Opini dan Artikel
Trending

Ulama

Akhir-akhir ini sebutan ulama terdengar nyaring, merambah halaman koran, media sosial maupun televisi kita di tanah air. Istilah ijtimaq ulama mulai memasuki ranah politik nasional berkaitan dengan pencalonan presiden. Ulama sekali lagi mewarnai kancah perpolitikan kita, suatu hal yang tak pernah terjadi sebelum reformasi di Indonesia (1998) dan pemilihan gubernur DKI (2017) yang baru lalu.

Para ulama yang mengenakan busana khas kearab-araban sering tampil di media TV dan koran negeri ini. Saya juga heran mengapa media begitu sering menyiarkan para ulama dalam media massanya? Apakah media kita tidak punya berita yang lebih bernilai?. Apakah kita semua sedang berada dalam kelompok yang sedang demam ulama?. Akhirnya kata ulama mencapai puncaknya ketika kandidat presiden Jokowi memutuskan untuk menggandeng ulama (KH. Ma’ruf Amin) sebagai wakilnya. Tak mau kalah Hidayat Nur Wahid dari PKS, bilang bahwa Sandiaga Uno juga seorang ulama. Begitulah ulama diributkan dan diperebutkan, khususnya menjelang pilpres 2019 yang akan datang.

Sebenarnya kata ulama berasal dari bahasa Arab bentuk jamak dari kata alim, yang artinya seorang yang memiliki ilmu pengetahuan disegala bidang seperti ilmu matematika, ilmu social, humaniora, fisika, kedokteran, astronomi dan lain sebagainya adalah ulama. Di Indonesia kata ulama dipersonifikasikan dengan seorang yang memilki pengetahuan yang luas tentang agama Islam, sama halnya dengan seorang Biksu yang mengetahui secara mendalam tentang Tripitaka, atau Ida Pedanda di Bali yang menguasai kitab Weda, atau pendeta Kristen/Katolik yang menguasai secara mendalam Injil. Kata ulama sebagai orang alim dibidang agama namanya berubah sesuai tempatnya. Di Jawa disebut Kyai Haji, di Lombok disebut Tuan Guru, Di Sumbawa panggilannya Dea Guru.

Istilah Tuan Guru di Lombok juga dipergunakan di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat. Kadang kala nama Tuan Guru terdengar juga di Negara Bagian Kelantan Malaysia dan Thailand Selatan yang penduduknya mayoritas Islam. TGB singkatan dari Tuan Guru Bajang, dalam bahasa Sasak Lombok artinya tuan guru masih muda, dibawah usia 40 tahun. Walaupun usianya muda tetapi ilmu agamanya luas dan melakukan kegiatan pengajian dengan sejumlah murid, dengan mana dia dapat dipanggil tuan guru Panggilan untuk mantan Gubernur NTB Zainul Majdi, cukup dengan Tuan Guru saja, karena usianya sudah cukup tua. Tuan guru hanyalah panggilan spontanitas dari masyarakat tanpa persyaratan formal apapun Dalam bahasa Sasak kata Tuan, adalah sebutan dari seorang muslim yang sudah menunaikan ibadah haji. Karena melakukan kegiatan mengajar agama, maka dia dipanggil dengan julukan tuan guru saja, tanpa kiayi haji. Karena Kiayi haii di Jawa, Tuan Guru di Lombok atau Dea Guru di Sumbawa.

ULAMA DI PANGGUNG POLITIK.
Setiap ada kegiatan politik, seperti pilpres, pilkada, maupun pileg, panggung pertunjukan kampanye, rasanya hambar tanpa dihadiri para ulama atau Tuan Guru. Di Lombok, pada saat seperti ini para pihak yang berkepentingan bisa jadi menyebutkan sejumlah orang yang duduk di panggung dengan gelar Tuan Guru, walaupun belum tentu yang hadir benar-benar seorang Tuan Guru. Dalam hal ini panggilan Tuan Guru dieksploitasi untuk tujuan meraih suara dalam perhelatan politik itu. Sebenarnya cara ini tergolong kuno dan berlaku untuk kalangan awam saja. Justru yang mengherankan adalah praktik ini dipergunakan oleh calon/kandidat dari orang yang berpendidikan tinggi atau sejenisnya, bahkan sampai kandidat presiden sekalipun. Dalam hal ini tampaknya ada keuntungan diantara kedua pihak, si ulama dan penyelenggara hajatan politik.

