya berkaitan dengan cara mengambil keputusan untuk memilih calon pemimpin. Dengan bahasa yang sedikit kasar teman saya mengandaikan seekor anjing,biasanya siapa yang memberikan daging, maka orang itu akan jadi tuannya si anjing. Teman saya menambahkan, jika sudah diberi daging, anjing akan dengan setia ikut kemanapun tuannya pergi.

Teman saya itu kebetulan tetangga sesama menjadi peladang dan ikut pulang naik mobil bersama menuju desa P tempatnya tinggal. Tentu saja saya tertegun sejenak mendengar ungkapan pulgar dari masyarakat kebanyakan tentang pikiran yang hidup di benak mereka. Tentu semua orang paham apa maksud ungkapan sederhana dari teman saya tersebut yang kebetulan juga sebagai anggauta BPD di desa nya. sejak beberapa tahun yang lalu. Peristiwa dialog saya dan teman sesama peladang terjadi sekitar tahun 2012 yang lalu.

Memang kita belum melakukan penelitian tentang sikap masyarakat tersebut terutama mengenai fase yang paling tepat untuk menentukan sejak kapan dimulainya perubahan cara pandang masyarakat untuk melakukan tindakan yang cukup penting dalam kehidupan sosial politiknya. Perilaku seperti yang diucapkan teman saya julukannya atau istilahnya memang belum dijumpai dalam beberapa kamus bahasa, namun ditempat tempat umum biasanya disebut pragmatisme. Menurut matematika dapat dirumuskan dengan sederhana yakni daging =pemimpin=daging=pragmatisme =pemimpin.

PEMILUKADA, KADES, PILEG, PILPRES.

Setiap lima tahun di Indonesia sebuah pesta kolosal dilaksanakan,katanya pesta demokrasi. Sejumlah orang menunggu dengan berbagai perasaan menyongsong datangnya pesta lima tahunan itu. Barisan orang partai yang mencoba mengais rizki menjadi anggauta legislative diberi julukan caleg, mulai memasang kuda-kuda untuk mendapatkan kedudukan dan uang yang terhormat. Kadangkala modal pas-pasan kadangkala tidak ada sama sekali. Seolah kelompok ini adalah manusia ideal yang menginginkan sebuah jabatan terhormat secara prodeo. Tetapi tidak sedikit dari mereka sudah punya rencana menggadaikan sejumput tanah dan atau rumah yang dimiliki, dengan harapan akan mendapatkan imbalan dengan kedudukannya kelak dengan mana ia dapat mengembalikan modal tersebut. Para caleg sibuk kesana kemari mencari simpati dengan harapan menang ! menang !.

Para pengurus partai, selain merencanakan meraup suara besar agar dapat menguasai parlemen (daerah dan pusat), juga pusing tujuh keliling mencari akal untuk mendapatkan dana. Namanya dana partai. Berbagai cara para pentolan partai berupaya mendapatkan duit. Beberapa diantaranya dengan cara mengharuskan para caleg memberikan kontribusi dengan sejumlah uang. Ada juga yang menjual nomor urut caleg. Para petinggi partai yang mendukung kepala daerah yang sedang berkuasa juga menagih kontribusi atas keduduan tersbut. Pokoknya semua harus TST (tahu sama tahu). Dana itu penting, sangat penting kata para dedengkot partai itu. Artinya dalam setiap pesta demokrasi aka ada uang yang mengalir dalam masyarakat. Memang baik juga dengan ramainya uang masuk ke desa akan membantu perekonomian. Lagi pula tidak ada larangan untuk itu.
Jika sejumlah caleg (belum tentu politisi), sibuk mempersiapkan diri dengan berbagai atribut dan kasak-kusuk kesana kemari, bagaimana dengan kalangan masyarakat?

Masyarakat itu banyak dan beragam latar belakangnya, demikian pula tingkat pendidikannya tidak semua sama. Karena itu agak sulit menguraikan tentang masyarakat, padahal masyarakat inilah kunci keberhasilan semua calon termasuk calon presiden. Pada dasarnya semua calon ikut menganalisa keadaan masyarakat dengan berbagai cara. Nah cara yang paling sederhana menurut kesimpulan politisi, bahwa masyarakat itu mudah, murah dan gampang. Masyarakat itu sederhana, cukup diberikan semacam jilbab, beras atau uang. Berapa? Tergantung, jawab si politisi. Ini politisi anggauta DPRD yang masih menjabat. Artinya yang bersangkutan sudah punya pengalaman pada pemilu sebelumnya.

Memang benar masyarakat adalah unsur Negara yang paling penting. Masyarakat adalah tujuan utama dari segala pembangunan. Masyarakat juga sebagai subyek utama dalam pembangunan. Masyarakat juga paling utama dalam menentukan para calon, baik sebagai kades, bupati, gubernur, anggauta legislative sampai menjad presiden negara ini. Tetapi benarkah masyarakat begitu hina kedudukannya? Benarkah masyarakat akan menentukan pilihannya karena selembar kain kasar bernama jilbab? Beras 5 Kg? Uang lima puluhan ribu? Atau janji akan melunasi seketika setelah usai pil-pil itu? Mungkin sekali ada benarnya, tetapi bukankah masyarakat itu beragam jenisnya? Sehingga tidak seluruh masyarakat sedemikian hina dina prilakunya, namun kenyataannya memang ada rombongan besar masyarakat yang sedang berada dipersimpangan jalan dalam lintasan sejarah yang diberi julukan revolusi mental dari presiden kita yang sedang berkuasa sekarang. Indah dan enak di dengar istilah revolusi mental itu, walaupun saya sendiri kurang setuju. Revolusi adalah tindakan cepat dan radikal untuk sebuah perubahan yang pundamental. Revolusi mental? Mengapa setelah empat tahun, mental bangsa ini semakin tidak menentu? Mungkin baik bagi presiden kita memilih istilah lain, selain revolusi mental itu.

Saya kembali ke rumah teman lama saya di desa P, Kecamatan Moyo hulu, Sumbawa. Yang bersangkutan berpendidikan menengah, pernah jadi kadus dan sekarang menjadi anggauta pengurus BPD desa P. Untuk ukuran penduduk desa, ia termasuk golongan menengah. Dia tidak layak dikategorikan orang awam di pedesaan. Beliaulah yang memberi perumpamaan dirinya dan masyarakat tetangganya seperti anjing kelaparan yang diberikan sepotong daging. Orang yang memberikan daging dianggap sebagai tuannya dan akan diikuti kemanapun perginya dan dilaksanakan apapun perintahnya. Apakah ungkapan tersebut merupakan sinisme dari situasi disekelilingnya, atau itulah gambaran fakta yang ditemukan ditengah masyarakatnya? Jika benar demikian maka kita semakin sulit untuk mencari akar masalahnya, sulit dan rumit karena menyangkut perubahan sosial yang paling fundamental yang sedang dialami bangsa kita ini. Kita semua sedang berada di ruang gelap dalam lintasan perubahan yang buram.

Masyarakat bukan tidak tahu bahwa si calon memiliki banyak masalah, banyak berita tentang prilaku dan perbuatannya yang tercela. Masyarakat bukan tidak tahu bahwa si calon adalah orang yang sering menggunakan jabatan dan kedudukannya hanya untuk kepentingan diri sendiri, keluarga dan kroninya. Masyarakat bukan tidak tahu bahwa sebagian bupati, walikota, gubernur, menteri dan anggauta dewan adalah mereka yang tidak memiliki visi apapun. Masyarakat tidak peduli dengan visi atau misi, masyarakat tidak peduli dengan uang dan benda yang diterimanya dari sang calon adalah hasil garong, hasil kongkalikong, hasil upeti proyek-proyek bahkan hasil menipu sekalipun. Masyarakat tidak mau tahu tentang semuanya itu, yang penting adalah benda nyata walau sedikit, daging walau sekerat, kain jilbab walau seiris kecil, uang walau sebenggol. Ini nyata, diterima dan dapat dipakai atau dimakan. Bagi mereka pemimpin, anggauta legislative biarkan dia terhormat sendiri, eksekutif biarkan dia kaya raya dan korupsi, itu bukan urusan saya katanya. Apa nama semua ini?

PRAGMATISME

Gejala pendangkalan nilai-nilai dalam masyarakat ini rasanya tidak ada istilah yang pas benar. Sebabnya adalah karena krisis moral dan komplek nilai adalah sebuah gejala dari dekadensi moral yang menjadi tonggak kehancuran dari sebuah komunitas peradaban ummat manusia. Oleh karena itu kebanyakan masyarakat menyebutnya sebagai pragmatisme, walaupun mereka tidak memahami apa hakekat pragmatisme itu sendiri.

Kata pragmatisme sebenarnya berasal dari bahasa Yunani pragma yang berati tindakan atau suatu perbuatan Pragmatisme. adalah aliran pilsafat yang berkembang pada akhir abad 19 dan permulaan abad 20. Ajaran itu berpendapat bahwa kebenaran suatu pernyataan atau suatu kaedah atau visi terletak pada kemampaatannya dalam kehidupan sehari hari. Jadi yang diutamakan adalah pengaruh dari sebuah ide atau gagasan sesorang. Apakah dalam praktiknya semua ungkapan yang disampaikan oleh sesorang telah terbukti, baru akan dijadikan sebagai pegangan, kira-kira seperti itulah arti kata pragmatisme. Orang-orang yang berfikir pragmatis dinamakan pragmatis. Ada kedekatan dengan kerangka berfikir logik. Karena itulah cara berfikir masyarakat tentang sekerat daging, selembar kain jilbab, lima kilogram beras, uang recehan terlalu tidak panas disebut sebagai pragmatis.
Apakah partai-partai yang mendukung petahana dalam pilpres, tergolong pragmatis? Sebenarnya secara ideologis kebanyakan partai pendukung petahana berbeda pandangannya diberbagai segi dalam pandangan politiknya masing-masing. Partai-partai pendukung petahana telah menikmati kue kedudukan sebagai menteri dalam kabinet. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk menyaingi atau tampil sendiri sebagai calon presiden karena keterbatasan dari segala segi. Partai-partai itu berfikir kemanfaatannya untuk kepentingan kelompoknya untuk saat ini juga. Partai juga membaca hasil survey, bukan bagaimana mematahkan hasil survey. Sulit menyimpulkan jika tindakan partai tersebut masuk dalam kategori pragmatis, mengingat bahwa partai-partai tersebut tidak memiliki keberanian untuk bersaing, tidak memiliki kemampuan untuk bekerja keras, tidak memiliki kemampuan taktis dan strategis untuk mematahkan lawan. Pendek kata mereka adalah dari kelompok lemah yang harus dikasihani, namun belum separah keadaan masyarakat kita menurut uraian diatas tadi.