Tidak jelas sejak kapan para ulama di Indonesia begitu bernafsu tampil di panggung politik. Namun dugaaan sementara menurut saya, dipicu oleh tampilnya Gus Dur sebagai presiden Indonesia yang ke-empat 2001 yang lalu. Jika hal itu sebagai pemicu tafsir baru peranan ulama di panggung politik, maka hal tersebut sangat keliru, karena kapasitas Gus Dur berbeda dengan ulama-ulama lainnya. Para ulama politik tidak pantas menyamakan dirinya dengan Gus Dur, karena Gus Dur selama lebih dari 25 tahun menjadi simbol pergerakan demokrasi di Indonesia. Beliau adalah aktifis hak asasi manusia di dunia, tanpa membedakan suku, agama dan ras. Pikiran pikiran Gus Dur tentang persamaan, hak asasi manusia dan humaniora, tentu memberi pandangan berbeda dengan para ulama sekarang yang datang dari dirinya nafsu kekuasaan. Karena sikap seperti itulah Gus Dur dimusuhi oleh rezim yang berkuasa pada waktu itu. Beliau pernah berceritra pada saya semua hal yang dialaminya dalam perjalanan hidupnya.

Pikiran pikiran Gus Dur selama memimpin NU, telah banyak mengubah prilaku komunitas NU di Indonesia, seperti ikut menjaga keamanan rumah ibadah yang terancam keributan. Pokoknya NU diantarkan oleh Gus Dur agar menjadi perekat bangsa ini. Belakangan terdengar suara suara yang menginginkan agar jamiah NU menjadi penyokong calon presiden tertentu. Dalam kancah politik, seyogianya pikiran Gus Dur tidak dieksploitasi secara terbalik demi mendapatkan keuntungan yang bersifat pribadi dan sesaat. Gusdurian berkewajiban menjaga nilai-nilai yang telah diteladani oleh beliau seperti menghargai perbedaan, hidup sederhana dan menjaga keutuhan Negara Indonesia tercinta dan tidak gila jabatan.

Politisi ulama yang melenggang kesana kemari menjajakan dirinya sebagai calon presiden, caleg ataupun kepala daerah tidak salah menurut tafsir yang mereka gunakan. Panggilan kemewahan, uang dan pelayanan dari Negara yang diperoleh para pejabat politik, ditafsirkannya sebgai bukan tujuan utama. Mereka berpendapat bahwa para ulama perlu terlibat dalam urusan politik Negara, agar nilai nilai dari Tuhan dapat dilaksanakan dengan baik. Di Lombok Gubernur NTB 10 tahun (TGB Zainul Majdi) juga memiliki tafsir kekuasaan yang sama dengan ulama Indonesia yang lain, yakni kekuasaan, kekuasaan. Bahkan berpendapat, selama ini ponpes tidak ada yang memperhatikan, karena itu ulama pantas jadi gubernur.

REAKSI BERBEDA
Hampir semua ulama di Indonesia dalam dakwahnya selalu mengambil contoh para halifah pengganti kepala negara setelah wafatnya Nabi Muhammad. Semua khalifah yang diangkat dalam musyawarah dimasa lalu menolak untuk diangkat menjadi khalifah. Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali tidak pernah bercita-cita menjadi halifah, kecuali dengan jalan terpaksa. Barulah setelah Muawiyah Bin Abu Sufyan, gerakan kekuasaan menjadi agenda pribadi, sebagai awal perpecahan Islam. Lalu mengapa para ulama sekarang sangat bernafsu dengan jabatan politik?. Apakah kemewahan dunia, uang dan pujian?. Apa akibatnya Negara yang dikuasai oleh ilmu yang berbeda? Jika demikian maka tausiah sejarah yang disampaikan ulama kontradiksi dengan nafsu duniawi para ulama.

Imam Al Gazali adalah contah yang baik untuk dijadikan referensi para ulama sekarang, karena beliau telah mengambil kesimpulan dimana setiap ulama harus berada di tempat yang sepadan. Istilah imam menunjukkan keilmuannya dibidang agama sudah sampai pada puncak dari ijtihad yang sempurna. Imam diikuti karena memiliki pandangan yang tidak memihak, sehingga melahirkan mazhab. Sedangkan ulama atau TG bisa jadi menjadi murid atau pengikut para imam. Imam Al Gazali sampai pada kesimpulan, tugas ulama adalah menjaga agama, berbeda dengan tugas pemerintah. Hal ini juga sebagai hasil renungan beliau setelah berada dalam pemerintahaan selama beberapa tahun,beliau menyimpulkan sangat jauh beda tugas ulama dengan pemerintahan. Dari hasil renungan tersebut memutuskan keluar dari pemerintahan dan tinggal di mesjid selama beberapa tahun. Dari situlah lahir Ihya Ulumuddin, menghidupkan kembali ilmu agama, yang telah lama dilalaikan oleh para ulama. Imam Algazali menganjurkan manusia untuk berkhalawi atau merenung setiap hari untuk mendapatkan petunjuk jalan kebenaran semata-mata karena Allah.

Memang para ulama fiqih memiliki tafsir yang berbeda, tetapi jika mengacu pada Al Quran, jelas Tuhan membedakan antara tugas ulama dan tugas pemerintah dalam arti kata yang luas yakni ulil amri. Para ulama seharusnya tidak didalam pemerintah, harus ada dinding yang memisahkannya,agar para ulama dapat meberikan nasihat kepada pemerintah. Diskusi ini memang telah berlangsung lama bukan saja dikalangan Islam tetapi juga dikalangan Kristen Katiolik.

Raja Henry II dari Inggris(1154-1189), merasa lelah dan sangat terganggu karena keterlibatan yang mendalam tokoh gereja dalam pemerintahannya. Konsep Negara theokratis yang berlangsung lama di sebagian Eropah, telah mendudukkan para pemimpin gereja sebagai tokoh penentu dalam pemerintahan, termasuk pengakuan gereja terhadap keabsahan pengangkatan seorang kepala Negara. Gereja juga memungut pajak, sehingga melahirkan dominasi para ulama (Gereja) bekerjasama dengan kaum bangsawan sebagai kelas baru dalam masyarakat.
Raja Henry II telah menghapus privilage berlebihan kaum bangsawan dan gereja. Raja Henry melihat praktik selama itu sebagai penindasan dan ketidak adilan yang disponsori oleh gereja atas nama Tuhan yang dapat memperjual belikan surga dan neraka. Pandangan Henry ini untuk menegakkan keadilan bagi semua masyarakat dari penindasan sewenang wenang kelompok yang berlindung atas nama agama dan kaum bangsawan. Walaupun gagasan ini mendapat sambutan luas dari masyarakat Inggris, namun gereja tidak tinggal diam. Pada 1215, kalangan gereja dan bangsawan/orang kaya melakukan maneuver politik dengan menyodorkan Magna Charta yang memberikan kembali sebagian hak hak kaum kaya dan kalangan gereja. Barulah pada pemerintahan Henry VIII (1509-1547) Inggris memutuskan hubungannya dengan Gereja Katholik di Roma, karena dianggap terlalu banyak mencampuri urusan pemerintahan.

Gerakan yang dilakukan Henry II dipandang sebagai awal lahirnya demokrasi di dunia. Walaupun Inggris mempertahankan sistem kerajaan, peranan parlemen tidak dapat dicampuri oleh raja, apalagi oleh gereja. Gerakan di Inggris telah mempengaruhi hampir semua negara di Eropah, termasuk memberi inspirasi lahirnya revolusi Prancis yang sangat terkenal itu..

Di Lombok, dan mungkin juga di tempat lain di Indonesia,praktik seperti sebelum Raja Henry di Inggris, juga berlaku. Kalangan rakyat jelata Sasak yang miskin tidak punya akses untuk mendapatkan tanah pertanian yang layak. Kaum kolonial memanfaatkan kesempatan itu dengan membiarkan ketidak adilan sebagai bentuk memecah belah orang Sasak agar dapat dikuasai secara sempurna. Memang tidak jelas dimana peranan para ulama (pemimpin agam Islam) pada waktu itu. Bisa jadi pemerintah kolonial juga memanfaatkan para ulama sebagai katalis dengan kelompok masyarakat yang sangat dibutuhkan untuk stabilitas, seperti yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia sekarang ini. Hal ini sangat berbeda dengan keterlibatan ulama dalam kancah politik praktis dewasa ini.

Di dalam masyarakat Lombok ada ungkapan sarkastis tentang para ulama sebagai sindiran tajam dari kelompok awam. Istilah ulama bari atau selamaq atau selamaq ekek, adalah sebutan untuk ulama-ulama atau orang yang disebut ulama tetapi perbuatannya tidak sesuai dengan perkataannya atau tidak sesuai dengan isi dakwahnya. Kata ulama bari, dalam bahasa Sasak berarti ulama seperti nasi basi. Demikian pula salamaq atau selamaq ekek adalah jenis penyakit eksim yang sangat mengganggu atau jijik. Ungkapan Sasak yang sederhana tapi tajam sebagai reaksi atas pengalaman masyarakat selama beratus ratus tahun. Ungkapan itu tidak lahir seketika, melainkan melalui proses pengalaman panjang masyarakat untuk menilai para ulama. Ada beberapa ulama yang keluar masuk pintu para pejabat, ada para ulama yang setelah berhubungan dengan para pejabat berubah gaya hidupnya, dari hidup sederhana menjadi kelompok hedonis. Mungkin kelompok ini yang dimaksud ungkapan Sasak tersebut.

Kelompok ulama kita yang baik, yang tetap di garis keulamaannya, terus memajukan pondok pesantrennya, menjaga netralitas, hidup sederhana sebagai ciri keulamaan, masih banyak dan terus hidup di tengah kita, di tengah masyarakat yang bergelora ditengah ancaman keduniawian yang membara. Masyarakat yang terlena dengan gelombang perubahan tersebut, seyogianya para ulama menjadi benteng terakhir yang member harapan bagi kita semua. Semoga!!!

MOH. ALI BD

Menampilkan lebih banyak

Artikel terkait

Tinggalkan Balasan

Close
Close