MORALITAS BANGSA.

Jika sebagian besar masyarakat bangsa ini sudah kehilangan harga dirinya lalu memutuskan segala tindakannya berdasarkan pandangan sempit orang disekitarnya, lalu dikemudian hari akan merasuk ke sanubari bagian besar anggauta masyarakat ini, masyarakat bangsa ini sedang melaju dipersimpangan jalan tak bermoral, mereka sedang menuju ke jurang kehancuran, Julukan apa yang pantas bagi masyarakat tak bermoral, yang mengabaikan ketinggian ilmu, moral dan hikmah kebijaksanaan? Siapa merusaknya? Adakah para politisi, pejabat sekelas gubernur, walikota, bupati maupun presiden atau mereka yang menjadi operator dari para calon pejabat itu dapat diseret sebagai pelaku utamanya? Semua pertanyaan ini menjadi sulit untuk dijawab, tetapi inilah kesulitan besar yang sedang melanda bangsa ini, yakni proses penipisan nilai nilai moral. Moral adalah inti dari tujuan revolusi mental.

Saya juga menjadi sangat sulit untuk mengakhiri tulisan ini, seperti saya berputar didalam ruang hampa tanpa pintu dan jendela, walaupun ada oksigen didalamnya. Apakah istilah pragmatisme sebagai julukan bagi masyarakat kita yang merasa bebas dari dosa, tak malu dengan caci maki telah salah kaprah? Kita memang belum menemukan istilah baku untuk keadaan yang kita tulis ini, tetapi istilah sekerat daging dan seekor anjing hampir mendekati makna yang terkandung dari uraian prilaku masyarakat tersebut.

Sahabat saya, Amaq Kena (60 thn) seorang petani dan peternak kecil yang bermukim di serempakan kebun raya Lemor Lombok Timur dengan mantap menggunakan kata “melak” dalam bahasa Sasak kasar. Arti kata melak adalah rakus untuk menunjuk seseorang yang hanya mementingkan dirinya terlebih dahulu tanpa memperhatikan orang lain. Sebenarnya ada bahasa Sasak yang lebih kasar dari melak yakni kata “medol”.Atau dengan menggabungkan keduanya sebagai orang “melak medol”. Saya sudah menasihati sahabat saya agar tidak menggunakan kata melak, tetapi dia tetap berkeras dengan nada tinggi menolak istilah lain. Dia seorang sederhana, petani kecil, bukan orang berpendidikan tinggi dan bukan orang yang menjabat pengurus partai atau pengurus organisasi tertentu manapun. Dia hanya menjelaskan pada saya betapa panas hatinya melihat tetangganya yang menjatuhkan pilihannya pada calon yang memberinya umpan tak berharga itu.

Dalam ceritra rakyat Sasak ada yang disebut cupak dan gerantang. Ceritra rakyat ini sesungguhnya adalah sekolah informal bagi suku bangsa Sasak sejak ratusan tahun lalu. Janganlah kamu menjadi cupak, yakni orang melak, pemalas, pembohong, penipu dan munafik. Jadilah sebagai seorang gerantang, yakni yang bersifat halus, yang jujur, yang bekerja keras dan yang tidak meminta imbalan dari kebaikan yang sudah diberikan kepada orang lain. Di banyak desa Sasak hampir setiap hari kita mendengar kata cupak bagi siapa saja yang telah mendapatkan manfaat dari jasa orang lain tetapi tidak merasa harus berterima kasih. Orang orang desa macam inilah yang diberi gelar oleh Amaq Kena sebagai orang melak.

Memang kata melak masih lebih halus dibandingkan dengan kata anjing dalam tradisi Sasak. Akan tetapi jika dikaitkan dengan sekerat daging, nasi atau makanan lainnya, mungkin istilah anjing lebih tepat. Ada tugas utama pemerintah, tokoh agama dan kaum cendekiawan Indoensia, khususnya cendekiawan Sasak agar menyumbangkan perannya dalam bentuk perbuatan dan tindakan sesuai dengan hakekat dari pragmatisme tersebut. Aamin.

Selong, 29 Oktober 2018

Moh, Ali BD.

Menampilkan lebih banyak

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Close
Close